Menilik Sejarah dan Potensi Gempa Megathrust di Sukabumi
Ilustrasi gempa Sukabumi. (Twitter @BMKG)

Solopos.com, SOLO– Potensi gempa megathrust dengan magnitudo 8,7 kemungkinan bisa terjadi Sukabumi. Menurut hasil kajian BMKG wilayah pesisir Sukabumi secara tektonik berhadapan dengan zona megathrust Samudera Hindia. Zona itu memiliki subduksi lempeng aktif yang memiliki aktivitas kegempaan tinggi.

Tapi fakta dari kajian tesebut bukan merupakan prediksi waktu kapan akan terjadi gempa, tegas Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Rahmat Triyono.

Hasil kajian BMKG yang dilakukan pada 2011 menunjukkan bahwa zona megathrust Selatan Sukabumi memiliki magnitudo gempa tertarget yaitu M 8,7. Kajian potensi bahaya sangat penting dilakukan untuk tujuan mitigasi dan pengurangan risiko bencana, bukan untuk menakut-nakuti masyarakat, kata Rahmat seperti dilansir Antaranews, Sabtu (7/3/2020).

Menurutnya, kajian potensi dilakukan agar pemerintah daerah dapat menyiapkan upaya mitigasi secara tepat dalam bentuk mitagasi struktural yaitu secara teknis atau non-teknis seperti pendekatan kultural.

Tidak Asing

Menurut Rahmat, gempa bukan sesuatu yang asing di daerah Selatan Jawa Barat dan Banten. Dengan catatan sejarah menunjukkan terjadi gempa kuat M 8,5 pada 22 Januari 1780, gempa M 8,1 pada 27 Februari 1903, dan 17 Juli 2006 dengan kekuatan M 7,8.

BMKG sudah melakukan pemodelan peta tingkat guncangan gempa (shakemap) dengan skenario gempa M 8,7 di zona megathrust. Shakemap itu menunjukkan dampak gempa di Sukabumi dapat mencapai skala intensitas VIII-IX MMI yang artinya dapat merusak bangunan.

Jika dimasukkan dalam model tsunami dengan skenario tersebut maka di wilayah Pantai Sukabumi diperkirakan adanya potensi mengalami status “Awas” dengan ketinggian tsunami berada di atas 3 meter.

PPh 21 Ditiadakan, Gaji 6 Bulan Bakal Bebas Potongan Pajak

Bukan Prediksi

Hal penting yang harus dipahami oleh masyarakat bahwa besarnya magnitudo M 8,7 tersebut potensi hasil kajian dan bukan prediksi. Meskipun kajian ilmiah mampu menentukan potensi magnitudo di zona megathrust, akan tetapi hingga saat ini teknologi belum mampu memprediksi dengan tepat dan akurat kapan gempa akan terjadi, tegas Rahmat.

Karena itu BMKG meminta agar pemerintah mempertimbangkan peta rawan bencana dalam penataan ruang dan wilayah, termasuk wilayah pesisir yang aman dari tsunami. Selain itu perlu adanya upaya serius untuk memperkuat penerapan syarat pembangunan dengan struktur bangunan tahan gempa.

Sosialisasi harus dikuatkan untuk membuat masyarakat lebih siap menghadapi bencana seperti memahami cara penyelamatan saat terjadi gempa dan tsunami. Selain itu, jalur evakuasi dan shelter penyelamatan perlu juga dipersiapkan.

Tsunami

Yang mengkhawatirkan, zona mematikan tersebut ternyata sudah ada di Indonesia sejak jutaan tahun silam. Sebagai area berpotensi gempa, dikhawatirkan sejumlah wilayah dapat memicu gempa bumi dengan skala yang cukup besar.

Gempa megathrust ini sangat menakutkan bagi umat manusia karena mempunyai ukuran magnitudo besar yang getarannya sanggup memicu gelombang tsunami untuk naik ke daratan. Meski demikian, data di lapangan menunjukan gempa yang terjadi di wilayah Megathrust merupakan jenis getaran kecil dengan kekuatan kurang dari 5,0.

Menurut penelitian ilmiah yang dilakukan oleh Pusat Studi Gempa Nasional (PUSGEN) 2017, ada sekitar 16 titik gempa megathrust yang tersebar di sejumlah kota-kota besar. Di antaranya adalah Aceh-Andaman, Nias-Simeulue, Kepulauan Batu, Mentawai-Siberut, Mentawai–Pagai, Enggano, dan Selat Sunda Banten. Selain itu juga Selatan Jawa Barat, Selatan Jawa Tengah-Jawa Timur, Selatan Bali, Selatan NTB, dan Selatan NTT. Lokasi lain adalah Laut Banda Selatan, Laut Banda Utara, Utara Sulawesi, dan Subduksi Lempeng Laut Pilipina.

Penerimaan Bintara Polri 2020 Dibuka, Gajinya Setara PNS

Sejarah Gempa

Tercatat Pulau Jawa merupakan zona merah yang rawan terjadinya gempa besar ini. Berdasarkan sejarah dan hasil penelitian, bagian selatan pulau Jawa sedikitnya terjadi empat kali. Pada  1780  terjadi gempa 8.5 SR, padad 1930 di Selatan Banten (8.1 SR), pada 1994 di Banyuwangi (7,6 SR), dan pada 2006 di Pangandaran (7.8 SR). Khusus Jakarta dan sekitarnya, ada tiga sumber gempa yang akan dirasakan oleh warga ibu kota.

Dua diantaranya berpusat di zona Megathrust yaitu Selat Sunda dan Selatan Jawa Barat. Satu sumber lainnya tidak berada di kedalaman laut melainkan di daratan yakni sesar Baribis, Lembang dan Cimandiri. Sesar sendiri merupakan patahan pada tanah berukuran besar di kerak bumi yang bergeser karena gerakan bebatuan.

Karena dampak yang ditimbulkan sangat fatal, ada beberapa cara yang bisa dilakukan agar terhindar dari bencana tersebut. Selain berkoordinasi antar lembaga seperti BMKG dan pihak terkait, masyarakat juga harus bersiap sedia dengan peralatan penunjang semisal kotak P3K dan perahu karet untuk kondisi darurat.

Terutama bagi mereka yang tinggal di pesisir pantai. Berdoa dan berpasrah diri kepada kehendak Tuhan, juga bisa menghindarkan kita dari amukan bencana alam itu.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho