Menikmati Kriya Seni Berbasis Tradisi Karya Mahasiswa ISI Solo
Pengunjung melihat-lihat pameran Jurusan Kriya, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD), Institut Seni Indonesia (ISI) Solo bertajuk Nata Niti Natas #9 di Galeri Kampus II ISI Solo, Senin (21/1/2019) siang. (Solopos-Ika Yuniati)

Solopos.com, SOLO - Galeri Seni Rupa Kampus II Institut Seni Indonesia (ISI) Solo penuh dengan jejeran karya mahasiswa Jurusan Kriya, Senin (21/1/2018). Sketsa rupa dipajang rapi pada sketsel pameran dan dinding ruangan berlatar putih dekat pintu masuk. Beberapa benda tiga dimensi diletakkan di atas pustek tinggi berwarna cokelat muda.

Pada sudut yang lain, penonton dipameri ukiran bercorak lama yang terinspirasi dari ornamen Kerajaan Mataram, dan Pajajaran. Disusul lembaran batik lawasan seperti kawung dan parang yang diletakkan memanjang pada partisi berbahan kayu. Peserta pameran juga menampilkan keris gaya konvensional yang digarap apik versi milenial.

“Pameran ini sebagai bentuk pertanggungjawaban akademik kepada masyarakat sekaligus ajang publikasi karya mahasiswa agar lebih mengenal keberagaman seni kriya, khususnya kriya berbasis budaya tradisi Indonesia,” kata Ketua Panitia Yusuf Robani, saat berbincang dengan Solopos.com di sela-sela acara.

Mengusung tema Karya Tata ing Kriya, pameran Nata Niti Natas #9 Jurusan Kriya, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) yang digelar setiap akhir semester ini menampilkan sedikitnya 500 karya mahasiswa semester I hingga VII. Pengunjung bisa melihat-lihat ratusan produk kriya seni yang merupakan hasil terjemahan mereka tentang kejayaan budaya dan tradisi lama. Medianya beragam, mulai dari kayu, kulit, logam, keramik, keris, dan seni ornamen.

Mahasiswa Semester III Program Studi (Prodi) Keris, Ken Rauf, menunjukkan garapannya yang dipajang di salah satu etalase berbentuk almari dekat pintu keluar. Keris dengan dapur pasopati, pamor bonang rinenteng tersebut merupakan garapan ketiganya selama kuliah di kampus ISI. Ken menyelesaikannya dalam waktu enam bulan. “Karena ini ada kaitannya dengan mata kuliah ya, jadi enam bulan. Kalau di luar itu, bisa kok menggarap kurang dari satu semester,” kata dia.

Ken yang mempelajari berbagai jenis senjata tradisional sejak masih duduk di bangku sekolah ini menggarap keris dengan gaya konvensional sesuai pakem. Lewat karyanya, ia ingin menepis stigma seni tradisi yang tak ramah anak muda.

Menurutnya, kepiawaian membuat keris justru peluang besar di era industri kreatif. Ketika semua orang hiatus dengan budaya luar, ia punya keyakinan pemuda Indonesia bisa menjadi terdepan dengan menawarkan keunikan nilai tradisi yang dimiliki. Bahkan Ken berencana membuat karya kolaboratif yang merupakan gabungan antara senjata lokal dan negara lain seperti Jepang.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom