Seorang penikmat kopi lelet, Erwin, tengah meracik ampas kopi untuk di-lelet-kan atau dilumurkan ke sebatang rokok di sebuah kedai kopi di Rembang, Jawa Tengah, Sabtu (27/7/2019). (Semarangpos.com-Imam Yuda S.)

Semarangpos.com, SEMARANG — Kata "lelet" memiliki konotasi lamban atau bermalas-malasan. Konotasi ini pulalah yang membuat sebagian orang awam mengira kopi lelet khas daerah Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah (Jateng) akan memberikan efek malas kepada orang yang meminumnya.

Namun apa yang dikhawatirkan sebagian orang itu rupanya tidak seperti kenyataan. Kopi lelet yang sering disajikan di warung-warung kopi di Rembang itu tak membuat peminumnya menjadi lamban atau pun malas beraktivitas.

“Lelet itu berasal dari kebiasaan orang yang menggunakan ampas kopinya untuk dilumurkan di batang rokok. Tujuannya supaya rokok yang dihisap jadi lebih mantap [berat]. Kadang di Rembang kegiatan ini juga sering disebut mbolot,” ujar salah seorang penikmat Kopi Lelet, Erwin, kepada Semarangpos.com di sebuah kedai kopi di Desa Criwik, Kecamatan Pancur, Kabupaten Rembang, Sabtu (27/7/2019).

Erwin menyebutkan sebelum melumurkan ke rokok, biasanya orang mencampurkan ampas kopi dengan susu kental maupun gula. Hal itu dilakukan agar kelekatan ampas kopi dengan media yang dilumurkan bertahan lebih lama.

“Ampas kopinya dituang ke tatakan, kemudian dicampur susu kental. Boleh juga dicampur sama gula dan parutan kelapa. Kemudian diaduk-aduk. Baru dileletkan,” jelas Farid, rekan Erwin.

Farid menambahkan kebiasaan melumurkan ampas kopi ke rokok itu dilakukan setelah kopi habis diminum. Bahkan ada pula orang yang sebelum melumurkan kopi membungkus rokok dengan benang.

“Setelah dilumurkan, baru benangnya dilepas. Biar lumuran ampas kopinya merata,” ujarnya.

kopi lelet. (Semarangpos.com-Imam Yuda S.)

Sementara itu, pemilik kedai kopi lelet, Yudi Suyadi, mengatakan kopi lelet sudah sangat memasyarakat di Rembang. Tak hanya karena memiliki keunikan ampasnya bisa dibikin untuk membatik atau melukis, tapi juga karena rasanya yang khas.

“Kata orang-orang sih rasanya mantap. Kopinya lebih terasa dan pekat. Enggak seperti kopi sasetan yang biasa dijual di toko-toko. Makanya kalau di Rembang orang-orang enggak mau kopi sasetan. Maunya kopi lelet,” ujar Yudi.

Penyajian kopi ini pun, lanjut Yudi, berbeda dengan kopi kebanyakan. Pertama kopi dan gula dimasukkan ke dalam panci. Setelah itu, kopi dan gula tadi dituangi air panas.

“Setelah dituang air panas itu, kopinya tidak langsung disajikan. Adonan kopi tadi masih harus dimasak lagi sampai benar-benar mendidih. Setelah itu, baru disajikan,” tutur Yudi.

Yudi mengaku mendapat pasokan kopi lelet dari pedagang asal Lasem. Biasanya, pedagang itu datang setiap dua hari sekali.

“Kopi yang dijual itu hasil buatan sendiri. Diracik melalui beberapa kali proses penyulingan jadi benar-benar lembut,” imbuhnya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten