Khoiri tengah meracik gulai Bustaman di warungnya yang terletak di kawasan Kota Lama, Semarang, Senin (12/8/2019). (Semarangpos.com-Imam Yuda S.)

Solopos.com, SEMARANG — Perayaan hari raya Iduladha di Tanah Air selalu ditandai dengan pembagian daging kambing maupun sapi. Warga yang mendapat jatah daging hewan kurban itu pun lantas berusaha mengolahnya menjadi masakan yang enak untu disantap.

Ada yang mengolahnya menjadi sate, gulai, tongseng, maupun rendang. Namun, di Kota Semarang ada satu kuliner daging kambing yang khas. Kuliner daging kambing itu tak lain adalah Gule Bustaman.

Semarangpos.com berkesempatan mencicipi gulai khas Kota Semarang ini di Warung Gule Bustaman Pak Sabar yang terletak di kawasan Kota Lama, Senin (12/8/2019).

Sepintas tak ada yang membedakan antara Gule Bustaman dengan masakan gulai kambing pada umumnya. Di Gule Bustaman juga terdapat kuah yang kaya rempah dan berwarna kuning yang merupakan sari dari kunyit.

Hanya saja, jika masakan gulai kambing kebanyakan menggunakan santan, gulai khas Bustaman tidak. Sebagai ganti santan, gulai khas Kota Semarang itu menggunakan minyak kelapa yang dihasilkan dari parutan kelapa yang telah digoreng atau srundeng.

“Yang membedakan gulai Bustaman dengan gulai kebanyakan ya itu! Kita tidak menggunakan santan, tapi rempah-rempah khas Arab, seperti kapulaga, kayu manis, jintan, dan srundeng. Itu yang membuat rasanya tetap gurih, meski tidak menggunakan santan,” ujar pedagang Warung Gule Bustaman Pak Sabar, Khoiri, saat berbincang dengan Semarangpos.com.

Khoiri mengatakan ada banyak keunggulan resep gulai Bustaman dibanding gulai lainnya karena tidak menggunakan santan. Selain tahan lebih lama, gulai buatannya juga lebih higienis.

“Kan santan itu kandungan lemaknya tinggi. Kalau dimakan sama daging kambing, kadar lemaknya jadi tinggi sekali. Kalau ini kan enggak pakai santan, jadi lemaknya tidak terlalu banyak,” tutur Khoiri.

Gule Bustaman. (Imam Yuda S.-Semarangpos.com)

Khoiri merupakan keponakan Pak Sabar yang merupakan pemilik warung. Ia merupakan generasi kelima dari penjual gulai Bustaman.

“Dulu ya memulai kakek saya. Dulu jualannya dipikul dan keliling di kawasan Kota Lama, bahkan sampai Lamper. Namun, sejak 1970-an, keluarga kami banyak bermukim di Kota Lama,” ujar Khoiri.

Khoiri menambahkan resep gulai Bustaman diperoleh secara turun temurun. Bustaman merupakan sebuah kampung yang ada di Semarang.

Kampung Bustaman dulunya terkenal sebagai pusat pemotongan dan pengolahan daging kambing. Seiring berjalannya waktu, kampung itu memiliki racikan bumbu untuk membuat gulai.

“Jadi resepnya itu perpaduan antara Jawa dengan Arab yang diwariskan orang-orang Koja [Gujarat] yang datang dan singgah ke Semarang. Orang keturunan Koja kan banyak yang tinggal di Pekojan [nama kampung di Semarang],” tutur Khoiri.

Nah, penasaran untuk menikmati Gule Bustaman? Anda bisa datang ke Warung Gule Bustaman Pak Sabar yang berada tepat di belakang Gedung Oudetrap Kota Lama Semarang. Gulai khas Semarang ini seporsinya dibanderol Rp30.000.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten