Syirin (kiri) tengah memasak bubur India untuk dihidangkan saat buka puasa di Masjid Pekojan, Semarang, Kamis (17/5/2018). (Solopos/Imam Yuda S.)

Semarangpos.com, SEMARANG – Ahmad Ali tak bisa menyembunyikan rasa pedih di mata karena terpaan asap dari tungku yang ada di depannya. Sesekali ia mengusap matanya yang tampak berkaca-kaca.

Meski demikian, pria berusia 53 tahun itu terus mengaduk kuali yang ada di atas tungku tersebut. Jika adukannya berhenti, maka kenikmatan bubur India yang tengah dimasaknya pun akan berkurang.

“Harus diaduk terus selama satu jam. Enggak boleh berhenti supaya bumbunya meresap,” ujar Ali saat dijumpai Semarangpos.com di samping Masjid Pekojan, Petolongan, Semarang, Kamis (18/5/2018).

Ali mengatakan bubur India itu dibuat untuk hidangan buka puasa. Bubur India itu nantinya dibagikan kepada para jamaah Masjid Pekojan maupun warga yang membutuhkan sebagai hidangan buka puasa.

“Ini sudah menjadi tradisi selama ratusan tahun. Setiap bulan suci Ramadan di masjid ini selalu dihidangkan bubur India untuk buka puasa. Sudah jadi kuliner wajib saat Ramadan,” terang Ali.

Bubur India, lanjut Ali, memang dibuat hanya saat bulan Ramadan. Awalnya, bubur India ini diperkenalkan para pedagang asal India yang singgah di Masjid Pekojan untuk berdagang di kawasan Pasar Johar.

Para pedagang India yang menetap di kampung tersebut pun lantas mewariskan resep bubur India kepada anak cucunya. Ali merupakan generasi keempat pembuat bubur India meneruskan tradisi itu.

Berbagi dengan sesama

“Ada rasa bangga saat membuatnya. Apalagi dibuat setahun sekali saat bulan suci puasa. Selain itu, bubur ini dibagikan kepada warga yang membutuhkan. Seperti berbagi kebahagiaan kepada sesama saat bulan puasa,” ujar Ali.

Ali mengaku untuk membuat bubur India tidaklah sulit. Hanya dibutuhkan kesabaran karena perlu waktu tiga jam lebih untuk memasaknya.

Selama tiga jam itu, ada saat-saat krusial dalam memasak, yakni satu jam pertama adukan bubur tidak boleh berhenti.

“Satu jam pertama itu waktu untuk mencampur bumbu dan beras. Jadi adukannya tidak boleh berhenti,” terang Ali.

Ali mengaku yang membedakan bubur India dengan bubur kebanyakan adalah bumbunya. Bumbu-bumbu bubur India berasal dari campuran berbagai rempah, seperti bawang merah, bawang putih, serai, manis jangan atau kayu manis, daun salam, wortel, santan cair maupun santan kental.

Salah seorang jemaah Masjid Pekojan, Fariz Fardianto, mengaku tidak bosan menyantap kuliner khas Masjid Pekojan itu setiap buka puasa. Ia menilai bubur India sangat nikmat disantap setelah seharian berpuasa.

“Ada campuran kayu manis dan daun serainya. Bikin perut tidak enek. Apalagi, di sini juga disajikan aneka sayur sebagai pelengkap hidangan bubur India,” ujar pria yang mengaku tinggal di Jl. Layur, Dadapsari, Semarang itu.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten