SOLOPOS.COM - Ilustrasi investasi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi (freepik.com)

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada awal 2024 menunjukkan optimisme, yaitu tumbuh 5,11%. Yang harus menjadi catatan adalah pertumbuhan ekonomi ini belum stabil dan belum cukup berkualitas.

Kinerja ekonomi—secara makro—lebih banyak tertolong oleh faktor musiman, bukan karena sektor utama yang kukuh. Ini memang pencapaian pertumbuhan ekonomi tertinggi pada triwulan I dalam sembilan tahun terakhir atau sejak 2015.

Promosi Jaga Jaringan, Telkom Punya Squad Khusus dan Tools Jenius

Perekonomian Indonesia masih menghadapi tantangan serius yang membutuhkan kewaspadaan dan mitigasi. Penciptaan lapangan kerja belum cukup masif. Mayoritas penduduk bekerja di sektor informal.

Aktivitas ekonomi yang menopang pertumbuhan ekonomi pada awal 2024 ini umumnya bersifat musiman dan temporer, antara lain, pemilihan umum dan peningkatan konsumsi karena Ramadan dan Lebaran.

Dua peristiwa musiman itu memang meningkatkan belanja. Tentu ini bukan struktur yang kukuh untuk pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Kontribusi faktor musiman itu tampak jelas dari sisi pengeluaran maupun lapangan usaha.

Kinerja sektor utama yang berkontribusi besar terhadap ekonomi Indonesia justru hanya dalam kategori moderat, bahkan terkontraksi 0,83%. Industri pengolahan hanya tumbuh 4,3%, perdagangan hanya tumbuh 4,58%, sedangkan pertanian justru terkontraksi -3,54%.

Kontraksi di sektor pertanian disebabkan penurunan produksi komoditas pangan—termasuk beras—karena terdampak El Nino. Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi pada 2024.

Tantangan itu adalah kenaikan suku bunga acuan yang diprediksi berlanjut karena inflasi inti yang masih tinggi; depresiasi rupiah masih terjadi karena permintaan aset-aset berdenominasi dolar Amerik Serikat masih tinggi; capital outflow masih tinggi hingga akhir tahun karena risiko politik dan kebijakan The Fed; tantangan menjaga rupiah dipengaruhi cadangan devisa yang berkurang karena kinerja ekspor yang melambat; dan investor masih wait and see karena pemilu dan pergantian rezim.

Meningkatkan daya beli masyarakat, terutama kelas menengah, adalah salah satu jalan yang harus ditempuh pemerintah demi menguatkan struktur pertumbuhan ekonomi. Sejauh ini upaya yang ditempuh dengan penyaluran bantuan sosial dan menaikkan gaji aparatur sipil negara belum berdampak signifikan.

Realitas konsumsi masyarakat tak ”tertolong” oleh faktor-faktor musiman menunjukkan ada masalah mendasar pada daya beli masyarakat. Kalau daya beli masyarakat baik-baik saja, pertumbuhan ekonomi pada awal 2024 ini seharusnya lebih dari 5,11%.

Berbasis realitas itu, butuh kebijakan yang tidak biasa-biasa saja untuk mengungkit daya beli masyarakat. Proyeksi ke depan menunjukkan tekanan terhadap daya beli kelas menengah akan makin berat.

Cara-cara biasa seperti pembagian bantuan sosial atau menaikkan gaji aparatur sipil negara tidak akan efektif. Tekanan terhadap daya beli yang makin besar akan berdampak pertumbuhan ekonomi tidak berkelanjutan. Butuh insentif—kebijakan—yang tepat sasaran agar pertumbuhan ekonomi selanjutnya bisa lebih dari 5,2%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Solopos.com di Saluran WhatsApp dengan klik Soloposcom dan Grup Telegram "Solopos.com Berita Terkini" Klik link ini.
Solopos Stories
Honda Motor Jateng
Honda Motor Jateng
Rekomendasi
Berita Lainnya