Mengintip Cara Kerja Ventilator, Alkes Utama bagi Pasien Corona Parah
Petugas kesehatan memeriksa alat kesehatan di ruang IGD Rumah Sakit Darurat Penanganan Covid-19 Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Senin (23/3/2020). (Antara/Hafidz Mubarak A.)

Solopos.com, SOLO -- Ventilator merupakan salah satu alat kesehatan (alkes) penting dalam penanganan pasien virus corona atau Covid-19 yang kondisinya parah.

Di Indonesia hanya ada sekitar 8.400 unit ventilator yang tersebar di 2.870 rumah sakit. Jika wabah corona berjangkit berkepanjangan, diperkirakan akan ada kebutuhan sampai 70.000 unit ventilator.

Sebagaimana dikutip dari laman indonesia.go.id, Sabtu (11/4/2020), kegunaan ventilator ini pada intinya ialah meniupkan udara ke paru pasien melalui pipa halus yang menyusup lewat kerongkongan.

Alat ini sekaligus mengisap keluar karbon dioksida (CO2) yang keluar dari paru. Organ paru pada dasarnya adalah jaringan berisi pembuluh kapiler yang pada ujungnya organ kecil berupa seperti balon yang disebut alveoli.

Pakai Kamera di Dalam Layar, Samsung S21 Bakal Tanpa Tompel & Poni?

Ada dua set pembuluh darah di situ. Ada yang membawa darah kotor dari seluruh penjuru badan dan melepaskan CO2 lewat alveoli. Di saat yang bersamaan, alveoli menangkap oksigen baru untuk dibawa ke seluruh badan guna menggerakkan metabolisme.

Dalam keadaan normal, sistem pernapasan manusia memasukkan udara segar pembawa oksigen melalui hidung ke paru, dan hidung juga menghembuskan CO2 yang dikeluarkan paru.

Pada pasien corona yang parah, organ paru itu diselimuti selaput lendir yang terbuat dari koloni virus. Kabut lendir seperti itu sering muncul pada penderita radang paru pneumonia (bronkhitis) akibat infeksi oleh antara lain bakteri Streptococcus pneumoniae. Dalam keadaan kronis, penderita akan merasa sesak napas.

Pada kasus pasien corona, gejala sesak napas tak bisa dianggap enteng. Pada pasien yang punya bawaan penyakit gula, jantung, lever, ginjal, kekurangan oksigen itu bisa berakibat buruk, bahkan bisa mendatangkan efek kematian.

Bingung, BMKG Masih Cari Sumber Dentuman yang Terdengar di Jabodetabek

Ventilator menjadi solusi bagi pasien corona yang parah. Tiupan udara yang digerakkan mesin itu bisa menyibak selaput virus dan membuka alveoli untuk bekerja.

Ia menangkap oksigen, sekaligus mengembuskan CO2. Jadi, ventilator bekerja laiknya helaan napas. Ada saatnya ia mempompakan udara, dan ada saatnya pula ia membuang gas residu dari paru. Pasien Covid-19 kadang memerlukan bantuan ventilator sampai 3 hingga 4 hari.

Laris Selama Pandemi Corona

Selama pandemi corona, ventilator menjadi barang langka karena banyak pasien yang membutuhkan alat ini. Dengan harga antara US$25.000 -US$50.0000(sekitar Rp375 juta-Rp750 juta), ventilator dengan segala merek laris terjual seperti kacang goreng.

RS-RS di New York, London, Paris, dan di banyak kota lainnya, mengaku kekurangan ventilator karena membeludaknya pasien corona.

Menteri Riset/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Brojonegoro ingin Indonesia memproduksi ventilator dalam jumlah besar demi mencukupi kebutuhan dalam negeri.

Sejumlah prototipe telah dihasilkan tim peneliti lintas disiplin yang bekerja di bawah koordinasi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).
Desain dasarnya diambil dari open source di Eropa, dengan penyesuaian di sana sini, antara lain, menyesuaikan dengan material yang tersedia di Indonesia. Kini piranti medis itu sedang disiapkan untuk menjalani uji coba.

Gejala Awal Kanker yang Sering Diabaikan, Apa Saja?

Bambang yakin piranti itu akan meraih sertifikat dari Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan (BPFK), badan sertifikasi di bawah Kementerian Kesehatan.

Jika semuanya lancar, dalam waktu dua pekan lagi, ventilator itu bisa diproduksi secara massal sebagai antisipasi bila pasien corona yang paranh terus bertambah.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho