Pegawai Rumah Sakit Umum Pusat Soeradji Tirtonegoro (RSST) Klaten, Desa Tegalyoso, Kecamatan Klaten Selatan menerbangkan balon seusai mengikuti upacara guna memperingati HUT ke-91 RSST di halaman rumah sakit setempat, Kamis (20/12/2018).(Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)

Solopos.com, KLATEN – Pegawai Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dr. Soeradji Tirtonegoro (RSST) Klaten berkumpul di halaman rumah sakit setempat, Kamis (20/12/2018). Mereka berbaris hingga membentuk persegi empat mengelilingi tiang bendera.

Pagi itu, para direksi hingga pegawai mengikuti upacara memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-91 RSST, Desa Tegalyoso, Kecamatan Klaten Selatan. Menjadi hari spesial, upacara kali ini tak digelar seperti biasa. Baju perawat dan dokter yang biasa dikenakan petugas medis dan paramedis selama bertugas sejenak ditanggalkan berganti dengan pakaian adat. Begitu pula dengan pegawai lainnya yang mengenakan berbagai pakaian adat seperti kebaya, surjan, hingga beskap.

Tak terkecuali Sri Suparti, 54, pegawai asal Desa Meger, Kecamatan Ceper. Sejak pukul 06.15 WIB, Kabid Keperawatan itu sudah mengenakan kebaya. “Sudah biasa kalau berdandan seperti ini,” kata dia saat ditemui Solopos.com seusai upacara.

Sri Suparti menjadi salah satu karyawan yang mendapat penghargaan dari direksi saat upacara digelar. Ia merupakan salah satu pegawai dengan masa kerja paling lama yakni 30 tahun. “Bervariasi pengalamannya selama 30 tahun di RSST. Sukanya itu ketika melihat pasien sembuh dan bisa pulang. Harapan saya ke depan pelayanan bisa semakin baik dan pasien lebih puas lagi,” kata Suparti.

Direktur Utama RSST, Endang Widyaswati, mengatakan berbagai hal dialami rumah sakit yang sudah berdiri sejak masa kolonial tersebut. Kondisi itu seperti perubahan nama rumah sakit yang awalnya bernama dr. Scheurer Hospital hingga kini bernama RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro. “Berbagai pertimbangan akreditasi juga sudah mewarnai RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro melalui pengembangan yang dilakukan dengan munculnya produk-produk pengelolaan yang baru,” kata Endang.

Soal cita-cita, Endang menargetkan RSST pada 2019 menjadi rumah sakit pusat rujukan nasional ramah lansia. Selain itu, RSST ditargetkan bisa mengembangkan pelayanan kedokteran olahraga. “Target kami pada 2020 hingga 2024 mendatang mengembangkan kedoteran olahraga dengan berbagai macam aspeknya. Kebetulan kami memiliki sumber daya berkaitan dengan itu dan saat ini dibutuhkan masyarakat. Mudah-mudahan ini menjadi salah satu peluang kami,” kata Endang.

Soal pelayanan, Endang menjelaskan perbaikan pelayanan dilakukan salah satunya melalui survei kepuasan sekali dalam satu semester. Pada semester I 2019, hasil survei menyatakan 80 persen pasien puas.

Selain survei , RSST belum lama ini merampungkan pembangunan gedung berlantai lima. Gedung itu dimanfaatkan untuk Intalasi Rawat Jalan Terpadu. Seluruh poliklinik mulai dipindahkan ke gedung tersebut yang sudah dimanfaatkan sejak 19 November lalu. Pembangunan gedung menelan anggaran sekitar Rp72,7 miliar.

Pembangunan gedung ini menyikapi hasil survei kepuasan pada 2015. Kondisi ruang rawat jalan yang lama itu sebenarnya untuk 200-300 pengunjung. Namun, akhir-akhir ini pengunjung bisa mencapai 1.100 orang. Sebenarnya alternatif lain sudah pernah kami lakukan seperti pendaftaran online untuk mengurai menumpuknya orang yang mendaftar,” tutur dia.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten