Menghilang dari Jagat Hiburan, Begini Kabar Suji Mentir Sang Ledek Tayub Legendaris Asal Sragen
Kondisi Sujiati Mentir (tengah), ledek tayub legendaris dari Sragen terbaring lemas di rumahnya di Dukuh/Desa Tegalrejo, Gondang, Sragen, Selasa (12/1/2021). (Istimewa/Andi)

Solopos.com, SRAGEN--Bagi warga asli Sragen yang berusia di atas 40 tahun barangkali tidak asing dengan Sujiati. Dia adalah pesinden tayub bersuara emas kenamaan di Bumi Sukowati.

Wanita yang kini berusia 75 tahun ini lebih dikenal dengan sebutan Suji Mentir. Mentir merupakan nama salah satu dukuh di Kecamatan Ngrampal, Sragen. Sujiati sendiri pernah membina rumah tangga dengan sosok penabuh kendang asal Mentir. Setelah suaminya meninggal dunia, nama Mentir masih melekat pada sinden yang masih satu angkatan dengan Sunyahni dan Lasmi dari Grobogan itu.

Selain dikenal sebagai ledek tayub, Suji Mentir juga kerap mengiringi pementasan dengan sejumlah dalang kenamaan seperti Ki Purbo Asmoro, Ki Manteb Sudarsono, Ki Anom Suroto dan lain-lain. Akan tetapi, posisi Suji Mentir pada saat itu bukan sebagai sinden utama, tetapi sinden panggilan untuk menggantikan sinden utama yang berhalangan hadir.

Lirik Lagu Wes Tatas - Happy Asmara

Di kalangan warga Sragen, Suji Mentir lebih dikenal sebagai ledek tayub. Suaranya ya khas dengan tarian yang gemulai membuat Suji Mentir memiliki banyak penggemar. Tidak heran, Suji Mentir muda banyak diundang untuk memeriahkan acara hajatan yang digelar warga di Bumi Sukowati dan sekitarnya.

“Kalau saya dengar komentar dari para penggemarnya, suara Bu Suji Mentir itu khas, unik dan klasik. Saking khasnya, suaranya tergolong sulit untuk ditirukan oleh sinden lain,” ujar Marsudi, 45, keponakan Suji Mentir, kepada Solopos.com, Rabu (13/1/2021).

Faktor usia menjadi alasan Suji Mentir mengurangi aktivitasnya di panggung hiburan tradisional. Kali terakhir ia mengisi pentas tayub sekitar 10 tahun lalu. Ia merasa harus menyudahi dunia hiburan tradisional yang telah melambungkan namanya.

Pecas Ndahe Pentas, Tawa Lepas di Balik ‘Jeruji’ Pandemi

Mengasingkan Diri

Di sebuah rumah sederhana di RT 10, Dukuh Tegalrejo, Desa Tegalrejo,  Kecamatan Gondang, Sragen, Suji Mentir "mengasingkan" diri. Di rumah itu terdapat sejumlah penghargaan yang diraihnya selama menekuni dunia kesenian tradisional. Rumah itu menjadi tempat ia menghabiskan waktu di usia senjanya.

Ia ditemani anak angkat yang dibawa oleh suami ketiganya yang kini telah meninggal dunia. Suji Mentir sendiri tidak dikaruniai anak meski sudah tiga kali membina rumah tangga dengan tiga suami berbeda.

“Dalam beberapa tahun terakhir, Bu Suji kerap sakit-sakitan. Pernah sakit gula, terus sembuh lagi. Sudah sebulan terakhir ia jatuh sakit dan sempat menjalani perawatan di RSUD [dr. Soehadi Prijonegoro] Sragen. Sepulang dari rumah sakit, kondisinya belum membaik. Bahkan, dalam sepekan ini ia hanya terbaring lemas di rumahnya,” papar Marsudi.

Keren, Kelompok Gamelan dari Wonogiri Tampil di Pekan Budaya Tiongkok-ASEAN

Kini, Suji Mentir tidak bisa banyak bergerak. Hari-harinya dihabiskan dengan berbaring di kasur. Untuk sekadar makan, ia harus disuapin anaknya. Bukan makan nasi, tapi bubur supaya lebih mudah ditelan. Ia sudah sulit diajak berkomunikasi. Namun, ia masih bisa merespons dengan sedikit obrolan.

“Kalau diajak ngobrol sebenarnya masih nyambung, tapi dengan sedikit terbata. Kondisi kesehatan Bu Suji saat ini memang memprihatinkan, terutama dalam sepekan terakhir,” terang Marsudi.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom