Tutup Iklan
Menghidupkan Kembali Generasi Pesepakbola Tionghoa di Solo, Mungkinkah?
Para pemain Persis Solo era akhir 1960-an berfoto di Balai Persis. Saat itu latar belakang pemain Persis bervariasi mulai etnis Jawa hingga Tionghoa. (Istimewa/Franz Setiabudi)

Solopos.com, SOLO — Sejarah persepakbolaan di Solo sempat diwarnai kiprah pesepakbola keturunan Tionghoa.

Medio tahun 1930-1940-an, etnis Tionghoa memiliki klub bernama Solosche Voetbal Bond (SVB) yang mengikuti sejumlah kompetisi bentukan Belanda. Para pemain Tionghoa kemudian berbondong-bondong membela Persis Solo setelah Belanda membubarkan kompetisi sekitar tahun 1950-an.

Nama-nama seperti Hong Widodo, Sie Kingtjong, Kwa Biek Tjong, Kok Bie, Liong Ho, Ek Gwan, Tjin Boen hingga Franz Setiabudi menjadi andalan Persis medio 1960-1970-an. Namun generasi pemain Tionghoa perlahan rontok satu persatu ketika memasuki tahun 1980-an.

1 Pejabat UNS Positif Covid-19 Bukan Peserta Acara Kemenparekraf di Hotel Solo

Praktis hanya Isnugroho sebagai pemain keturunan Tionghoa yang bermain bagi Persis Solo di periode itu. Sempat muncul nama Eduard Tjong yang tampil mengilap pada era 1990-an setelah membawa Arseto Solo menjuarai Piala Galatama 1992. Setelah itu hampir sulit mendengar kiprah pemain etnis Tionghoa di Solo dan sekitarnya.

“Anak-anak Tionghoa sekarang lebih tertarik main badminton atau basket. Ini karena sepak bola masih distigma olahraga yang rawan rusuh dan perilaku rasis. Dua hal itu seperti menjadi momok tersendiri, bahkan sampai saat ini,” ujar Franz “Wewek” Setiabudi saat dihubungi Solopos.com, Senin (20/7/2020).

Namun Wewek tak patah arang. Lelaki yang membela Persis Solo medio 1964-1976 itu terus menyemangati rekannya sesama Tionghoa agar mendukung anak-anaknya berkiprah menjadi pesepakbola.

Laga Ekshibisi

Terakhir Wewek berencana menggelar laga ekshibisi yang melibatkan eks pemain maupun pehobi bola keturunan Tionghoa. Mereka akan dikumpulkan pada Minggu (26/7/2020) di Lapangan Karangasem, Solo,untuk bertanding melawan tim setempat.

“Yang mantan pemain ada saya, Pak Hong [Widodo] dan Isnugroho. Lainnya karyawan dan pengusaha, rata-rata usianya 50 tahun ke atas. Sejauh ini sudah ada 10 orang yang siap hadir,” tutur lelaki yang masih rutin berlatih bola itu.

Ini daftar 32 Area Pemancingan Paling Top Markotop di WGM Wonogiri

Wewek menegaskan hasil akhir bukan menjadi tujuan dalam laga nanti, melainkan semangat yang ingin ditularkan pada generasi muda keturunan Tionghoa. Wewek menyebut kalangannya juga bisa sukses di sepak bola seperti halnya di dunia bulu tangkis maupun basket. “Laga ini menjadi perangsang untuk mengembalikan etnis Tionghoa ke sepak bola,” kata dia.

Legenda Persis Solo, Hong Widodo, mengatakan ada kebanggaan tersendiri ketika membela panji Persis di lapangan hijau. Hong sendiri sempat dipercaya sebagai kapten tahun 1974-1978.

“Sudah tidak memikirkan uang karena saat itu kami bisa bertanding melawan klub-klub dari luar negeri yang datang ke Solo,” ujarnya beberapa waktu lalu.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Pasang Baliho