Kategori: Solo

Mengenang Paseduluran di Gerbong Prameks Jelang KRL Beroperasi Rabu


Solopos.com/Harian Jogja/Bernadheta Dian Saraswati

Solopos.com, JOGJA -- Kereta Api Prambanan Ekspres atau KA Prameks berhenti melayani rute Solo-Jogja mulai Rabu (10/2/2021) dan akan digantikan Kereta Rel Listrik atau KRL.

Para pengguna KA Prameks mengenang bahwa di atas gerbong-gerbong KA Prameks mereka telah mengukir pasedurulan alias persahabatan yang erat.

Persahabatan yang diharapkan tak luntur meski KA Prameks akan digantikan KRL mulai Rabu besok. Pramekers mengaku di KA Prameks apapun bisa terjadi, termasuk bagi-bagi makanan.

Baca juga: Disambati Warga yang Kena Gusur PT KAI, Fraksi PDIP DPRD Solo Siap Perjuangkan

Aku sing nggowo peyek. Kowe nggowo opo?” [Aku yang bawa peyek, kamu bawa apa].

Aku sega” [Aku bawa nasi]. “Aku sayurane yo” [Aku sayurannya ya]. “Aku sambel pecele wae” [Aku sambal pecelnya].

Begitulah Tri Yuni Iswati, 49, menggambarkan keseruan para penumpang KA Prameks yang berencana membawa sarapan pecel. Makanan itu akan disantap bersama di atas sepur sembari menikmati perjalanan Jogja-Solo.

Baca juga: 15 Tahun Tak Pulang, TKW asal Sragen Dikabarkan Bunuh Diri di Arab Saudi

Tak Terlupakan

Bawa bekal makanan di atas KA Prameks adalah hal biasa. Maklum, rata-rata pelaju harus berangkat pagi dan belum sempat sarapan. Mereka pun membawa bekalnya ke dalam gerbong, menyantapnya, dan membagikan kepada penumpang lain.

Dosen Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta (UNS) yang tinggal di Depok, Sleman itu bercerita, di dalam gerbong KA Prameks, ada keseruan yang tak terlupakan, yang entah bisa ditemui atau tidak di KRL.

“Kita bisa bawa makanan dan makan bersama. Kita bisa duduk lesehan. Bisa kenal banyak orang,” tutur Yuni yang jadi pelanggan Prameks sejak 20 tahun lalu itu kepada Harian Jogja, Jumat (5/2/2021).

Baca juga: Rentan Terpapar Covid-19, Perkuat Perlindungan Tenaga Kesehatan

Rasa solidaritas bahkan tumbuh berkat KA yang akan digantikan KRL Solo-Jogja tersebut. Misalnya dari penumpang yang menawarkan diri untuk membantu membelikan tiket. “Ada yang mau dititipin untuk beli tiket jadwal paling pagi. Itu sangat membantu kami sekali,” kata Yuni.

Rasa kehilangan akan keseruan di atas gerbong KA Prameks itu pun muncul menjelang masa akhir kejayaan kereta yang beroperasi sejak 20 Mei 1994 itu. Terlebih peraturan di KRL Solo-Jogja melarang penumpang berbicara, apalagi makan dan minum, akan membuat keseruan makan bersama seperti di Prameks tak akan bisa dirasakan.

“Yang menjadi tidak enaknya [dari adanya KRL] adalah habit ngerumpi ramai-ramai kami [Pramekers] yang akan hilang. Kami kehilangan. Bukan badan keretanya, tetapi lebih ke aspek sosialnya,” tutur perempuan yang bergabung di komunitas Prameks Lovers itu.

Baca juga: Menteri PUPR Resmikan Flyover Purwosari Besok, Lalu Lintas Dibuka Pukul 12.00 WIB

Elis, pengguna KA Prameks dari Klaten, juga mengatakan bahwa penumpang Prameks yang hangat, ramah, dan rela menolong, akan selalu ia rindukan setelah digantikan KRL. “Saya ingat. Waktu saya hamil, saya diberi tempat duduk sama penumpang lain. Saya dibantu duduk waktu itu,” ungkapnya di Stasiun Maguwo.

Ketua Paguyuban Pramekers, Noor Harsya Aryo Samudro, 45, juga merasa kehilangan. Bagi dia, KA Prameks telah menciptakan kehidupan saka sepur dadi sedulur atau dari kereta menjadi saudara.

Pada satu sisi, pria yang menjadi staf pendidik di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta itu merespon baik hadirnya KRL di Jogja. “Adanya KRL sebenarnya sudah dijanjikan pemerintah sejak 2012. Kami menunggu delapan tahun lebih sehingga saat ini benar-benar ada. Seperti mimpi di siang bolong,” ungkapnya.

Share
Dipublikasikan oleh
Tika Sekar Arum