Ilustrasi imunisasi (freepik.com)

Solopos.com, SOLO - Imunisasi memang penting bagi kesehatan tubuh. Tidak ada salahnya Anda mengenal tipe dari vaksin. Tipe vaksin menurut Spesialis Penyakit Dalam di Rumah Sakit (RS) Kasih Ibu Solo, dr. Budi Baskara Sp.Pd., ada vaksin virus dan vaksin bakteri dengan klasifikasi vaksin hidup dan vaksin inaktif (dimatikan).

Penjelasannya, vaksin bakteri dengan klasifikasi vaksin hidup adalah BCG, dengan klasifikasi vaksin inaktif di antaranya meliputi Difteria, Tetanus, Pertusis, Kolera, Meningo, dan Pneumo. Kemudian vaksin virus dengan klasifikasi vaksin hidup meliputi Campak, Parotitis, Rubela, Varisela, Influenza, OPV, dan Yellow Fever. Sedang dengan klasifikasi vaksin inaktif meliputi HPV, Influenza, Hepatitis A, Hepatitis B, dan Rabies.

Elpiji 3 Kg Dibanderol Rp35.000 Per Tabung

Kemudian apa saja komposisi vaksin? Menurut dr. Budi Baskara ada bahan aktif dan bahan inaktif. Bahan aktif meliputi antigen berupa mikroorganisme yang dilemahkan atau dimatikan dan komponen antigen dari mikroorganisme. Ada juga adjuvent yang memperkuat vaksin-imunitas.

Sedang bahan inaktif meliputi presentatives (pengawet) fungsinya untuk mencegah pertumbuhan bakteri atau fungi (jamur), dan stabilizer yang berfungsi menjaga efektivitas vaksin selama penyimpan.

Untuk imunisasi dewasa dengan vaksin menurut dr. Budi Baskara sebaiknya dikonsultasikan terlebih dahulu dengan dokter. Tujuannya agar dokter mengarahkan vaksin apa yang dibutuhkan saat itu oleh yang bersangkutan, termasuk juga untuk mengetahui apakah pernah alergi terhadap obat tertentu.

“Karena tiap orang berbeda kebutuhannya, jadi sebaiknya konsultasi terlebih dulu sebelum imunisasi,” jelas dr. Budi Baskara kepada Solopos.com, belum lama ini.

Kendati bertujuan untuk kesehatan, pemberian vaksin menurut dr. Baskara juga memiliki efek samping. Karena memasukan benda asing ke dalam tubuh tentu ada risikonya, seperti demam ringan, nyeri atau kemeng di tempat suntikan (vaksin).

Gelson Fernandes, Wonderkid Baru Tottenham

Terkadang pemberian vaksin juga menimbulkan alergi seperti gemetar, pusing, bisa juga tekanan darah turun. Namun lanjutnya, penanganannya sudah dipersiapkan dengan pemberian obat-obat tertentu untuk alergi.

“Karena itu imunisasi untuk orang dewasa dilakukan di tempat kesehatan, seperti klinik atau rumah sakit. Agar setelah pemberian bisa diobservasi apakah muncul alergi atau tidak. Apabila muncul alergi bisa segera tertangani,” ujar dr. Baskara.

Diakui dr. Baskara, imunisasi dewasa memang belum begitu kuat gaungnya dibandingkan imunisasi untuk anak-anak. Selain itu terkait pula dengan biaya imunisasi dewasa. “Kendati demikian bisa dijadwalkan sesuai kebutuhan, sehingga biaya tidak terlalu memberatkan,” jelasnya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten