Mengenal Orang-Orang Arab di Israel

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 12 Juni 2021. Esai ini karya Ronny P. Sasmita, Direktur Eksekutif Economic Action (EconAct) Indonesia dan peminat tema-tema hubungan internasional.

Mengenal Orang-Orang Arab di Israel

SOLOPOS.COM - Ronny P. Sasmita (Istimewa/Dokumen pribadi)

Solopos.com, SOLO -- Pada saat Ben Gurion mendeklarasikan negara Israel berdaulat pada tahun 1948, sekitar 156.000 orang Arab terjebak di dalam wilayah yang diklaim oleh Isreal tersebut.  Mau tak mau, secara otomatis, mereka menjadi warga negara Israel.

Sampai hari ini jumlah mereka berlipat menjadi sekitar 1,9 juta orang. Dari jumlah itu, sekitar 1,6 juta orang adalah Arab muslim, sisanya Arab Druze dan Arab Kristen.  Layaknya warga negara kebanyakan di sana, mereka punya hak pilih penuh sebagaimana warga Israel Yahudi sejak pemilihan umum pertama.

Pada tahun 1948, tercatat tiga orang Arab yang menjadi anggota Knesset (Parlemen Israel). Kini jumlahnya belasan orang yang berasal dari beberapa partai. Kalau kita berjalan-jalan di Pasar Levinski atau Pasar Carmel di Tel Aviv, atau Pasar Jaffa di Kota Tua Isreal, selalu ada pedagang atau pembeli ”Arab Israeli”.

Mereka cukup ramah dan nyaris tak menyembunyikan kearaban mereka alias tetap bangga dengan status Arab sebagaimana mereka bangga memiliki status kewarganegaraan Israel. Pada saat masuk waktu salat dan saat itu kita mengobrol dengan mereka maka mereka dengan sopan akan mohon izin untuk beribadah.

Begitu pula di universitas-universitas di Israel. Data dari Tel Aviv University yang saya terima akhir tahun lalu menunjukkan 30% dokter di Israel adalah orang Arab, mayoritas Arab muslim. Demikian juga tenaga kesehatan lainnya dan ahli farmasi, tercatat sekitar 35% orang Arab.

Beberapa kawan saya di beberapa universitas di Israel juga mengatakan kepada saya bahwa komposisi tersebut beda-beda tipis dengan komposisi orang Arab yang kuliah di Tel Aviv University, Hebrew University,  Ariel University,  Ben Gurion Univesity,  dan beberapa perguruan tinggi lainya.

Sementara di angkatan bersenjata Isarel atau Israel Defense Force (IDF) hanya sekitar 1.000-an orang Arab, tapi tercatat sekitar 5.000-an orang yang secara sukarela bekerja pada National Service of Israel. Di dunia olah raga pun demikian, kalau saya tak salah,  kapten tim nasional sepak bola Isreal masih dipegang oleh muslim.

Pernah beberapa waktu lalu saya iseng bertanya bagaimana pendapat mereka soal nasionalitas yang mereka sandang hari ini? Cukup mengejutkan jawaban mereka. Mereka dengan bangga mengatakan bahwa nasionalitas mereka adalah Isreal, walaupun semua orang di sana juga mengetahui bahwa mereka adalah orang Arab alias bukan Jews (Yahudi).

Lantas bagaimana pandangan mereka soal konflik tak berujung Israel dan Palestina? Terdapat beberapa kelompok pendapat tentang hal ini.  Pengelompokannya tak berbeda jauh dengan orang-orang Yahudi.

Pertama, kelompok netral.  Kelompok ini hanya ingin hidup damai dalam keberagaman. Mereka berharap terjadi perdamaian segera antara Israel dan Palestina, bahkan ada sebagian dari mereka yang berharap saudara-saudara mereka di Palestina menjadi saudara satu negara dengan mereka.

Satu negara yang mereka maksud adalah Israel (negara federasi Israel-Palestina, or a kind of) agar mereka mendapat pelayanan dan perlakuan yang sama dengan mereka, mengingat besarnya peran Israel dalam ekonomi dan administrasi.

Sebut saja misalnya mata uang. Orang Palestina lebih banyak menggunakan sekhel ketimbang dirham dalam kehidupan sehari-hari.  Kelompok ini merasa senang dan bahagia hidup di bawah pemerintahan Isreal yang ikut mereka pilih.

Mereka juga tak merasa diperlakukan diskriminatif sebagaimana sistem pemerintahan apartheid yang dituduhkan banyak pihak kepada Israel karena mereka adalah warga negara Isreal,  alias Arab Israeli.  Kondisi berbeda dan kontradiktif terjadi di Westbank (Tepi Barat) dan Gaza.

Situasi apartheid sangat terasa di settlements Israel.  Sampai hari ini ada sekitar 400.000-an orang Yahudi di lebih dari 100-an permukiman ilegal di Westbank (ilegal menurut hukum internasional karena didirikan di zona yang bukan zona Israel). Sebagian permukiman ilegal ini bahkan didirikan di sepanjang Jordan Valey, yang membuat rakyat Palestina terkepung di tengah.

Selain itu, dengan menduduki Jordan Valey, Israel menguasai sumber air di Westbank yang menjadi salah satu kebutuhan dasar penduduk Palestina di Westbank. Posisi permukiman-permukiman tersebut sangat acak.

Suasana apartheid sangat kental terasa karena satu permukiman bisa langsung bertetangga dengan perkampungan rakyat Palestina. Sebagian rakyat Palestina yang bekerja di lokasi yang jauh dari tempat tinggal mereka harus melewati beberapa kali pos check point di beberapa settlements.

Pelayanan Publik

Di sisi lain, ketimpangan sangat mencolok, walaupun bagi rakyat biasa di kedua kubu, sebagian dari mereka masih bergaul layaknya situasi normal. Banyak rakyat Palestina yang bekerja di permukiman-permukiman Isreal.

Kedua, kelompok pro Israel. Barangkali kelompok inilah yang diwawancarai oleh eks anggota IDF keturunan Arab yang hampir pasti kontra terhadap Hamas dan Palestina.  Kelompok ini memang lumayan buka-bukaan menentang Hamas dan mendukung tindakan tegas pemerintah Israel kepada kelompok-kelompok radikal Palestina.

Dengan kata lain, nasionalisme Israel lebih dominan ketimbang solidaritas Arab. Kelompok ini kira-kira setara dengan kelompok nasionalis Palestina  yang diikat oleh rasa satu nasionalitas, bukan semata solidaritas religiositas.

Fakta mayoritas memang seperti itu, bahwa cukup banyak orang Palestina yang lebih mengidentifikasi diri mereka sebagai warga negara Palestina (nasionalisme), bukan semata-mata sebagai umat satu agama tertentu.

Orang Arab Islam dan Arab Kristen sama-sama mengibarkan bendera Palestina di rumah mereka atau pada saat berdemonstrasi. Orang Islam Palestina dengan penuh hormat dan kehangatan menghadap Wali Kota Ramallah,  Musa Hadid,  yang beragama Kristen, misalnya.

Musa Hadid pun memperlakukan orang Arab Islam layaknya saudara sebangsa, yakni Palestina. Ia yang sempat viral dua tahun lalu berkat film dokumenter berjudul Mayor akan masuk ke rumah orang Arab Palestina muslim yang bermasalah, berpelukan, lalu memberikan pelayanan dan bantuan yang diperlukan.

Musa Hadid sudah dua periode menjabat sebagai Wali Kota Ramallah. Tahun ini tahun terakhirnya. Ketiga, yakni  kelompok pro Palestina atas dasar kemanusiaan dan two state solution. Kelompok ini biasanya adalah aktivis-aktivis nongovernmental organization atau NGO dan pendukung Partai Kiri Tengah (Center Left), termasuk Partai Arab, yang menjadi oposisi pemerintahan Netanyahu.

Kelompok inilah yang sering mendatangi rumah dinas Benyamin Netanyahu tahun lalu karena kecuekan pemerintah Israel atas tingginya angka infeksi Covid-19 (sebelum vaksin resmi dirilis). Kelompok ini menentang segala bentuk aksi dan reaksi militer dari Israel maupun dari Hamas.

Mereka menuntut keterlibatan lebih jauh Israel memberikan pelayanan publik dan bantuan sosial kemanusiaan untuk rakyat Palestina,  termasuk vaksin Covid-19. Mereka juga menuntut Israel untuk lebih aktif dalam mempromosikan two state solution dan pengakuan atas kedaulatan Palestina.

Kelompok ini juga yang menentang negara Israel dijadikan sebagai jewish state. Kelompok ini ada di barisan pertama melawan pemerintahan Isreal ketika ada pelayanan dan perlakuan diskrimintif dari pemerintah Israel kepada warga Arab Israel.

 

Berita Terkait

Espos Premium

"Teater" Memperkuat Korupsi

Pengurangan hukuman eks jaksa Pinangki Sirna Malasari dan Djoko Soegiarto Tjandra di tingkat banding kontraproduktif terhadap gerakan pemberantasan korupsi.

Berita Terkini

Wacana “End Game Jokowi” Harusnya “End”

So much so, dengan kondisi saat ini, saya pikir menggulingkan pemerintahan terpilih justru akan berpeluang besar melahirkan kediktatoran baru seperti di Myanmar atau rezim Al Sisi di Mesir.

Memaksa Industri Kreatif Lebih Kreatif

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat 30 Juli 2021. Esai ini karya Hery Trianto, wartawan Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI)

Negeri Melankolia

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 28 Juli 2021. Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos.

Butuh Motivasi, Banyak Pegawai Jenuh dan Kinerja Menurun Selama Pandemi Covid-19

Artikel ini ditulis Aqua Dwipayana, komunikator dan motivator.

Menerka Masa Depan Dunia Digital

Gagasan ini dimut Harian Solopos edisi Sabtu 17 Juli 2021. Esai ini karya Eko Wahyono, pengajar Media dan Budaya di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Tangerang.

Korban yang Bercerita

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 21 Juli 2021. Esai ini karya Syifaul Arifin, jurnalis Solopos.

Ivermectin dalam Filsafat Sains

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis 15 Juli 2021. Esai ini karya Satrio Wahono, alumnus Magister Filsafat Universitas Indonesia dan dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pancasila Jakarta.

Trust is Money

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat 23 Juli 2021. Esai ini karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Urgensi Kontrak Belajar

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 14 Juli 2021. Esai ini karya Muhamad Arifin, guru SD Muhammadiyah Program Khusus Kota Barat, Kota Solo, Jawa Tengah.

Mewujudkan Perlindungan terhadap Hak Anak di Masa Pandemi

Artikel ini ditulis Cholida Hanum, peneliti Pusat Studi Gender dan Anak IAIN Salatiga.

Dampak Gadget pada Anak-Anak

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa 13 Juli 2021. Esai ini karya Lina Nihayatun Ni'mah, mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Keadilan Elektoral

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin 12 Juli 2021. Esai ini karya Zennis Helen, dosen Hukum Tata Negara di Fakultas Hukum Universitas Ekasakti Padang dan mahasiswa program doktor di Fakultas Hukum Universitas Sultan Agung Semarang.

Televisi Digital

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 14 Juli 2021. Esai ini karya Suwarmin, wartawan Solopos.

Telah Berpulang...

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat 16 Juli 2021. Esai ini karya Maria Y. Benyamin, wartawan Bisnis Indonesia atau Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI).

Dari Mengapa ke Mengapa

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu 10 Juli 2021. Esai ini karya Marhamah Aljufri, pembelajar menulis esai yang tinggal di Pasuruan, Jawa Timur, dan aktif di komunitas Mbokmbokan Malem Minggu.

Ngepit ke Kota Netral Karbon

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat 9 Juli 2021. Esai ini karya Djoko Subinarto, esais dan bloger.

Menata Koridor Kapujanggan di Kota Solo

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis 8 Juli 2021. Esai ini karya Dhian Lestari Hastuti, dosen di Program Studi Desain Interior Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia Surakarta.

Dilema dan Solusi Pembelajaran Bahasa Inggris Online

Artikel ini ditulis Nadira Syifa Azzahro, mahasiswa Tadris Bahasa Inggris, Program Kelas Khusus Internasional IAIN Salatiga

Jangan Bertanya Mengapa

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 7 Juli 2021. Esai ini karya Ayu Primadini, guru di Jakarta Selatan dan warga komunitas Mbokmbokan Malem Minggu.

Semakin Dekat

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 7 Juli 2021. Esai ini karya Rini Yustiningsih, jurnalis Solopos.

Tantangan Digitalisasi Kebudayaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa 6 Juli 2021. Esai ini karya Dewi Yunita, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Yogyakarta.

Tetaplah di Rumah demi Kemanusiaan Kita

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat 2 Juli 2021. Esai ini karya Hery Trianto, wartawan Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Menangisi Dunia Pendidikan Kita

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin 5 Juli 2021. Esai ini karya Willy Pramuda, orang tua anak yang tak bersekolah formal dan penyuka tema-tema pendidikan, tinggal di Jakarta.

Dalam Sebotol Coca-Cola

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin 28 Juni 2021. Esai ini karya Setyaningsih, esais dan pekerja buku di Penerbit Babon.

Intervensi Stigma dan Diskriminasi sebagai Upaya Indonesia Bebas HIV/AIDS 2030

Artikel ini ditulis Titik Haryanti, S.K.M., M.P.H., dosen Prodi Kesehatan Masyarakat FKM Univet Bantara Sukoharjo-Mahasiswa S3 IKM UNS

Arah Kesenian Termutakhir

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 24 Juni 2021. Esai ini karya Damar Tri Afrianto, dosen di Institut Teknologi Telkom Purwokerto dan warga Sobat Ambyar Solo.

Pansos

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 23 Juni 2021. Esai ini karya Sholahuddin, Manajer Solopos Institute.

Skenario Sekolah Tatap Muka

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin 21 Juni 2021. Esai ini karya Anicetus Windarto, peneliti di Lembaga Penelitian dan Pengembangan Realino Sanata Dharma Yogyakarta.

Pabaliut Gara-Gara Pandemi

Bukan sesederhana "tidak boleh keluar rumah pada Sabtu dan Minggu" saja. Imbauan semacam itu seakan mengindikasikan pembuat kebijakan mengabaikan esensi memutus mata rantai penyebaran virus corona.

Restorasi Ekosistem

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 25 Juni 2021. Esai ini karya Tundjung W. Sutirto, peneliti di Pusat Lingkungan Hidup Universitas Sebelas Maret.

Generasi Pembangun Jembatan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 23 Juni 2021. Esai ini karya Tri Winarno, guru Bahasan dan Sastra Indonesia di SMKN 2 Klaten.

Partai Politik, Firli, dan KPK

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 19 Juni 2021. Esai ini karya Thontowi Jauhari, anggota Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik Pengurus Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah.

Terjebak di Kubangan Digital

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 17 Juni 2021. Esai ini karya Aris Setiawan, esais yang tinggal di Kota Solo, Jawa Tengah.

Sinergi Semua Pihak untuk Suksesnya Vaksinasi Covid-19

Artikel ini ditulis dr. Farahdila Mirshanti, MPH, Kepala UPT Puskesmas Purwodiningratan Solo-Mahasiswi S3 Ilmu Kesehatan Masyarakat UNS

Bahasa Indonesia Era Industri

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 16 Juni 2021. Esai ini karya Duwi Saputro, guru Bahasa Indonesia di MTsN 1 Solo.

Esensial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 17 Juni 2021. Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos.

Berolahraga di Tengah Pandemi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 15 Juni 2021. Esai ini karya Diksanda Savero Robiyono, mahasiswa keolahragaan di Universitas Negeri Malang.

Oposisi Biner dan Lawan Kata

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 14 Juni 2021. Esai ini karya Joko Setiyono, pustakawan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

Mengenal Orang-Orang Arab di Israel

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 12 Juni 2021. Esai ini karya Ronny P. Sasmita, Direktur Eksekutif Economic Action (EconAct) Indonesia dan peminat tema-tema hubungan internasional.

Menyehatkan Lahan Sakit

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 10 Juni 2021. Esai ini karya Bambang Pujiasmanto, guru besar di Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret.

Guru Modis Guru Idola Masa Kini

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 9 Juni 2021. Esai ini karya Astutiati, guru di SDN 1 Brangkal, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah.

Garuda di Dadaku

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 11 Juni 2021. Esai ini karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Menjaga Kebebasan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 9 Juni 2021. Esai ini karya Syifaul Arifin, jurnalis Solopos.

Tantangan Feminis pada Era Kontemporer

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 3 Juni 2021. Esai ini karya Ester Lianawati, penulis buku Ada Serigala Betina dalam Diri Setiap Perempuan, psikologi dan pendiri Hypatia Pusat Penelitian Psikologi dan Feminisme di Prancis.

Pernikahan Dini Masa Pandemi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 8 Juni 2021. Esai ini karya Dila Sulistianingsih, mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Semarang.

100 Hari Kerja Mas Wali Kota

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 7 Juni 2021. Esai ini karya Krisnanda Theo Primadita, mahasiswa pascasarjana Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Solo dan Wellness Tourism

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 5 Juni 2021. Esai ini karya Ginanjar Rahmawan, dosen Marketing di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Surakarta.

Chief of Transformation Officer Itu Bernama...

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 4 Juni 2021. Esai ini karya Maria Y. Benyamin, wartawan Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Seribu Hari Masih Lama

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 2 Juni 2021. Esai ini karya Rini Yustiningsih, wartawan Solopos.

Menjaga Kebudayaan Kita

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 2 Juni 2021. Esai ini karya Yuliyanti Dewi Untari, guru Bahasa Jawa di SMAN 1 Solo.

Menggemakan Nilai-Nilai Pancasila

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 31 Mei 2021. Esai ini karya Leo Agung S., Ketua Pusat Studi Pengamalan Pancasila Universitas Sebelas Maret.

Mimpi Juara Perusahaan Teknologi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 29 Mei 2021. Esai ini karya Hery Trianto, wartawan Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Agama dan Kemanusiaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 27 Mei 2021. Esai ini karya Joko Yuliyanto, penggagas Komunitas Seniman Nahdlatul Ulama, penulis buku dan naskah drama.

Kisah di Balik Sajian Makanan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa 25 Mei 2021. Esai ini karya Adib Baroya Al Fahmi, mahasiswa Program Studi Tadris Bahasa Indonesia UIN Raden Mas Said Surakarta.

Memperkuat Gastro-Diplomasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 24 Mei 2021. Esai ini karya Bara Yudhistira, dosen Ilmu Teknologi Pangan dan peneliti di Pusat Pengembangan Kewirausahaan Universitas Sebelas Maret.

Kajian Fiskal Regional

Penulis adalah Pengawas pada KPPN Klaten. Pendidikan Magister Hukum UGM

Impelementasi Catur Gatra Tunggal

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 22 Mei 2021. Esai ini karya Y. Argo Twikromo, dosen di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, antropolog, dan peneliti di MINDSET Institute.

Sinyal Pemulihan Kian Terang

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 21 Mei 2021. Esai ini karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Lebaran Covid-19

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 19 Mei 2021. Esai ini karya Suwarmin, wartawan Solopos.

PLTA Kali Samin Simbol Kemandirian

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 20 Mei 2021. Esai ini karya Eko Sulistyo, Komisaris PT PLN (Persero).

Kritik untuk Sangkar Buku Kegiatan Ramadan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 19 Mei 2021. Esai ini karya Rohmah Jimi Sholihah, guru Pendidikan Agama Islam di SDN Tasikhargo, Kecamatan Jatisrono, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah.

Palestina dan Jurnalisme Islam

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 18 Mei 2021. Esai ini karya Dhima Wahyu Sejati, mahasiswa Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam Institut Agama Islam Negeri Surakarta.

Jalan Panjang Pemulihan Ekonomi Kota Solo

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 17 Mei 2021. esai ini karya Anton A. Setyawan, guru besar Ilmu Manajemen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Memaknai Desa Sadar Kerukunan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 10 Mei 2021. Esai ini karya Muhammad Taufik Ismail, anggota panitia Festival Toleransi di Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah.

Rajakaya untuk Kecukupan Daging Nasional

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 11 Mei 2021. Esai ini karya Fransiskus Raymon, mahasiswa Program Studi Peternakan Universitas Sebelas Maret.

Jangan Mendadak "Bagong"

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 6 Mei 2021. Esai ini karya Agung S.S. Raharjo, Analis Ketahanan Pangan Ahli Muda Badan Ketahanan Pangan Kementeria Pertanian.

Royalti, Radio, dan Pandemi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi sabtu, 8 Mei 2021. Esai ini karya Ariyanti Mahardina, freelancer yang pernah bekerja di radio dan kini masih aktif di Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Solo.

Kita Harus Menjadi Guru

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 5 Mei 2021. Esai ini karya Ardian Nur Rizki, guru di Sekolah Indonesia Luar Negeri Johor Bahru, Malaysia.

Resiliensi Sektor informal

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 4 Mei 2021. Esai ini karya Muhammad Taufik Nandito, mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyan Surakarta dan aktif di Lingkar Studi Sasadara di Kleco, Kota Solo.

Mitos Kekinian

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 5 Mei 2021. Esai ini karya Sholahuddin, Manajer Solopos Institute.

Narasi Tunggal Soal Mudik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat. 7 Mei 2021. Esai ini karya Maria Y. Benyamin, wartawan Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Hadiah Lebaran dari Mas Edi

Buat saya, di tengah pandemi seperti saat ini, orang-orang seperti Mas Edi inilah bantalan kuat bagi ketahanan ekonomi Indonesia.

Wajah Pendidikan Kita

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 3 Mei 2021. Esai ini karya Anicetus Windarto, peneliti di Lembaga Penelitian dan Pengembangan Realino Sanata Dharma Yogyakarta.

Musnahkan Kebebalan Kawanan!

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 30 April 2021. Esai ini karya Hery Trianto, wartawan Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Menolak Jalan Impunitas

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 29 April 2021. Esai ini karya St, Tri Guntur Naryawa, dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Mercu Buana Yogyakarta.

Wantok

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 28 April 2021. Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos.

Rumah Tempat Debat dan Mufakat

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 26 April 2021. Esai ini karya Bandung Mawardi, kuncel Bilik Literasi.

Pelajaran Dari Gawok

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 23 April 2021. Esai ini karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia (Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Sinergi Mencegah Perkawinan Anak

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 21 April 2021. Esai ini karya Retno Winarni, guru Bahasa Indonesia di SMAN Kerjo, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah.

Bisnis Monyet Tanaman Hias

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 20 April 2021. Esai ini karya Nadia Aliya Azki, mahasiswa Program Studi Manajamen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta.

(Andai) Demokrasi Tanpa Oligarki

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 19 April 2021. Esai ini karya Siti Farida, Kepala Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Jawa Tengah.

Perlawanan Perempuan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 21 April 2021. Esai ini karya Syifaul Arifin, jurnalis Solopos.

Singkong Goreng dan Segelas Wine

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 16 April 2021. Esai ini karya Maria Y. Benyamin, wartawan Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI)

Punden-Punden Kota Solo

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 15 April 2021. Esai ini karya Albertus Rusputranto P.A., dosen di Institut Seni Indonesia Surakarta.

Membaca Perempuan Kini

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 24 April 2021. Esai ini karya Ayu Prawitasari, jurnalis Solopos.

Bukan Cuma Kebaya dan Sanggul

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 22 April 2021. Esai ini karya Elly Jauharah Asriani, guru Matematika di MTsN 7 Klaten, Jawa Tengah.

Menunggu Musikus Jadi Kaya Raya

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 17 April 2021. Esai ini karya Tito Setyo Budi, doktor Kajian Musik, wartawan, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Kabupaten Sragen.

UUD 1945 dan the Living Constitution

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 13 April 2021. Esai ini karya Salma Abiyya, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Menyikapi Waktu Subuh Yang Berbeda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 12 April 2021. Esai ini karya Muh. Nursalim, Ketua Komisi Kajian Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Sragen.

Investasi Sosial Wakaf Uang

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 9 April 2021. Esai ini karya Wawan Sugiyarto, analis Pusat Analisis dan Harmonisasi Kebijakan Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan dan peraih gelar akademis PhD di Queensland University of Technology, Brisbane, Australia.

Dihantui Masa Lalu

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 14 April 2021. Esai ini karya Rini Yustiningsih, jurnalis Solopos.

Teror dan Agama

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 6 April 2021. Esai ini karya Arif Yudistira, tuan rumah Pondok Filsafat Solo.

Berolahraga di Atas Bus Berjajar

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 5 April 2021. Esai ini karya Agus Kristiyanto, Guru Besar Analisis Kebijakan Pembangunan Olahraga Fakultas Keolahragaan Universitas Sebelas Maret.

Cerita dari Bontang

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 7 April 2021. Esai ini karya Suwarmin, wartawan Solopos.

Mencegah Terorisme Lagi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 3 April 2021. Esai ini karya Soleh Amini Yahman, psikolog dan dosen di Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Catur dan Uang

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 1 April 2021. Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo.

Film sebagai Sumber Sejarah Alternatif

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 31 Maret 2021. Esai ini karya Anicetus Windarto, peneliti di Lembaga Penelitian dan Pengembangan Realino Sanata Dharma Yogyakarta.

Harapan Kota Solo Bebas dari Sampah

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 29 Maret 2021. Esai ini karya Mochamad Syamsiro, Direktur Center for Waste Management and Bioenergy dan dosen di Jurusan Teknik Mesin Universitas Janabadra Yogyakarta.

Lupakan Saja Swasembada Gula

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 24 Maret 2021. Esai ini karya Jojo, kandidat Doktor Ilmu Ekonomi Pertanian Institut Pertanian Bogor atau IPB University.