Kategori: Leisure

Mengenal Konstipasi pada Anak, Kapan Terjadinya?


Solopos.com/Astrid Prihatini WD/Newswire

Solopos.com, JAKARTA--Konstipasi pada anak bisa saja terjadi. Nah, para orang tua sebaiknya mengetahui apakah pemicu dan bagaimana solusinya?

Simak ulasannya di tips kesehatan kali ini. Ya, konstipasi atau sembelit bukan hanya terjadi pada orang dewasa. Anak-anak juga bisa mengalami problem buang air besar (BAB) ini.

Apakah penyebab konstipasi pada anak?

Ternyata penyebabnya beragam. Salah satu penyebab konstipasi pada anak adalah kelainan organ. "Ada yang disebabkan oleh masalah pada organ," kata Guru Besar Tetap Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI,) Hanifah Oswari.

Baca Juga: Benarkah India Mendekati Herd Immunity? Ini Faktanya

Menurutnya sebanyak 95 persen kasus konstipasi pada anak disebabkan fungsi organ bermasalah, sisanya disebabkan oleh kelainan organ. Dia menjelaskan empat gejala konstipasi pada anak atau bayi.  Pertama, frekuensi buang air besar dua kali dalam seminggu, atau kurang dari itu.

"Apabila satu hari BAB, besoknya tidak, lalu besoknya BAB, itu masih normal," kata Hanifah dalam diskusi daring Tentang Anak  seperti dikutip dari Antara, Sabtu (6/3/2021)

Gejala kedua adalah feses keras dan rasa sakit ketika buang air besar, lalu cepirit satu kali dalam seminggu. Tanda lainnya adalah ada tanda-tanda anak menahan buang air besar, seperti feses terlalu besar sampai menyumbat WC karena anak sudah lama tidak mengeluarkan kotoran.

Dokter bisa memastikan gejala lainnya dengan memasukkan jari ke dalam dubur, anak bisa disebut konstipasi bila feses terasa besar dan keras.

Bagaimana mengetahui anak mengalami konstipasi? Anak disebut mengalami konstipasi bila mengalami minimal dua gejala tersebut.

Hanifah mengatakan, dalam sepekan anak minimal harus buang air besar sebanyak tiga kali. "Kalau BAB 2 kali sepekan itu dikatakan konstipasi secara frekuensi," jelasnya.

Baca Juga: Laporan Sementara Hasil Investigasi Corona di Wuhan Batal Dirilis, Mengapa?

Pada bayi yang masih menyusui, frekuensi buang air besar yang sering dan tidak teratur yang jarang belum tentu konstipasi. Saat baru lahir dan mendapat ASI, bayi belum punya banyak enzim laktase di dalam ususnya. Padahal, ASI yang tinggi laktosa butuh enzim laktase agar bisa dicerna dan diserap tubuh.

"Karena enzim laktase pada bayi baru lahir itu kurang, jadi dia tidak bisa melakukan metabolism laktosa, akibatnya BAB-nya jadi sering, sehari bisa sepuluh kali, tapi dalam perkembangan bayi, bayi itu bertumbuh. Dia jadi mempunyai enzim laktasenya lebih banyak, bahkan kemudian bisa 2-3 hari tidak BAB, kadang bisa seminggu, bahkan sepuluh hari. Selama BAB nya tidak keras, itu bukan konstipasi."

Konstipasi pada anak berupa fungsional diduga diakibatkan rasa takut bayi atau anak yang trauma ketika merasa nyeri saat buang air besar akibat feses keras dan besar sehingga anusnya sakit. Rasa takut membuatnya menahan rasa ingin buang air, akhirnya feses menumpuk hingga terlalu banyak dan memicu rasa sakit berulang.

Kapan konstipasi pada anak terjadi?

Dia menjelaskan tiga waktu terjadinya konstipasi pada anak yang harus diwaspadai orang tua. Pertama, saat anak mulai mengonsumsi makanan pendamping ASI, juga perubahan dari susu formula ke susu UHT di mana ada perubahan pola makanan cari ke makanan padat. Perubahan itu membuat kotorannya jadi keras, lalu anak akan merasa sakit ketika buang air besar.

Baca Juga: Waduh! Stunting dan Obesitas Masih Jadi Masalah Indonesia

Kedua, konstipasi pada anak bisa terjadi ketika anak belum siap berlatih buang air di tempatnya. Ketika orang tua mengajari anak untuk buang air sendiri di toilet, bukan di popok, anak yang belum siap akan menahan sehingga feses jadi keras, kemudian justru jadi takut karena merasa sakit.

Latihan buang air di WC biasanya mulai dilakukan ketika anak berusia 1 tahun-3 tahun. Ia mengingatkan kepada orang tua untuk tidak memaksa anak agar tidak terjadi trauma. Pertanda anak sudah bisa diajari toilet training adalah bisa menaikkan dan menurunkan celana sendiri dan tertarik untuk ke toilet.

Ketiga, ketika anak masuk sekolah. Berada di lingkungan yang baru, melihat kondisi toilet yang berbeda dari rumahnya, juga bisa berpotensi membuat anak mengalami sembelit. Konstipasi juga bisa terjadi karena anak menahan buang air bila tidak mau buang air di sekolah karena kondisi yang berbeda, atau karena toiletnya kotor.

 

Share
Dipublikasikan oleh
Astrid Prihatini WD