Mengenal Desa Lewat (Kesadaran) Sejarah
Tri Rahayu/Istimewa

Solopos.com, SOLO -- Desa mengalami transformasi yang luar biasa sejak pengucuran dana desa pada 2015. Pembangunan infrastruktur di perdesaanmeningkat siginifikan. Masyarakat desa sampai detik ini memaknai pembangunan lebih pada aspek fisik, seperti jalan, jembatan, talut, gorong-gorong, dan seterusnya.

Pembangunan nonfisik masih minim sentuhan. Dulu desa menggantungkan pembangunan dari pendapatan asli desa) dengan potensi yang terbatas, seperti tanah kas desa atau bengkok. Kini desa memiliki otonomi dalam mengelola keuangan desa yang dirumuskan dalam anggaran pendapatan dan belanja desa (APB desa).

Sumber pendapatan desa tidak sekadar pendapatan asli desa tetapi ada lima komponen sumber pendapatan desa yang berasal dari dana transfer, yakni dana desa, alokasi dana desa, bagi hasil pajak dan retribusi, bantuan keuangan khusus dari kabupaten, dan bantuan keuangan provinsi.

Dengan seluruh komponen sumber dana itu, nilai APB desa rata-rata hampir menembus angka Rp2 miliar per desa. Aparatur desa dituntut kreatif dan inovatif. Orientasi pembangunan seharusnya tidak lagi dimaknai dalam arti fisik tetapi harus mulai mengubah pola pikir menjadi pembangunan nonfisik lewat program pemberdayaan.

Bursa inovasi desa yang diinisiasi pemerintah daerah menjadi pemicu sekaligus pendorong desa untuk menggali potensi masing-masing. Ketika desa maju dengan potensi masing-masing, harapannya desa bisa mandiri dan tidak lagi bergantung pada pendapatan transfer dari pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten.

Geliat desa menggali potensi tersebut mulai terasa. Bagi desa yang memiliki potensi alam langsung dikemas sedemikan rupa menjadi objek wisata, seperti yang terjadi di wilayah kaki Gunung Lawu, Kabupaten Karanganyar. Bagi desa yang tidak memiliki potensi alam menjadi tantangan tersendiri untuk menggali potensi buatan yang lebih kreatif, seperti membuat wisata air buatan semacam kolam renang dan water boom atau wisata buatan lainnya.

Krisis Identitas

Desa sebagai basis pengembangan pariwisata mulai ngetren. Hampir semua desa berpikir menciptakan pariwisata baru di desa. Ketika satu desa meniru desa lain dalam mencari potensi desa, sebenarnya desa itu mengalami krisis identitas. Krisis identitas itu biasanya terjadi karena desa sebenarnya belum mengenal jati dirinya.

Desa-desa itu lupa dengan sejarahnya, bahwa desa itu berdiri karena ada nilai-nilai komunal atau nilai-nilai komunitas. Kesadaran tentang sejarah desa menjadi penting untuk mengetahui identitas desa. Nilai-nilai leluhur desa bisa diketahui lewat penggalian sejarah desa.

Bila desa melupakan sejarahnya maka nilai-nilai leluhur desa pun hilang, apalagi dengan merebaknya budaya milenial yang serbainstan dan serbacepat. Itu bisa menghanguskan nilai-nilai komunal desa. Di Kabupaten Sragen ada komunitas yang bergerilya di desa-desa untuk menyadarkan aparatur desa atau tokoh masyarakat desa tentang pentingnya sejarah desa sebagai sarana mencari identitas desa.

Komunitas itu bernama Tilik Ibu Pertiwi Sukowati (TIPS) yang embrionya dibentuk oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Sragen pada 2018 lalu. Komunitas ini cukup unik karena anggotanya berasal dari berbagai penganut agama. Ketika menelusuri sejarah desa mereka tidak melihat sejarah desa dari aspek agama tetapi melihat dari aspek nilai-nilai leluhur desa.

Orientasi komunitas yang murni itulah yang sering kali disambut dengan hangat oleh para sesepuh desa. Desa merupakan komunitas terkecil yang paling tua di negara ini. Sebelum konsep negara atau kerajaan lahir, desa sudah lahir lebih dulu. Denys Lombard dalam buku Nusa Jawa, Silang Budaya menyebut komunitas desa dengan istilah wanua.

Pada masa awal kemunculan, desa memiliki prestise ketika memiliki banyak bangunan suci. Para pembesar wanua disebut rama. Secara hierarki kekuasaan atas desa-desa atau wanua-wanua diserahkan kepada seseorang dengan sebutan raka. Seorang raka memimpin wanua-wanua, misalnya Rakai Pikatan berarti penguasa Pikatan.

Tak Perlu Meniru

Catatan Denys Lombard cukup menarik dan yang perlu digarisbawahi adalah tentang prestise desa. Keberadaan bangunan suci menunjukkan ada tata nilai di desa. Nilai-nilai universal, seperti budi pekerti, sopan santun, kepercayaan, biasanya diajarkan di bangunan suci. Penerapan nilai-nilai tersebut kemudian tersaji dalam wujud teknologi pada zamannya, misalnya teknologi pertanian, ekonomi, dan teknologi pertukangan.

Di Jawa, nilai-nilai itu diajarkan dalam bahasa simbol atau sanepan. Para leluhur Jawa tidak mengajar nilai-nilai itu secara vulgar, tetapi dikemas dalam simbol. Simbol yang dipakai berupa ungkapan Jawa, nama pepohonan, dan simbol lainnya. Nama sebuah dukuh, komunitas masyarakat di bawah desa, atau bahkan nama desa pun sering kali mengandung makna simbolis.

Nama-nama dukuh dan desa itu dikemas dalam cerita tutur, seperti dongeng, mitos, atau cerita rakyat. Di balik cerita tutur itulah terkandung realitas dan nilai. TIPS dan mungkin komunitas sejarah lainnya hadir di desa-desa untuk mengumpulkan cerita tutur atau asal usul desa sekaligus mendokumentasikan situs-situs atau punden-punden di desa untuk mencari realitas dan nilai desa. Bidang keilmuan yang membahas asal usul penamaan tempat atau wilayah disebut dengan istilah toponimi.

Dalam konteks desa maka disebut toponimi desa. Cerita tutur dukuh satu dengan dukuh lain saling terkait dan menjadi satu kesatuan kisah dalam satu desa. Ketika semua cerita tutur itu terkumpul, akan diketahui nilai dan realitasnya. Nilai dan realitas itulah sebenarnya identitas desa tersebut.

Dari identitas desa itu akan melahirkan sajian dalam bentuk seni tradisi, kearifan lokal, sampai teknologi yang kemungkinan sampai sekarang masih ditemukan. Ketika desa mengenal identitasnya, tidak perlu meniru desa lain dan tidak perlu menjadi follower tren. Desa dengan identitasnya akan mampu menciptakan kreativitas dan inovasi yang berbeda dengan desa-desa lainnya. Desa akan mampu menjadi mandiri dengan berpijak pada akar budaya dan identitas sendiri.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya



Kolom