Christianto Dedy Setyawan/Istimewa

Solopos.com, SOLO — Dalam salah satu kesempatan, pelatih tim nasional sepak bola Indonesia, Simon McMenemy, berkata bentuk dukungan suporter di Indonesia terhadap tim terbilang luar biasa hebat.

Militansi yang diwujudkan dengan hadir memenuhi stadion dan meneriakkan yel-yel sepanjang pertandingan menjadi indikator utama. Bahaya laten kerusuhan yang diawali ketidakpuasan terhadap laga kerap terjadi.

Omongan Simon seakan-akan menemui bukti kala PSIM Yogyakarta menjamu Persis Solo di Stadion Mandala Krida beberapa hari lalu. Amuk massa menjadi sajian di pengujung pertandingan hingga berjam-jam setelahnya.

Penyakit kambuhan suporter tim sepak bola di negeri ini menyeruak kembali. Mengutip Solopos terbitan 23 Oktober 2019, salah satu pemicu kerusuhan adalah ketika pemain Persis, M. Shulton Fajar, mendapat tendangan dari pemain PSIM, Achmad Hisyam Tolle, pada akhir babak kedua.

Aksi tidak sportif itu kemudian memicu kericuhan massal di dalam dan luar stadion. Hawa panas laga tersebut ternyata telah mendidih sedari awal dan mencapai puncak akumulasi menjelang peluit tanda pertandingan berakhir.

Bayang-bayang kegagalan melaju babak delapan besar Liga 2 membutakan nalar dan nurani. Pertandingan sepak bola yang seharusnya merupakan tontonan yang seru dan menghibur justru beralih menjadi sajian mimpi buruk di pengujung senja.

Romantisme Solo-Jogja

Historia magistra vitae. Sejarah adalah guru kehidupan seperti yang dikatakan filsuf Yunani Herodotus. Banyak contoh fenomena serupa di tengah panasnya laga yang dapat ditarik sisi positif maupun negatifnya.

Untuk konteks negatif, di lingkup global publik mungkin masih mengingat ”aksi kucing-kucingan” yang terjadi saat Valencia bertanding melawan Inter Milan di babak perdelapan final Liga Champions 2006/2007.

Saat itu di pengujung pertandingan, David Navarro berlari dari bench dan meninju hidung Nicolas Burdisso hingga patah. Tindakan yang memicu reaksi Ivan Cordoba, Douglas Maicon, Walter Samuel, Dejan Stankovic, dan banyak pemain Inter lainnya mengejar Navarro hingga ke ruang ganti Valencia.

Sebuah pertunjukan yang sangat tidak elok dilihat. Tidak dapat dibayangkan ketika jutaan pasang mata menyaksikan aksi ini di televisi (termasuk anak-anak) dan terekam kuat di benak mereka.

Di lingkup nasional, derby Mataram memang kerap berjalan sengit bahkan sejak awal abad ke-20 ketika kolonialisme Belanda masih bercokol. Sejarawan Heri Priyatmoko pernah menuturkan di Kedaulatan Rakyat terbitan 3 Agustus 2018, betapa rivalitas antara Persis dengan PSIM pada masa lampau disikapi dengan sungguh bijak.

Alih-alih melakukan kekerasan fisik dan bersikap barbar, suporter Solo justru bersikap jenaka kala Laskar Sambernyawa sukses mencetak gol. Mereka mengeluarkan belangkon Jogja dan nylenthik bagian mondholan sembari berkata,”Kapok ora … kapok ora …?” dengan penuh tawa.

Kubu suporter PSIM juga bertingkah khas. Kala Laskar Parang Biru berhasil mencetak gol, mereka berjingkrak-jingkrak di tribun dengan jenaka. Sentimen Jogja dan Solo akibat Perjanjian Giyanti tidak selayaknya ditanggapi dengan kepala panas.

Situasi di atas lapangan hijau yang adem akan menular pula ke tribun penonton. Melihat panasnya laga di  Stadion Mandala Krida beberapa hari lalu itu membuat dunia serasa terbalik. Sejak urusan bal-balan merasuk ke dalam jiwa masyarakat pada awal abad ke-20, hubungan PSIM dan Persis relatif apik.

Sangat Akrab

Kedua tim tersebut tercatat turut memprakarsai berdirinya Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) sebagai wujud semangat perjuangan bangsa. Ketika Stadion Sriwedari diresmikan pada 1933, penyelenggaraan Sunan’s Beker antara Persis melawan PSIM yang difasilitasi Sunan Paku Buwono X menunjukkan bahwa dua klub tersebut sangat akrab.

Ardian Nur Rizki menuturkan kisah unik Persis dan PSIM dalam buku Pustaka Sepak Bola Surakarta. Pada 1935, Federasi Sepak Bola Belanda (NIVB) menantang Persis dalam laga eksibisi. Pada hari pertandingan, NIVB justru membatalkan pertandingan secara sepihak.

Persis mencium gelagat licik NIVB. Kalau laga batal digelar, Persis dapat kehilangan simpati dari masyarakat. Reputasi Persis yang dipertaruhkan di agenda tersebut memicu munculnya usulan agar menggelar laga Persis melawan PSIM.

Sejujurnya saat itu skuat PSIM tidak dalam kondisi ”siap tempur”. Disebut seperti itu karena para pemain PSIM sedang menggeluti pekerjaan masing-masing seperti tukang satai, tukang cukur, dan pedagang.

Taktik menjemput mereka di pasar dan menghimpun secara dadakan pun ditempuh. Rasa cinta dan turut memiliki yang menjalar dari petinggi klub hingga kalangan akar rumput merobohkan batas-batas kemustahilan. Upaya itu berbuah manis sebab laga kemudian berhasil digelar berkat semangat kebersamaan sesama tim bumiputra.

Setiap pendukung kesebelasan sepak bola tentu menginginkan tim yang mereka bela mereguk kemenangan dan berprestasi di kejuaraan. Mereka berasumsi bahwa kecintaan mereka terhadap klub patut diganjar dengan kemenangan.

Tidak ada yang salah dari persepsi ini. Yang salah adalah jika mencintai tim saat menang, namun mengamuk saat kalah. Kekalahan bagi tim yang berposisi sebagai tuan rumah dipandang sebagai aib yang memalukan.

Manajemen Luka

Penonton berpikir  bahwa mereka telah membayar tiket, berdiri meneriakkan chant sepanjang laga, dan ada perasaan bertanding di rumah sendiri (faktor pertandingan kandang) sehingga menang adalah harga mati.

Mereka mendukung tim secara totalitas. Sayangnya, ketika hasil yang diharapkan gagal terwujud, mereka pun juga total ambyar. Sakit yang dirasakan dirasakan teramat dalam. Rasa kecewa dan marah bercampur dengan rasa malu dan luka batin. Hal ini memicu sikap anarkis yang ditunjukkan guna meluapkan gejolak jiwa.

Rasa cinta yang tidak dikelola dengan baik dapat berubah menjadi malapetaka bagi semua pihak. Kerusuhan yang terjadi di Jogja berimbas pada penonton, pemain, manajemen klub, panitia pelaksana pertandingan, aparat keamanan, hingga pimpinan wilayah setempat.

Chaos tersebut sejujurnya bukan peristiwa negatif pertama dalam dinamika relasi dua klub. Sayangnya, penonton sering kali tidak belajar pada sejarah. Adanya aksi brutal pada masa lalu seharusnya dijadikan pelajaran agar tidak terulang kembali pada era berikutnya.

Kebencian tidak seharusnya diwariskan antargenerasi. Pendidikan menjadi hal penting dalam menyikapi kasus kerusuhan dalam sepak bola. Kewajiban bagi klub untuk mengedukasi suporter tentang nilai-nilai moral dan etika kadang terlupakan sehingga ketika ada provokator yang berulah di tengah laga, emosi penonton dengan mudah tersulut.

Sikap legawa patut ditularkan kepada semua golongan. Filosofi Jawa yang berbunyi menang ora umuk, kalah ora ngamuk jangan sampai hanya menjadi lips service semata. Slogan yang bertebaran dalam pertandingan seperti Lets Kick Racism Out of Football dan tulisan respect, fairplay, unity, discipline yang dipegang pemain saat sesi foto tim sebelum kick off dimulai perlu dipertegas implementasinya pada diri masing-masing individu.

Wajah untuk Dunia

Terpilihnya Indonesia sebagai tuan rumah kejuaraan sepak bola dunia Piala Dunia U-20 yang akan diselenggarakan pada 2021 sewajarnya kita tanggapi tidak hanya secara antusias melainkan juga sebagai tantangan bagi masyarakat kita untuk menjadi penerima tamu yang baik.

Semua mata tentu akan tertuju kepada Indonesia. Bayang-bayang nama beken yang berlaga di ajang prestisius tersebut semacam Callum Hudson-Odoi, Erling Braut Haland, Mason Greenwood, Rodrygo Goes, hingga Ansu Fati wajib kita maksimalkan dengan memberikan sambutan yang positif.

Urusan infrastruktur dan sarana pendukung memang menjadi urusan pemerintah, namun perihal tabiat penonton adalah urusan kita bersama. Jangan sampai kepercayaan yang diberikan FIFA kepada negeri ini disia-siakan dengan tindakan sedikit orang yang mencoreng wajah bangsa.

Mengutip ucapan Presiden Soekarno tentang Asian Games IV yang termuat di Majalah Sketmasa terbitan tahun 1962,”Jadilah tuan rumah yang hangat dan tunjukkan pada dunia bahwa Indonesia mampu berjaya.”


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten