Dudi Krisnadi, pengusaha hortikultura yang mengembangkan kelor di Blora, Jawa Tengah. (Dolanblora.com)

Solopos.com, BLORA — Wali Kota Samarinda H. Syaharie Jaang yang diiringi kepala-kepala organisasi perangkat daerah (OPD) di daerahnya jauh-jauh bertandang ke Blora, Jawa Tengah, medio pekan ini. Tujuannya untuk melihat langsung budi daya kelor di kabupaten yang berada di batas timur Jawa Tengah itu.

Memang apa menariknya kelor? Apa pula hubungannya kelor dengan Blora? Benang merahnya adalah Dudi Krisnadi, pengusaha hortikultura yang mengembangkan kelor di Blora sejak enam tahun lalu. Dari dialah keajaiban tanaman kelor atau Moringa oleifera terungkap.

Sebagaimana dikutip dari laman Dolanblora.com, Blora berhasil mencuri perhatian dunia karena memiliki Kampung Konservasi Kelor. Tanaman bernutrisi tinggi itu kini dikembangkan Dudi di Desa Ngawenombo, Kecamatan Kunduran.

Meskipun terletak di tengah area persawahan yang jauh dari pusat kabupaten, kampung ini sering didatangi pengusaha dari berbagai negara seperti Malaysia, Singapura, Myanmar, Korea, negara-negara Afrika, Eropa, hingga Amerika. Mereka datang untuk belajar kelor dan pengolahannya.

Maklum saja, Dudi berhasil menyabet penghargaan dari Jerman karena menemukan cara mengunci nutrisi kelor yang katanya terbaik di dunia. Dengan teknik itu, nutrisi yang merupakan kandungan gizi kelor tetap tinggi meskipun telah diolah.

Di Kampung Konservasi Kelor Blora itu, pengunjung bukan hanya diajari menanam kelor, tetapi mulai dari pengolahan tanah, pembibitan, perawatan, pemanenan hingga pengolahannya.

Bahkan cara memasak kelor juga diajarkan, baik untuk sayuran, obat kesehatan, hingga aneka jajanan bergizi tinggi.

Kelor Blora mengandung 18 asam amino yang dibutuhkan untuk membangun tubuh yang sehat dan bugar. Kandungan asam aminonya paling tinggi dibandingkan dengan sumber makanan lainnya, sehingga sangat tepat untuk menangani gizi buruk.

Dudi mengatakan, pohon kelor adalah pohon ajaib atau miracle tree. Terutama, katanya, di bagian daunnya.

Sebagaimana tumbuhan kelompok sayuran, maka daun kelor kaya vitamin, mineral, serat, dan fitokimia. Kandungan vitamin dan mineral kelor pun lebih tinggi dibandingkan sayuran lain pada umumnya.

"Menurut sebuah penelitian, vitamin A di daun kelor empat kali lebih tinggi daripada wortel dan vitamin C tujuh kali lebih tinggi dari jeruk. Dengan kandungan yang bisa menangkal radikal bebas tersebut, stres oksidatif juga bisa dikurangi," ujarnya.

Semua tahapan budi daya kelor itu diajarkan dengan detail di Kampung Konservasi Kelor Blora. Dengan langkah-langkah ala Dudi itulah nutrisi yang terkandung di dalam daun kelor tetap terjaga dengan baik.

Bukan hanya itu, Kampung Konservasi Kelor Blora juga memiliki rumah hidroponik serta aquaponik yang pantas ditiru. Rumah hidroponik serta aquaponik itu memanfaatkan kelor sebagai pupuk utama dalam memenuhi kebutuhan nutrisi tumbuh-tumbuhan dan ikan.

Pupuk kelor itu membuat sayur-sayuran dan ikan yang dihasilkan benar-benar sehat dengan label sayur dan ikan organik bebas kolesterol. Bahkan kambing yang memakan pakan ternak hasil olahan dari kelor bisa menjadi kambing organik non kolesterol, begitu juga ayam.

Tertarik ikut belajar pemanfaatan kelor di Blora?

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten