Anindya Nugraheni/Istimewa

Solopos.com, SOLO — Anak usia dini adalah anak yang berusia 0-6 tahun. Pada usia ini bisa dikatakan masa golden age, masa emas bagi anak. Pada masa ini anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat dan tidak bisa digantikan pada masa mendatang.

Menurut Mansur (2005), anak usia dini adalah kelompok anak yang berada dalam proses pertumbuhan dan perkembangan yang bersifat unik. Peran penting orang tua, guru, dan lingkungan dalam pertumbuhan dan perkembangan anak bermanfaat untuk memberi stimulasi tugas-tugas perkembangan dari berbagai aspek.

Keluarga atau orang tua adalah tempat pertama anak mendapatkan pendidikan. Menurut Wahyudi (2005: 89), orang tua berperan sebagai guru. Anak belajar banyak dengan melihat apa yang dilakukan orang tua. Anak belajar dari orang tua dengan cara meniru.

Apa yang dikerjakan atau dilakukan orang tua tak luput dari pengamatan si anak. Anak akan mengamati lalu meniru yang dilakukan orang tua. Bandura (Crain, 2014: 302) menyatakan dalam situasi sosial manusia sering kali belajar jauh lebih cepat hanya dengan mengamati tingkah laku orang lain.

Orang tua pasti ingin anaknya menjadi anak yang baik dan tidak meniru hal yang tidak pantas. Dalam  proses ini orang tua dan anak sama-sama belajar, belajar menjadi yang lebih baik. Orang tua belajar untuk berperilaku baik sehingga anak dapat melihat dan meniru.

Peran ayah dan ibu dalam keluarga sangat penting bagi pertumbuhan anak karena anak mendapatkan figur dari peran ayah dan ibu. Di keluarga, anak perempuan jamak diajarkan cara membersihkan rumah, memasak, mencuci, dan lain-lain.

Anak laki-laki sangat jarang diajarkan tentang hal itu. Biasanya anak laki-laki diajarkan kegiatan yang menggunakan otot, seperti memotong rumput di halaman, mencuci mobil, dan lain-lain. Kegiatan-kegiatan yang diajarkan orang tua kepada anak itu adalah cara bertahan hidup.

Penggolongan Aktivitas

Kegiatan-kegiatan itu bisa dilakukan laki-laki maupun perempuan. Jenis kelamin laki-laki dan perempuan sama di hadapan Tuhan. Pada kenyataannya yang berkembang di masyarakat adalah penggolongan aktivitas menurut gender.

Kata gender berasal dari bahasa Inggris yang berarti jenis kelamin. Jenis kelamin laki-laki atau perempuan dilihat dari fisik. Dalam masyarakat terbentuk stigma laki-laki kuat mengandalkan otot, perempuan lemah dan lembut mengandalkan hati.

Jika anak laki-laki terjatuh lalu menangis, orang tua biasanya mengucapkan ”anak laki-laki kok menangis”. Jka hal ini dibiasakan sampai dewasa, bukan tidak mungkin anak akan melihat bahwa air mata adalah lambing kelemahan dan hanya dilakukan oleh orang yang lemah.

Perempuan biasanya lebih sering menangis. Muncul kesimpulan perempuan adalah makhluk yang lemah. Orang tua bisa menenangkan dengan pelukan dan berkata ”semua baik-baik saja, tidak apa-apa kamu menangis karena itu wajar, tapi jangan terlalu sering nanti bisa menganggu aktivitasmu dan matamu menjadi bengkak”.

Dengan demikian dia akan paham bagaimana cara mengekspresikan emosi, tanpa harus merasa malu karena dia laki-laki. Dalam mendidik anak perempuan, beri dia kebebasan dalam aktivitas fisik, jangan hanya membatasi anak perempuan dengan permainan “khas perempuan” seperti main boneka, memasak, dan sebagainya.

Beri anak perempuan kebebasan untuk bermain bola atau bersepeda karena hal itu juga baik untuk perkembangan fisik motorik kasar. Seperti halnya pemilihan warna kesukaan anak, jangan pernah melabeli ”warna merah muda untuk perempuan, warna biru untuk laki-laki” karena pada hakikatnya warna itu semua sama dan setiap anak berhak memilih warna yang dia sukai.

Kunci utama menanamkan kesetaraan gender pada anak usia dini yaitu jangan membeda-bedakan aktivitas. Aktivitas tidak berjenis kelamin tertentu hingga kita yang melabeli. Pada dasarnya perempuan memiliki kesamaan dalam berbagai hal dengan laki-laki.

Semua Punya Hak Sama

Pengenalan gender kepada anak perlu ditanamkan sejak dini. Bisa melalui kegiatan bermain peran. Anak laki-laki dan perempuan akan bermain bersama dalam kegiatan ini. Anak-anak berhak menentukan peran apa yang dia inginkan, bukan membatasi peran ini lebih pantas untuk laki-laki atau perempuan.

Semua peran sama dan semua anak mendapatkan hak yang sama untuk memerankanm apa yang dia mau. Permainan ini akan membangun pengertian anak mengenai kesetaraan gender dalam hal pekerjaan. Bahwa semua berhak bekerja menjadi apa yang dia inginkan.

Dalam jangka panjang, memperkenalkan kesetaraan gender kepada anak usia dini tidak hanya menumbuhkan kepercayaan diri, melainkan juga membangun pola pikir anak yang tidak membedakan laki-laki dan perempuan. Perempuan sebenarnya bukanlah makhluk yang lemah dan perlu dikasihani.

Perempuan adalah makhluk yang kuat dan memiliki potensi yang bisa dioptimalkan eksistensinya. Laki-laki tidaklah identik dengan dunia kasar dan hanya mengandalkan otot. Dalam kehidupan masa depan perempuan dan laki-laki bisa berbagi peran dengan pasangannya.

Anak laki-laki yang kelak akan menjadi suami tidak ragu juga berbagi peran memasak, mencuci, dan sebagainya. Anak perempuan yang akan menjadi istri tidak keberatan jika harus memotong rumput, mencuci mobil, mengecat tembok, karena tidak saling memberi stigma bahwa pekerjaan tertentu terkait dengan gender tertentu.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten