Menerka Masa Depan Dunia Digital

Gagasan ini dimut Harian Solopos edisi Sabtu 17 Juli 2021. Esai ini karya Eko Wahyono, pengajar Media dan Budaya di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Tangerang.

 Eko Wahyono (Istimewa/Dokumen pribadi)

SOLOPOS.COM - Eko Wahyono (Istimewa/Dokumen pribadi)

Solopos.com, SOLO — Transformasi dan digitalisasi pada berbagai sektor kehidupan menghadirkan kemudahan baru dalam kehidupan umat manusia. Layanan publik yang dikembangkan melalui platform smart city atau smart village memang cukup efektif dalam memberikan pelayanan model baru kepada masyarakat.

Tak bisa dibayangkan bagaimana dunia pendidikan akan tetap berlangsung pada saat pandemi Covid-19 tanpa adanya teknologi digital. Begitu juga pada sektor kesehatan, tanpa adanya pendataan dan komunikasi yang akurat melalui bantuan teknologi digital tentu konsolidasi penanganan virus corona dan varian-varian barunya ini tidak akan efektif.

Sirkulasi ekonomi mikro yang sempat porak-poranda karena pandemi Covid-19 juga tertolong karena bantuan teknologi digital ini. Jelas fenomena ini bukan hanya proses transformasi teknologi, tetapi juga membentuk ekosistem baru dalam kehidupan. Bagi negara yang visioner, menguasai dunia digital sama halnya seperti menguasai dunia.

Sillicon Valley di Amerika Serikat yang didirikan pebisnis dan pemerintah pada era 1970-an diproyeksikan menjadi pusat teknologi digital dunia kini menjadi kenyataan. Facebook Inc, Apple Inc, Adobe Systems Inc, dan Google bermarkas di sini.

Berdirinya perusahaan digital multinasional ini merupakan buah dari kejelian melihat peluang dan kebutuhan pada masa depan. Teknologi digital semakin menegaskan identitas dan kekuatan sebuah negara dalam percaturan geopolitik ekonomi dunia.

Struktur Sosial Digital

Penggunaan teknologi digital tidak hanya urusan instrumen, tetapi melekat pada perilaku individu dan kolektif masyarakat. Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada tahun 2019-2020 menunjukkan pengguna Internet di Indonesia diperkirakan sebanyak 196,7 juta orang.

Ini angka fantastis karena artinya lebih dari 70% dari jumlah penduduk di Indonesia menjadi pengguna aktif Internet. Angka dan persentase ini selalu mengalami kenaikan tren tiap tahun dan belum pernah ada penurunan angka pengguna Internet di Indonesia. Masih dari sumber yang sama, sekitar 20% penduduk Indonesia menghabiskan waktu lebih dari delapan jam sehari dalam menggunakan Internet.

Secara kuantitatif dan kualitatif teknologi digital jelas membentuk struktur sosial digital pada kehidupan sosial masyarakat. Semua jenis kegiatan dan aktivitas masyarakat modern hampir tidak terlepas dari dunia digital. Manusia zaman kini terlahir sampai meninggal, dari bangun sampai tidur terlelap, sepertinya tidak terlepas dari konsep Internet of everything (IoE).

Penetrasi digital yang begitu deras menghunjam semua sendi kehidupan. Hal ini yang menjadi dasar terciptanya struktur sosial digital. Perusahaan digital multinasional akan selalu visioner dalam menciptakan produk hardware dan software, seperti komputer, handphone, komputer tablet, web browser, platform, dan media sosial.

Setali tiga uang, masyarakat juga membutuhkan perangkat yang semakin adaptif, efisien, inovatif, dan menghibur untuk memenuhi kebutuhan atau sekadar mengikuti tren gaya hidup. Produsen dan konsumen teknologi digital membentuk tatanan ekonomi, politik, dan sosial baru dalam masyarakat.

Secara makro, negara dengan pusat teknologi digital mampu membentuk konfigurasi maya yang mampu mengendalikan negara konsumen digital. Pada aras meso, perusahaan raksasa digital semakin mendominasi konstelasi dan kompetisi atas perusahaan lain yang baru berkembang. Pada aras mikro, individu yang kreatif, memiliki akses, dan sumber dayalah yang akan mengeruk keuntungan atas keberadaan teknologi ini.

Secara sosiologis teknologi digital mampu mendorong terciptanya struktur sosial digital, yakni sebuah tindakan dan kemampuan kelompok masyarakat tertentu untuk menjalin relasi atas dasar keberadaan teknologi digital. Bak pisau bermata dua, keuntungan dan kerugian saling berkelindan dalam fenomena ini.

Teknologi digital, khususnya media sosial, akan merangsang berbagai pertumbuhan ekonomi mikro di tengah pandemic Covid-19 yang tak kunjung usai. Hasil olahan lokal dan tradisional masyarakat perdesaan sering berhasil dipasarkan melalui media sosial dengan omzet jutaan rupiah tiap bulan. Banyak youtubers dan tiktokers dari desa mendapatkan keuntungan dari hasil kreativitas mereka mengomodifikasi aktivitas hidup mereka sehari-hari.

Konsep the winner takes it all rasanya masih relevan dengan kondisi teknologi digital masa kini dan mendatang. Negara penguasa teknologi akan menguasai dan mengambil segala yang bisa mereka dapatkan dari negara konsumen. Isu ekonomi, politik, keamanan, dan etika menjadi persoalan pada masa mendatang.

Peradaban Digital

Negara penguasa teknologi digital akan selalu memanfaatkan posisinya dalam geoekonomi untuk menganalisis dan memprediksi gerak-gerik perilaku ekonomi negara konsumen. Big data yang melimpah dari negara konsumen adalah senjata untuk merumuskan langkah ekonomis yang strategis untuk dijalankan pada masa mendatang.

Melalui data tak sulit bagi analis dan pebisnis untuk menciptakan komoditas yang laku keras di pasaran. Pada konteks politik dan keamanan, teknologi digital bisa dimanfaatkan oleh negara penguasa teknologi dalam strategi surveilans atas negara lainya. Dalam konstelasi geopolitik dunia pada masa mendatang, jelas ini adalah hal yang serius untuk diperhatikan.

Masih segar di ingatan ketika Edward Snowden sempat menggegerkan dunia saat membocorkan data dan dokumen penting Amerika Serikat. Sampai saat ini muncul banyak hacker dari kalangan masyarakat biasa yang berhasil menjebol data sensitif negara.

Pada masa depan Indonesia dituntut memiliki kemandirian berteknologi digital. Penciptaan perangkat keras dan lunak perlu dikembangkan untuk mewujudkan kemandirian ini. Pebisnis, universitas, dan negara dituntut untuk menciptakan kolaborasi yang harmonis. Belajar dari berbagai negara penguasa jagat digital, trio pionir inilah yang mampu mendorong proses transformasi digital.

Menggunakan platform pencarian dan artificial intelligence dari negera lain sama halnya menitipkan data bangsa ini kepada negara lain. Ini tentu sangat berbahaya. Seorang futurist James Canton, James Canton,  dalam buku The Extreme Future: the Top Trends that Will Reshape the World in the Next 5, 10, and 10 menjelaskan ilmu pengetahuan dan teknologi memiliki peran penting dalam proses revolusi dunia.

Istilah inovation economy adalah memanfaatkan berbagai ide, pengetahuan, daya kreatif, dan teknologi untuk peradaban sosial dan ekonomi umat manusia. Artinya, mau tidak mau sebuah negara harus maju dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi jika tidak ingin didominasi dan dikuasi oleh negara lain.

Berita Terkait

Berita Terkini

Membangun Ekosistem Lifelong Learning: Bagaimana Bertahan di Era Education 4.0?

Opini ini ditulis Astrid Widayani, SS., SE., MBA, dosen Manajemen Stratejik Fakultas Ekonomi Universitas Surakarta, mahasiswa Doctoral Program Doctor of Business Administration, Business Transformation and Entrepreneurship-Business School Lausanne, Switzerland.

Melawan Begal Digital

Esai ini ditulis oleh Arif Budisusilo, jurnalis senior Bisnis Indonesia Group, dan telah terbit di Koran Solopos edisi 22 September 2021.

Pelayanan Publik Indonesia Tangguh

Essai ini ditulis oleh Siti Farida, Kepala Ombudsman RI Perwakilan Jawa Tengah, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 21 Agustus 2021.

ISI Solo Butuh Rektor Petarung

Essai ini ditulis oleh Aris Setiawan, pengajar jurnalisme di Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 20 Agustus 2021.

Pendidikan Anak Merdeka

Essai ini ditulis oleh Paulus Mujiran, Ketua Pelaksana Yayasan Kesejahteraan Keluarga Soegijapranata Semarang, dan telah diterbitkan Koran Solopos 19 Agustus 2021.

Pramuka di Masa Pandemi

Essai ini ditulis oleh Alies Sri Lestari, guru Bahasa Indonesia dan pembina pramuka di SMPN 5 Solo, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 18 Agustus 2021.

Membangun Kemerdekaan Psikologis di Masa Pandemi

Opini ini ditulis Dr. Lilik Sriyanti, M.Si, dosen IAIN Salatiga dan Konselor Biro Konsultasi Psikologi.

Dimensi Sosial Teknologi Pertanian

Esai ini telah terbit di Harian Solopos 12 Agustus 2021, ditulis oleh Agung S.S. Raharjo, Analis Ketahanan Pangan Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian.

Magrib di Serambi

Opini ini terbit di Koran Solopos edisi Sabtu 14 Agustus 2021, ditulis oleh Ayu Prawitasari, jurnalis Solopos.

Kurang Kencang, Pak Jokowi...

Esain ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 11 Agustus 2021, karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia atau Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI).

Pelajaran dari Emas Olimpiade

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Rabu 11 Agustus 2021, ditulis oleh Agustinus Heruwanto Guru SMA Pangudi Luhur St. Yosef Solo.

Dampak Penerapan PPKM di Salatiga

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Senin 9 Agustus 2021, ditulis oleh Santi Widyastuti, statistisi di Badan Pusat Statistik Kota Salatiga.

Pitulungan

Esai ini karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Seni Memasarkan PPKM Level 4

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Sabtu 7 Agustus 2021, ditulis oleh Mohammad Eko Fitrianto, dosen Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya dan mahasiswa doktoral Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada.

Kehilangan Makna…

Tulisan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 4 Agustus 2021. Esai ini karya Sholahuddin, aktif di Solopos Institute.

Memeriahkan Hari Kemerdekaan ke-76 RI secara Daring

Opini ini ditulis Marwanto, dosen Bahasa Indonesia, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan FTIK IAIN Salatiga.