Ilustrasi pemilihan umum kepala daerah (JIBI/Harian Jogja/Istimewa)

Solopos.com, SOLO -- Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Solo sudah menetapkan satu pasangan, yakni Achmad Purnomo-Teguh Prakoso, untuk diusung sebagai calon wali kota (cawali) dan calon wakil wali kota (cawawali) pada Pilkada 2020 mendatang.

Pasangan itu tinggal menunggu rekomendasi dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDIP. Kecuali DPP merekomendasikan tokoh lain, Purnomo-Teguh dipastikan maju mewakili PDIP di ajang lima tahunan itu.

Lalu siapa kira-kira yang akan menjadi lawan Purnomo-Teguh di Pilkada Solo 2020? Hingga saat ini belum ada tokoh yang secara pasti menyatakan akan maju sebagai cawali-cawawali dari luar PDIP.

Putra sulung Presiden Joko Widodo (Jokowi), Gibran Rakabuming Raka, belakangan santer digadang-gadang menjadi penantang. Namun, kepastiannya maju sebagai cawali juga belum jelas. Dia tidak berhasil mendaftar pada proses penjaringan di DPC PDIP Solo.

Gibran masih punya peluang maju lewat PDIP dengan cara pendekatan ke DPD PDIP Jateng atau langsung ke DPP. Gibran bisa juga maju lewat jalur independen meski ia kini sudah menjadi anggota PDIP.

Di sisi lain, partai politik selain PDIP juga belum terlihat geregetnya menyambut Pilkada 2020. Dinamika terkini, sejumlah partai politik (parpol) yang menempatkan wakilnya di parlemen lokal menyiratkan bakal mendukung pasangan yang nanti diusung PDIP Solo.

Sinyal dukungan kepada pasangan cawali-cawawali PDIP datang dari DPD Partai Golkar Solo dan DPD Partai Amanat Nasiona (PAN) Solo. Sedangkan DPC Partai Gerindra Solo masih menunggu petunjuk dari DPD Partai Gerindra Jawa Tengah (Jateng).

Ketua DPC Partai Gerindra Solo, Ardianto Kuswinarno, saat diwawancarai Solopos.com di Gedung DPRD Solo, Selasa (24/9/2019), mengatakan sebenarnya ada pengurus DPP Partai Gerindra yang digadang-gadang maju di Pilkada Solo.

“Saya belum bisa sebutkan namanya. Sosok ini awalnya kami dorong untuk bisa meramaikan bursa calon kepala daerah Solo. Tapi seperti apa keputusannya, tunggu saya bertemu dengan pengurus DPD Partai Gerindra Jateng besok,” ujar dia.

Dengan peta seperti itu, artinya tinggal PKS dan PSI yang belum memutuskan sikap. Tapi dua partai yang memiliki masing-masing lima dan satu kursi di parlemen itu sangat sulit disatukan. PSI Solo menolak berada satu barisan koalisi dengan PKS.

Mereka beralasan sikap tersebut merupakan perintah DPP PSI. Artinya PKS akan kesulitan mendapatkan mitra koalisi hingga mencapai jumlah minimal sembilan kursi parlemen bila ingin menggalang kekuatan di luar PDIP.

Terpisah, Komisioner KPU Solo, Kajad Pamudji Joko Waskito, mengatakan bila hanya ada satu pasangan cawali-cawawali, Pilkada tetap bisa digelar. Teknisnya pasangan tunggal cawali-cawawali dilawankan dengan kotak kosong.

Bila pasangan cawali-cawawali unggul suara dari kotak kosong, pasangan tersebut dinyatakan memenangi pilkada. Begitu juga sebaliknya, bila kotak kosong yang unggul suara, pasangan cawali-cawawali dinyatakan kalah dan pilkada diulang.

Lebih jauh, Kajad menerangkan sebenarnya KPU Solo menyiapkan anggaran Pilkada Solo 2020 untuk tiga pasangan cawali-cawawali. Alasannya peta politik di parlemen lokal serta membuka celah bagi lahirnya pasangan dari perseorangan.

“Anggaran yang kami ajukan ke TAPD Rp17,8 miliar. Jumlah itu kami asumsikan atau prediksi ada tiga pasangan calon, dari koalisi parpol maupun dari jalur perseorangan. Tahapan Pilkada Solo kami mulai awal November 2019,” terang dia.

 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten