Menengok Koleksi Benda Keramat Semarangker
Anggota Semarangker, Pakde Ari, saat menunjukkan koleksi benda keramat di markas Semarangker, Jl. Lamper Tengah, Semarang, beberapa waktu lalu. (Solopos Imam Yuda S.)

Semarangpos.com, SEMARANG – Bagi sebagian masyarakat Kota Semarang, nama komunitas Semarangker bukanlah sesuatu yang asing. Komunitas ini berisi orang-orang yang gemar menjelajah tempat-tempat horor atau menyeramkan di sekitar wilayah Kota Semarang.

Tempat-tempat seperti Bukit Gombel, yang masuk dalam daftar acara On The Spot di Trans 7 sebagai salah satu lokasi paling menyeramkan di Indonesia hingga Hutan Tinjomoyo pun pernah komunitas itu datangi.

Ada sebuah kisah misteri nan inspiratif yang dilakukan komunitas yang memiliki anggota mencapai 86 orang itu saat mendatangi tempat-tempat angker. Setiap datang ke lokasi horor dan menemukan benda yang dianggap keramat, anggota komunitas Semarangker selalu membawanya pulang.

Benda-benda itu pun hingga kini tersimpan dengan rapi di salah satu ruangan di markas komunitas Semarangker yang terletak di Jl. Lamper Tengah, Semarang.

Saat Semarangpos.com mendatangi markas komunitas Semarangker, benda-benda itu tersusun rapi di ruangan berukuran 3x3. Ruangan itu sepintas memang tampak menyeramkan dan hanya diterangi lampu berkekuatan 5 watt.

Di ruangan itu tampak berbagai macam benda, seperti bambu gila, baju tidur berwarna putih yang konon bekas dipakai orang bunuh diri, kertas bertuliskan huruf china, hingga boneka yang didandani mirip pocong.

“Pocong [boneka] itu memang tidak asli, tapi talinya asli. Kami ambil dari salah satu makam di Karanggawang, Semarang. Sekarang makamnya sudah digusur dan dibangun indekos,” aku salah satu anggota Semarangker, Slamet Wisnu Aji, kepada Semarangpos.com, beberapa waktu lalu.

Slamet mengaku sudah menjadi kebiasaan anggotanya membawa pulang benda yang ditemui dan dianggap keramat. Hal itu dilakukan bukan semata-mata demi tujuan mistis atau musyrik.

“Kami itu orang yang suka melanggar aturan selama tidak bertentangan dengan norma dan hukum. Saat ada yang berkata pantangan kalau mengambil benda di tempat keramat. Kami justru mengambilnya,” terang anggota lain Semarangker yang akrab disapa Pakde Ari.

Pakde Ari menceritakan pengalamannya saat mendatangi sebuah bekas bangunan tua di Bukit Gombel. Saat itu dirinya dan beberapa anggota Semarangker tiba-tiba dilempar sebuah batu dari arah yang tidak diketahui.

Setelah dicari-cari sosok yang melempar tidak ditemukan. Batu itu pun lantas dibawa pulang dan disimpang di ruang koleksi Semarangker.

Begitu juga saat mendatangi rumah kuno yang konon menjadi lokasi pesugihan di kawasan Tanah Putih, Candisari, Semarang. Beberapa kali, anggota Semarangker menemukan kertas bertuliskan huruf China yang ditempel di salah satu sudut rumah.

“Setelah kami tanya-tanya ke warga sekitar, enggak ada yang tahu. Bahkan, mereka bilang kalau rumah itu tak pernah lagi ada yang mengunjungi. Kertas-kertas itu pun lantas kami ambil dan bawa pulang. Bentuknya seperti kertas-kertas jimat yang ada di film-film vampir China,”  cerita Pakde Ari.

Ketua Semarangker, Parmuji, mengatakan selama menyimpan benda-benda keramat itu anggotanya tak pernah diganggu makhluk halus.

“Kami percaya sama Tuhan. Semua kami serahkan kepada Tuhan. Ya, alhamdulillah hingga kini kami enggak takut sama yang namanya hantu. Takutnya cuma kalau ditagih debt collector,” kelakar pria yang akrab disapa Paredo itu. 

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya



Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho