Kategori: Kolom

Meneguhkan Komitmen Kebangsaan


Solopos.com/Ajie Najmuddin

Solopos.com, SOLO -- Tanggal 31 Januari 2021 lalu Nahdlatul Ulama (NU) memperingati hari lahir ke-95 dalam hitungan tahun Masehi. NU akan memperingati hari lahir ke-98 dalam hitungan tahun Hijriah pada 28 Februari 2021 atau 16 Rajab 1442 H.

Tema yang diangkat pada momentum peringatan hari lahir tahun ini adalah Khidmah NU: Menyebarkan Aswaja dan Meneguhkan Komitmen Kebangsaan. Terkait dengan komitmen kebangsaan NU, tentu tidak ada yang perlu diragukan lagi, bahkan dalam sebuah anekdot kepanjangan PBNU yang mestinya Pengurus Besar Nahdlatul Ulama menjadi Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 1945.

Anekdot tersebut bisa dimaknai sebagai sebuah kebetulan, namun fakta sejarah menunjukkan perjalanan NU menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sejak era sebelum hingga sesudah kemerdekaan, NU yang didirikan pada tahun 1926 menjadi salah satu elemen penting dalam perjuangan bangsa Indonesia.

Keterlibatan dan peran besar para tokoh NU dalam peristiwa-peristiwa penting menjadi bukti komitmen dan khidmat NU kepada bangsa ini. NU juga mengenalkan serta menyemai komitmen tersebut kepada generasi penerus sejak dini, terutama melalui pendidikan. Seperti halnya ketika pada awal NU mendirikan madrasah, para pengurus NU senantiasa mencantumkan kata wathan yang berarti tanah air.

Di Surabaya dan Malang ada Nahdlatul Wathan, Akhul Wathan di Semarang, Far’ul Wathan di Gresik, Hidayatul Wathan di Jombang, Ahlul Wathan di Wonokromo, dan lain sebagainya. Tentu pencantuman ini bukan tanpa sebab, melainkan menjadi salah satu bagian dari penyemangat untuk menambah rasa cinta tanah air kepada para siswa.

Setiap hendak memulai kegiatan belajar mengajar di sekolah, para siswa juga menyanyikan bersama syair Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air). Syair ini di tiap daerah di negeri ini dikumandangkan dengan variasi cara sendiri-sendiri. Salah satu yang kita kenal sampai sekarang adalah syair yang berjudul Ya Lal Wathan.

Dalam berbagai kesempatan, kiai-kiai NU juga menyerukan persatuan bangsa ini, seperti yang disampaikan oleh Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy’ari pada muktamar NU di Banjarmasin tahun 1936. Ia mengatakan jangan kalian jadikan perdebatan itu menjadi sebab perpecahan, pertengkaran dan bermusuh-musuhan… ataukah kita teruskan perpecahan; saling menghina dan menjatuhkan; saling dengki mendengki kembali kepada kesesatan lama? Demi Allah, hal semacam itu merupakan musibah dan kerugian yang amat besar (Anam, 1985).

Seiring berjalannya waktu, upaya menanam dan meneguhkan komitmen NU kepada bangsa tersebut kemudian dirumuskan oleh para ulama NU ke dalam konsep yang dijadikan acuan warga nahdliyin. Salah satunya adalah konsep trilogi ukhuwah yang dikenalkan Rais Aam PBNU tahun 1984-1991, K.H. Ahmad Shiddiq, menjelang muktamar ke-28 NU di Krapyak, Kota Jogja, pada tahun 1989.

Konsep trilogi ukhuwah itu adalah ukhuwah islamiah (persaudaraan sesama muslim), ukhuwah wathaniah (persaudaraan kebangsaan), dan ukhuwah basyariah (persaudaraan kemanusiaan). Konsep trilogi ukhuwah kemudian menjadi pedoman warga NU dalam berbagai aspek. Contohnya adalah ketika para anggota Barisan Ansor Serba Guna (Banser) NU ikut berpartisipasi dalam pengamanan gereja.

”Musuh Utama”

Ini merupakan implementasi dari salah satu trilogi persaudaraan tersebut. Dalam aspek dan kasus lain yang lebih besar, pembelaan NU kepada kelompok yang tertindas dan sikap tegas NU kepada kelompok intoleran adalah juga manifestasi trilogi persaudaraan. Sikap tegas NU tersebut membuat NU seperti menjadi ”musuh utama” bagi kelompok yang ingin mengganti ideologi negara ini.

Sikap tegas NU mengemuka pula ketika Pancasila hanya dijadikan sebagai alat politik, seperti yang dilakukan penguasa pada masa Orde Baru, ketika Pancasila digunakan sebagai sarana untuk mendiskriminasi dan menjadi alat memberi stigma kepada kelompok lain.

Mengapa NU terus mengulangi peneguhan (juga menggaungkan) komitmen terhadap bangsa Indonesia? Salah seorang kiai NU di Kabupaten Klaten, Allahu yarham K.H. Muslim Rifai Imampuro (Mbah Liem), dalam setiap acara sering mengatakan ”muga-muga NKRI Pancasila aman makmur damai, harga mati” yang kemudian pada masa sekarang kita akrab dengan slogan ”NKRI Harga Mati, Pancasila Jaya!”

Ini tentu berkaitan dengan kalimat awal pada tema harilahir NU tahun ini, yakni menyebarkan aswaja. Aswaja yang merupakan singkatan dari ahlussunnah wal jamaah, merupakan sebuah paham keagamaan yang memiliki karakter moderat, toleran, seimbang, serta dinamis dalam mengamalkan kehidupan beragama, bermasyarakat, serta berbangsa (Ghopur, 2018).

Karakter paham aswaja yang selaras dengan semangat Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam ini tentu sangat dibutuhkan di tengah gejolak sosial ekonomi dan politik di negeri ini yang mulai mengarah pada disintegrasi bangsa. Muncul pula kelompok yang mengatasnamakan keagamaan dan kesukuan yang menjauhi semangat kebinekaan dan Pancasila sebagai dasar negara.

Melalui paham aswaja ini pula NU menempatkan relasi antara rakyat dan pemerintah yang harus berjalan secara seimbang, bukan dalam titik ekstrem yang saling tarik-menarik. Rakyat ditempatkan sebagai pusat yang secara otonom dapat mengembangkan kedaulatan serta mengekspresikan hak dan kewajiban kemudian di sisi lain negara memegang otoritas dalam penataan masyarakat.

Negara juga mesti memenuhi hak-hak dasar warga yang kemudian dikenal dengan lima pilar, yakni upaya menjaga agama, menjaga jiwa, menjaga akal, menjaga keturunan, dan menjaga harta. Hak-hak tersebut harus diupayakan terpenuhi secara adil kepada seluruh warga negara tanpa memandang asal usul.

Selama pemerintah Indonesia masih bisa menunaikan hak-hak tersebut, sudah semestinya NU dan juga elemen lain patut terus merawat dan menjaga bangsa ini. Sebaliknya, bila negara tidak mampu memenuhi atau menyelewengkan kewajiban kepada warga negara,tugas NU dan elemen lain untuk mengkritik dan terus mengingatkan agar ”rumah bersama” ini dapat tetap berdiri kukuh serta penghuninya makmur sejahtera.

Share
Dipublikasikan oleh
Ichwan Prasetyo