LATIHAN--Ratusan mahasiswa Jurusan Tari ISI Solo berlatih koreografi untuk pembukaan Solo Menari 24 Jam di timur Teater Besar ISI Solo, Jumat (27/4). (Espos/Adib Muttaqin Asfar))
[caption id="attachment_182383" align="alignleft" width="370" caption="LATIHAN--Ratusan mahasiswa Jurusan Tari ISI Solo berlatih koreografi untuk pembukaan Solo Menari 24 Jam di timur Teater Besar ISI Solo, Jumat (27/4). (Espos/Adib Muttaqin Asfar))"][/caption] Lirik lagu Iwak Peyek yang biasanya begitu populer di kalangan penikmat musik dangdut terdengar jauh lebih universal pekan lalu. Maklum saja, lagu itu muncul dengan rasa yang berbeda dibandingkan saat meluncur dari karakter vokal grup Trio Macan. Setiap sore ratusan mahasiswa Jurusan Tari Institut Seni Indonesia (ISI) Solo menggunakan lagu itu sebagai pengiring tarian mereka. Menjelang pergelaran Solo Menari 24 Jam, mereka mempersiapkan sebuah pertunjukan panggung yang berasal dari gabungan berbagai unsur seni, yaitu perkusi, tari dan tentu saja Iwak Peyek. Para mahasiswa yang kebanyakan berasal dari semester II dan IV ini memang menjadi bagian terbesar dari tarian itu. Keterlibatan mereka dalam Solo 24 Jam Menari ini memang bukan dalam rangka menunjukkan eksistensi atau mencari uang, melainkan mempraktikkan apa yang mereka dapat dari ruang kuliah. “Ini seperti mata kuliah tari yang kemudian dituangkan di sini,” ujar Eko Supendi alias Pebo, pengajar koreografi yang juga menjadi Ketua Bidang Kreatif dalam pergelaran ini, Jumat (27/4) lalu. Pebo yang sudah berkali-kali terlibat dalam gelaran serupa tahun sebelumnya mengakui penampilan mereka memang tidak ada yang membayar. Namun tak ada seorangpun yang mengeluhkan soal itu. Usai berlatih untuk pertunjukan pembuka setiap sore, mereka kembali ke kelas masing-masing untuk menjalani latihan kelompok. Sementara para pengajar dan mahasiswa semester VIII masih sibuk dengan persiapan panggung dan perlengkapannya. Lelah? “Memang capek banget, tapi ini sudah komitmen, mereka sangat antusias kami ingin menampilkan yang terbaik,” katanya. [caption id="attachment_182377" align="alignleft" width="235" caption="Deis Nur Siwi P R (FOTO/ama)"][/caption] Mempersiapkan panggung yang estafet selama 24 jam memang sangat melelahkan. Tentu saja hal ini bukan berarti kesiasiaan. Pergelaran besar seperti ini terbukti cukup manjur untuk memperkenalkan Solo sebagai pusatnya penari, termasuk kampus ISI Solo. Kabar tentang pergelaran yang dibuka di berbagai titik di Kota Solo ini pun sudah sampai ke mana-mana, termasuk Ibukota. “Seperti orang bilang, kalau cari penari datanglah ke Solo. Ini adalah salah satu efeknya.”   Tak Harus Mahasiswa Tari [caption id="attachment_182378" align="alignleft" width="235" caption="Sumari (FOTO/ama)"][/caption] Meskipun ISI Solo adalah bagian penting dari pergelaran ini, panggung-panggung Solo Menari 24 Jam bukan monopoli para mahasiswa dari Jurusan Tari perguruan tinggi tersebut. Selain para mahasiswa jurusan tari dididik untuk menjadi profesional, ada banyak mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi lain yang sama sekali tak ada kaitannya dengan seni pertunjukan. Mereka berasal dari berbagai fakultas seperti pendidikan, sastra bahkan kedokteran. Salah satunya adalah para mahasiswa yang tergabung dalam Badan Koordinasi Kesenian Tradisional UNS. Status mereka bukan penari profesional dan lebih cocok disebut sebagai pecinta tari. Namun dalam hal teknik, mereka boleh disejajarkan dengan para profesional. “Kami sering ditanggap saat acara-acara di kampus, begitu pula kalau ada resepsi pernikahan di Gedung Wanita,” kata Ketua BKKT UNS, Sumari, Sabtu (28/4) lalu. Kelompok ini memang sudah jadi langganan berbagai festival tari, seperti festival tari dan karawitan bertajuk Wisdom Jogja pada 2010 lalu, acara kesenian di Unair dan Pekan Seni Mahasiswa Daerah. Di Solo Menari 24 Jam yang sudah jadi agenda tahunan di Solo, mereka juga selalu diundang untuk tampil. Aslinya mereka adalah para penari tradisional, tapi layaknya para penari profesional, mereka juga bisa berkreasi membuat koreografi baru. Seperti yang mereka tunjukkan Minggu (29/4) lalu, ada tarian modern yang bertajuk News Paper Dance. “Kami memakai koran sebagai bendera dan properti, sedangkan kostum kami tetap biasa. Intinya ini tari rakyat yang menggambarkan kerukunan, itu saja,” kata mahasiswa Jurusan Sastra Daerah ini. Di kampus, menari memang menjadi aktivitas nomor dua mereka. Maklum saja karena mereka kuliah di jurusan yang nyaris tak ada kaitannya dengan seni tari. Namun ada juga yang cukup serius menekuni dunia tari meskipun bukan kuliah di jurusan tari atau seni pertunjukan lain. “Kalau saya sudah suka menari sejak kecil, tapi sejak SMP malah berhenti. Baru kemudian saya melanjutkan pendidikan di bidang tari,” kata Deis Nur Siwi Putri Rahayu, mahasiswi Sastra Daerah yang juga anggota BKKT UNS, Sabtu lalu. Deis adalah salah satu mahasiswa UNS yang sudah pernah mengenyam pendidikan tari sebelum kuliah. Dia mendapatkan pendidikan tarinya saat masih sekolah di SMK N 8 Solo yang dikenal luas sebagai SMK kesenian. Mahasiswi asal Purwantoro, Wonogiri ini juga sudah sering tampil di berbagai acara di Balaikota dan acara kesenian lain yang digelar oleh para pejabat daerah. Saat itu dia bergabung dengan sebuah grup kesenian reog yang memperkenalkannya dengan berbagai panggung pertunjukan. Justru setelah lulus dari SMK N 8 Solo, Deis malah ingin belajar lebih luas tentang sastra daerah. Itu pula yang akhirnya membawanya kuliah di UNS, bukan di ISI Solo. Namun dalam soal menari, Deis tak meninggalkannya begitu saja. Hingga kini dia masih aktif menari, setidaknya bersama sesama anggota komunitas BKKT di kampusnya. “Kalau terus menari insyaAllahiya, tapi kalau saat ini memang fokus ke kuliah dulu. Baru nanti kalau ternyata bermanfaat, saya lanjutkan menari.” [caption id="attachment_182379" align="alignleft" width="370" caption="BUKAN PROFESI--Penampilan salah salah satu tim tari asal Bandung di Pendopo ISI Solo, Minggu (29/4). Mereka memang bukan penari profesional, namun punya kualitas bagus berbagai festival. (Espos/Adib Muttaqin Asfar)"][/caption]

Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten