Muhammad Qomar/Istimewa

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (24/8/2019). Esai ini karya Muhammad Qomar, lulusan program Master of Public Administration University of Malaya, Kuala Lumpur, Malaysia. Alamat e-mail penulis adalah qomarmoehammad@yahoo.com.

Solopos.com, SOLO -- Pemerintah terus mendorong pertumbuhan usaha rintisan baru (start up) digital. Keseriusan pemerintah salah satunya diperlihatkan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika yang mendukung acara Ignite the Nation: Gerakan 1.000 Start Up Digital yang berlangsung pada 18 Agustus 2019 di Istora Senayan Jakarta.

Acara tersebut dibuka Wakil Presiden Jusuf Kalla (bisnis.com, 18 Agustus 2019). Fenomena pertumbuhan usaha rintisan digital tidak terlepas dari kehadiran revolusi industri 4.0 yang dimotori Internet. Kehidupan manusia sehari-hari semakin terikat dengan berbagai macam peralatan yang terhubung dengan Internet.

Banyak hal yang berubah dari analog menjadi digital, termasuk kegiatan ekonomi. Kemunculan usaha rintisan digital merupakan salah satu contoh kegiatan bisnis era ekonomi digital (digital economy). Tidak berlebihan kiranya Tapscott (1995) menyatakan dunia bisnis berubah setelah kehadiran Internet. Negroponte (1995) mengemukakan keunggulan ekonomi digital seperti menggambarkan sesuatu yang belum ada (desain) dan perpindahan global secara cepat.

Ekonomi digital tidak bisa terlepas dari infrastruktur komunikasi dan jaringan digital. Kedua hal tersebut menyediakan platform global untuk manusia dan organisasi dalam merancang strategi, berinteraksi, berkomunikasi, berkolaborasi, dan mencari informasi.

Ekonomi digital juga telah mengubah kondisi pasar tenaga kerja. Digitalisasi yang berjalan dengan cepat secara luas menciptakan banyak hal yang dapat dikerjakan secara digital. Banyak jenis pekerjaan  yang kini dapat diselesaikan secara cepat dari jarak jauh dan fleksibel dari segi waktu.

Rapat-rapat kerja kini juga dapat diikuti peserta dari tempat-tempat yang berbeda-beda. Satu hal yang tidak bisa dimungkiri dalam era ekonomi digital sekarang ini adalah munculnya para pekerja lepas dadalam jaringan (daring) atau online freelancer.

Para pekerja lepas daring adalah mereka yang bekerja tidak terikat waktu dan tempat dan tidak terikat dengan suatu instansi. Keahlian mereka ditawarkan secara daring (online). Penawaran jasa mereka dapat diakses dari berbagai belahan dunia karena menggunakan platform Internet.

Tawaran Jasa Sangat Beragam

Jasa yang ditawarkan para online freelancer sangat beragam, mulai dari pemrograman komputer, desain website, hingga konsultan pajak. Keanekaragaman jenis pekerjaan yang ditawarkan para online freelancer ini telah melahirkan berbagai kesempatan di negara-negara berkembang yang belum pernah ada sebelumnya.

Asia menyumbang jumlah online freelancer terbesar di dunia (60%) yang diikuti Eropa dan Amerika Utara (weforum.org, 19 Juni 2019). Online freelancer dunia yang bekerja secara daring terbanyak dari India (24%), disusul Bangladesh (16%) dan Amerika Serikat (12%). Masing-masing negara memiliki fokus bidang pekerjaan online freelancer sendiri-sendiri.

Sebagai contoh, pengembangan perangkat lunak (software) didominasi India. Sedangkan Bangladesh merupakan pemasok utama online freelancer di bidang pemasaran dan pendukungnya (weforum.org, 19 Juni 2019). Digitalisasi yang didukung perkembangan Internet yang masif telah menjadikan Bangladesh sebagai pemasok online freelancer terbesar kedua di dunia.

The Oxford Internet Institute mencatat 500.000 online freelancer aktif bekerja dari 600.000 online freelancer yang terdapat di Bangladesh. Beberapa orang di antara mereka bahkan mampu menghasilkan US$100.000 per tahun. Hal ini diperhatikan oleh pemerintah Bangladesh yang mendorong angkatan kerja untuk menjadi online freelancer.

Menjadi online freelancer dapat diterapkan di Indonesia. Penetrasi pengguna Internet di Indonesia telah mencakup 56% menurut HootSuite dan We Are Social  pada Februari 2019. Internet yang menjangkau lebih dari separuh penduduk Indonesia harus dapat dioptimalkan untuk memperbanyak online freelancer.

Badan Pusat Statistik mencatat tingkat pengangguran terbuka di Indonesia sebesar 5,01% dari tingkat partisipasi angkatan kerja pada Februari 2019. Tingkat partisipasi angkatan kerja tersebut mencakup 6,82 juta orang.

Pemerintah dapat mendorong angkatan kerja yang tidak terserap pasar tenaga kerja menjadi online freelancer sehingga dapat menurunkan tingkat pengangguran terbuka secara lebih signifikan. Keterbatasan pihak swasta dan pemerintah dalam menyediakan lapangan pekerjaan dapat disiasati para pencari kerja dengan menjadi online freelancer.

Pasar online freelancer ini sangat terbuka dengan klien dari seluruh dunia yang dapat dipilih sesuai dengan kemampuan masing-masing online freelancer. Aneka macam pekerjaan yang ditawarkan juga banyak yang tidak mengikat dengan waktu yang fleksibel.

Kartu Prakerja

Menjadi online freelancer dapat menjadi salah satu solusi untuk pemberdayaan perempuan yang kesulitan dengan pekerjaan formal karena harus mengurus keluarga. Aneka macam pekerjaan yang tidak mengikat dengan waktu yang fleksibel dapat menjadi pilihan bagi perempuan yang harus mengurus keluarga untuk mendapatkan penghasilan.

Dengan demikian dapat tercapai kesetaraan kerja bagi perempuan dan dapat menggerakkan perekonomian nasional. Start up digital dan online freelancer memang belum pernah ada dalam sejarah Indonesia pada masa lalu. Keduanya terlahir seiring dengan perkembangan Internet dan revolusi industri 4.0.

Tidak seperti start up digital, online freelancer terlihat belum mendapat dukungan pemerintah. Online freelancer juga dapat berkontribusi pada perekonomian nasional jika bidang usaha ini mendapat perhatian serius dari pemerintah. Kebijakan pemerintah dengan membangun infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi untuk menghubungkan berbagai daerah di Nusantara layak diapresiasi. Hal ini dapat mendorong perkembangan online freelancer.

Insentif lain yang dapat diberikan pemerintah antara lain penyediaan berbagai pelatihan dan sertifikasi yang mendukung online freelancer di berbagai bidang usaha. Patut dinantikan apakah program kartu pra-kerja Presiden Joko Widodo yang menjanjikan aneka pelatihan  keterampilan kepada para pencari kerja mampu mendorong lahirnya online freelancer.

Sosialisasi untuk menjadi online freelancer perlu dilakukan mengingat hal ini dapat memberdayakan para pencari kerja. Dengan demikian tidak hanya digital start up yang mendapat dukungan pemerintah, tetapi juga online freelancer, sehingga mereka dapat terlibat dalam ekonomi digital dan ikut menggerakkan roda perekonomian nasional.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten