Menanti Kinerja Wali Kota Rasa Presiden
Nurmadi H. Sumarta (Istimewa/Dokumen pribadi)

Hiruk pikuk pemilihan wali Kota Solo sudah usai dengan kemenangan mutlak pasangan calon wali kota Gibran Rakabuming Raka dan calon wakil wali kota Teguh Prakosa. Kemenangan ini dibayangi kekhawatiran rendahnya tingkat partisipasi masyarakat dalam pemilihan kepala daerah kali ini.

Faktanya pasangan Gibran dan Teguh meraih kemenangan dalam pemilihan kepala daerah 2020 dengan angka 86,54%. Partisipasi pemilih berdasar daftar pemilih tetap sebesar 70,52%. Ini merupakan angka yang cukup tinggi di tengah pandemi Covid-19 yang membuat masyarakat enggan keluar rumah.

Dengan demikian pemilihan wali Kota Solo bisa disebut sah dengan kemenangan meyakinkan pasangan Gibran dan Teguh. Kita semua tahu Gibran adalah anak sulung Presiden Joko Widodo. Sebagai anak presiden tentu memiliki fasilitas keluarga presiden seperti pengamanan oleh pasukan pengamanan presiden selama 24 jam.

Gibran tentu juga memiliki berbagai kemudahan akses birokrasi dan dukungan politik untuk menjalankan strategi dan program yang akan menunjang keberhasilan dalam memenuhi janji yang diungkapkan semasa kampanye pemilihan kepala daerah 2020.

Dukungan partai politik pengusung serta sukarelawan dan simpatisan ayahnya turut memperkuat popularitas, elektabilitas, dan akseptabilitas Gibran. Beredar rumor di tengah masyarakat yang mempertanyakan mengapa Gibran yang masih belia mau mencalonkan diri memimpin Kota Solo berpenduduk sekitar 565.000 jiwa ini.

Semula Gibran dalam berbagai pemberitaan dikabarkan sama sekali tak tertarik dengan dunia politik dan ingin berkonsentrasi pada bisnis di bidang penyewaan gedung dan katering atau jasa boga. Perubahan sikap tersebut tentu tidak lepas dari arahan dan restu ayahnya agar bisa meneruskan pembenahan Kota Solo.

Sebenarnya memang tidak semua pihak benar-benar menginginkan Gibran menjadi wali Kota Solo. Partai politik pengusung butuh waktu dan tekanan khusus untuk merekomendasikan Gibran hingga pandangan masyarakat yang sempat meragukan kemampuan dan kapabilitas Gibran.

Kehadiran wali kota yang berbeda, dalam tanda kutip, bagi Kota Solo ini, menurut pemaknaan saya, memang penting, bahkan sudah berada di titik krusial. Sepeninggal Wali Kota Solo Joko Widodo menjadi Gubernur DKI Jakarta dan berlanjut menjadi Presiden Republik Indonesia, Kota Solo  cenderung stagnan.

Kurang ada perkembangan atau kemajuan yang membuat kota ini terkenal. Menyandang sebagai kota budaya, Kota Solo tak juga menunjukkan jati diri sebagai pusat kebudayaan, terutama budaya Jawa. Kota Solo memiliki posisi strategis secara ekonomi dan mobilitas moda transportasi.

Akses tol trans-Jawa dengan gerbang terbanyak di wilayah Soloraya dibanding wilayah lain yang dilewati juga jadi keunggulan posisi strategis Kota Solo. Diperlukan banyak terobosan yang hanya bisa dilakukan orang berpikiran progresif dan berjiwa muda untuk mendorong kota ini maju ke arah yang lebih baik.

Harapan sebagian warga sudah dijatuhkan kepada Gibran. Ada sebagian yang menumbuhkan asa untuk bernostalgia dengan Wali Kota Joko Widodo. Gibran diekspektasikan memiliki pemikiran dan visi seperti  sang ayah. Dengan posisi sang ayah di kursi nomor satu republik ini, kemenangan Gibran diharapkan akan menghadirkan ”wali kota rasa presiden” di Kota Solo.

Citra dan sepak terjang Joko Widodo yang begitu peduli kepada rakyat kecil saat menjadi wali kota kembali muncul di angan-angan warga Kota Solo. Masyarakat Kota Solo mendambakan pemimpin yang mau mendengar, peduli, dan mengerti pada rakyat kecil.

Selain pro rakyat dengan memahami persoalan mereka dan menjawab dengan aksi nyata, masyarakat berharap banyak hal yang merupakan keunggulan kota ini bisa diangkat lagi. Tranportasi publik menjadi salah satu hal yang  diharapkan rakyat segera mendapat pembenahan oleh Gibran.

Konsorsium

Kemacetan lalu lintas mulai menjadi problem di Kota Solo. Pada jam-jam sibuk beberapa ruas jalan macet parah yang membuat pengguna jalan harus bersabar. Wali kota baru diharapkan berani membuat kebijakan mengutamakan transportasi publik daripada kendaraan pribadi.

Perlu dibangun konsorsium-konsorsium yang bersedia menanamkan modal untuk sektor ini secara komprehensif, termasuk jalan-jalan yang memadai di tiap kampung sehingga bisa diakses angkutan umum. Jika infrastruktur dibangun secara memadai, masyarakat pasti mau memanfaatkan transportasi umum yang bisa mengurangi kemacetan lalu lintas.

Sebagai kota yang mengandalkan pendapatan asli daerah dari sektor jasa, perdagangan, dan pariwisata, Gibran diharapkan fokus membangun infrastruktur perdagangan dan pariwisata. Dalam hal perdagangan, Kota Solo adalah kota yang strategis letaknya, antara Semarang dan Jogja, sebagai kota besar sehingga kota ini memilik banyak pedagang dan disinggahi banyak pembeli.

Pasar-pasar tradisional disulap menjadi pasar modern yang bersih dan nyaman sehingga denyut nadi perekonomian terasa deras di sini. Kota Solo juga berstatus juga sebagai kota batik. Kota Solo sangat diuntungkan dengan perniagaan batik. Gibran diharapkan bisa menguatkan citra kota ini sebagai pusat batik Indonesia.

Kota Solo memiliki usaha batik raksasa Danar Hadi dan dua pusat perbelanjaan batik yang representative dikunjungi siapa saja, yaitu Pasar Klewer dan Pusat Grosir Solo. Sektor priwisata di Kota Solo memiliki keunggulan yang tak dimiliki kota lain, yakni ada dua keraton warisan kebudayaan masal lampau, Keraton Kasunanan Surakarta dan Pura Mangkunegaran.

Bila Gibran mampu memoles dengan kreatif maka dua objek istana kuno itu bisa dijual untuk menarik wisatawan berbondong-bondong mengunjungi Kota Solo. Ada juga wisata religi yang hanya terdapat di kota ini dan bisa mendatangkan ratusan ribu peziarah, yaitu haul habib. Dalam acara mendoakan almarhum Habib Lutfi masyarakat diuntungkan dengan menyewakan tempat menginap, menjual makanan dan minuman, serta jasa pemandu.

Gibran juga diharapkan bisa mengemas keunggulan Kota Solo dalam hal kuliner. Aneka kue  tradisional dan makanan khas hanya terdapat di kota ini yang bisa digunakan sebagai magnet mendatangkan wisatawan. Wisatawan yang tinggal beberapa hari di kota ini jamak memahami hgarus siap-siap berat badan bertambah karena banyak makanan enak dan murah.

Secara garis besar, Gibran diharapkan bisa meletakkan fondasi yang kuat membangun citra Kota Solo sebagai kota MICE. Kota ini bisa menjual fasilitas sebagai penyelenggara meeting, incentive, convention, dan exhibition. Kota Solo sudah bisa menjadi kota MICE dengan semakin banyaknya hotel berbintang yang menyediakan ruang yang memadai.

Gibran yang segera bekerja di Balai Kota Solo juga menimbulkan guncangan di kalangan para aparatur sipil negara atau ASN yang bakal menjadi bawahan dia nanti. Terbayang mereka ketika Joko Widodo menjadi wali kota dan membuat para ASN berlarian mengejar laju kerjanya.  Ketika itu Joko Widodo sering membuat ultimatum kepada bawahannya mengenai target penyelesaian pekerjaan.

Gibran lebih muda dibanding Joko Widodo saat masuk Balai Kota Solo dan seharusnya membuat gebrakan-gebrakan yang membuat bawahannya terkaget-kaget. Bagaimanapun Gibran tidak akan terlepas dari bayang-bayang Joko Widodo. Kunci keberhasilan Gibran bisa kita lihat dalam 100 hari pertama. Kita berharap, impian memiliki wali kota rasa presiden ini tak sebatas angan belaka. Selamat bekerja, Gibran!

 

 



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya









Kolom