Menangisi Dunia Pendidikan Kita

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin 5 Juli 2021. Esai ini karya Willy Pramuda, orang tua anak yang tak bersekolah formal dan penyuka tema-tema pendidikan, tinggal di Jakarta.

 Willy Pramudya (Istimewa/Dokumen pribadi)

SOLOPOS.COM - Willy Pramudya (Istimewa/Dokumen pribadi)

Solopos.com, SOLO — Sudah belasan tahun, bahkan berpuluh-puluh tahun, masyarakat kerap merasa kecewa sekaligus geram terhadap (awak) media massa atau pers akibat rendahnya sikap empati dan kepatuhan terhadap kode etik jurnalistik saat menjalani tugas peliputan dan pemberitaan.

Secara khusus hal itu kerap terlihat ketika terjadi bencana atau musibah yang menimbulkan banyak korban jiwa. Sudah lama awak media, khususnya  televisi,  dinilai banyak pihak tidak cukup memiliki kemampuan profesional dan kompetensi standar dalam hal bersiaran (komunikasi lisan), khususnya saat mereka bersiaran langsung.

Hal serupa terjadi pada awak media cetak dan terlebih media dalam jaringan (daring) ketika menulis teks berita (komunikasi tulis). Bersamaan dengan itu kemampuan mereka dalam menggunakan bahasa Indonesia juga kerap dipertanyakan.

Pertanyaannya, jika kualitas awak media atau orang Indonesia yang pekerjaan utamanya mensyaratkan penguasaan sejumlah kompetensi standar di bidang komunikasi lisan dan tulis saja selalu mendapatkan kritik bahkan kecaman, bagaimanakah kualitas manusia lain yang bekerja di luar bidang media atau bidang sejenis?

Jika kualitas manusia Indonesia yang bekerja di luar bidang media atau sejenis juga buruk, pertanyaan berikutnya adalah adakah ini berkaitan dengan dunia pendidikan (formal) di Indonesia?

Fakta dan Data

Data menunjukkan bahwa secara faktual bukan hanya orang-orang biasa yang tidak cakap dalam hal berkomunikasi (lisan dan tertulis) melainkan juga banyak figur publik, yang kerap menjadi anutan, terlalu sering menampilkan kemampuan berkomunikasi yang tidak memadai pada forum-forum resmi.

Figur-figur yang dimaksud antara lain pejabat publik pada berbagai jenjang, para tokoh masyarakat, kalangan profesional dan praktisi; juga kalangan pendidik. Dari dunia pendidikan formal terungkap data berkaitan dengan mutu guru pada jenjang pendidikan dasar dan menengah.

Nilai para peserta uji kompetensi guru (UKG) di DKI Jakarta pada 2019 berada pada angka 54 (skala 0-100) atau menurun drastis dibandingkan hasil UKG pada 2015 dengan nilai rata-rata 58. Alokasi anggaran pendapatan dan belanja daerah atau APBD DKI Jakarta untuk pendidikan pada 2015-2019 terus meningkat hingga mencapai angka Rp21,4 triliun.

Bayangkanlah  mutu guru di daerah-daerah yang minim fasilitas dan pagu anggaran pendidikannya jauh lebih rendah daripada DKI Jakarta. Terkait kemampuan berbahasa Indonesia, data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (kini Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi) menunjukkan bahwa sejak 2016 lebih dari 19.000 guru telah menempuh uji kemahiran berbahasa Indonesia (UKBI).

Dari jumlah tersebut hanya enam orang guru memperoleh predikat istimewa. Selebihnya, 24% berpredikat sangat unggul dan unggul. Sisanya atau sebagian besar memperoleh predikat madya ke bawah. Di sebuah provinsi bahkan ada guru yang tidak mendapatkan peringkat sama sekali karena seluruh jawabannya kosong.

Dengan data tentang mutu guru sebagaimana tergambar di atas mudah diperoleh jawaban atas pertanyaan mengapa hasil ujian nasional (UN) bahasa Indonesia kerap kali menunjukkan nilai yang lebih rendah daripada bahasa Inggris.

Pernah terjadi penurunan nilai rata-rata pada 2016 ke 2017, yakni 70,75 ke 64,32. Juga terungkap data bahwa dari 7.579 siswa yang tidak lulus UN pada 2012 sebagian besar gagal pada ujian bahasa Indonesia. Data ini juga dapat dilihat sebagai akar penyebab rendahnya kemampuan manusia Indonesia dalam hal berbahasa Indonesia, bahkan mereka yang profesinya mengandalkan bahasa Indonesia.

Data terkini yang berpotensi menimbulkan kecemasan yang lebih tinggi tentang mutu pendidikan kita terungkap atau setidaknya tercermin pada laporan resmi Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (Organization for Economic Co-operation and Development atau OECD) yang diluncurkan pada 3 Desember 2019.

OECD selaku penyelenggara Programme for International Student Assessment atau yang dikenal dengan tes PISA melaporkan bahwa pelajar Indonesia berusia 15 tahun atau setara SMP mengalami penurunan nilai pada tes PISA 2018 untuk semua bidang yang diujikan: membaca,  Matematika, dan sains.

Dari 79 negara peserta,  skor pelajar Indonesia untuk membaca berada pada peringkat ke-72; Matematika pada peringkat ke-72; dan sains pada peringkat ke-70.  Pada tes PISA 2015, yang diikuti 72 negara, skor membaca pelajar Indonesia berada pada peringkat ke-65; Matematika peringkat ke-66; dan sains pada peringkat ke-64.

Di Asia Tenggara, Indonesia berada di peringkat terbawah bersama Filipina. Disebutkan bahwa skor pelajar Indonesia kali ini merupakan skor terburuk sejak Indonesia mengikuti tes PISA pada 20 tahun yang lalu. Bagaimanakah mutu kaum tuanya?

Hasil tes The Programme for the International Assessment of Adult Competencies (PIAAC) atau survei OECD terhadap tingkat kecakapan orang dewasa menunjukkan angka yang sangat memprihatinkan. Mereka berada pada peringkat terbawah dunia pada hampir semua jenis kompetensi yang diperlukan untuk bekerja dan hidup sebagai warga masyarakat, yakni membaca, numerasi, dan kemampuan memecahkan masalah.

Data yang Mengagumkan

Indonesia tergolong negara yang unggul dari segi jumlah perguruan tinggi. Untuk jumlah perguruan tinggi, Indonesia berada pada urutan ketiga dunia dengan 2.694 kampus. Negara ini hanya kalah oleh Amerika Serikat dengan 3.254 kampus dan India yang berada pada puncak peringkat dengan 4.381 kampus.

Di bawah Indonesia terdapat negara yang pendidikannya tengah berkembang luar biasa, yakni  China dengan 2.595 kampus. Indonesia juga tampil sebagai negara dengan jumlah perpustakaan terbanyak di dunia.

Jumlah perpustakaan di negara ini mencapai 164.610 unit atau terbanyak kedua di dunia setelah India (323.605 unit); atau di atas dua negara dengan tradisi literasi yang panjang, yakni China (105.831 unit)  dan Rusia (113.440 unit). Fakta menunjukkan dengan jumlah perguruan tinggi sebanyak itu, peringkat universitas-universitas di Indonesia di tingkat dunia masih rendah.

Dari 50 perguruan tinggi terbaik di Indonesia versi Webometrics Rank 2021, posisi tertinggi di tingkat dunia diduduki oleh Universitas Indonesia, yakni pada peringkat ke-657; diikuti Universitas Gadjah Mada pada peringkat ke-810. Peringkat ketiga hingga ke-50 berada pada nomor urut di atas 1.000.

Data paling mencolok sekaligus menohok berkaitan dengan kualitas dunia perguruan tinggi kita tersimpan di laman https://lldikti12.ristekdikti.go.id/ dan berbagai media. Diberitakan di sana bahwa pada 2015 ribuan dosen tidak lulus sertifikasi karena mencontek.

Dalam hal apa? “Hanya” dalam urusan mendeskripsikan diri! Bayangkanlah  dosen dengan mutu dan karakter seperti itu masih tetap mengajar. Buah seperti apakah yang diharapkan muncul dari pendidikan tinggi tempat mereka mengajar?

Sementara berkaitan dengan jumlah perpustakaan, kita layak berbangga karena Indonesia tampil sebagai negara terunggul kedua dalam segi jumlah perpustakaan, bahkan dibandingkan bangsa-bangsa lain dengan tradisi literasi yang panjang.

Fakta malah menunjukkan orang dewasa dan anak-anak Indonesia tercatat berkemampuan membaca dan bertradisi literasi terendah di dunia. Dalam waktu bersamaan, orang dewasanya berperingkat terendah dalam hal numerasi dan pemecahan masalah dan anak-anaknya berperingkat terendah dalam bidang Matematika dan sains.

Pertanyaannya sekarang, apakah hanya bidang pendidikan (formal) yang ternilai buruk. Hemat saya: tidak! Alih-alih, nyaris semua bidang kehidupan di Indonesia berkualitas buruk! Bahkan, itu berlaku pada bidang yang seharusnya dimuliakan dan prestasi baiknya mesti dikedepankan.

Silakan menunjuk satu bidang saja, maka Anda akan mudah memberikan nilainya. Jika pendidikan yang merupakan bidang yang menjadi dasar membangun bangsa untuk mencapai kemajuan, prestasi, dan kebesaran bangsa tak kunjung meningkat, terutama  selama kurang lebih 25 tahun terakhir, agaknya ada sesuatu yang salah, yakni salah urus.

Sulit dikatakan bahwa di dunia pendidikan tidak terjadi penyimpangan, bahkan sangat mungkin sejak dalam pikiran, terutama pada kalangan elite penentunya. Jika hal ini dibiarkan, apalagi disengaja, hal itu sama dengan korupsi. Agaknya untuk bidang yang disebut terakhir ini kita mudah mendapatkan peringkat tinggi, bahkan tertinggi di dunia.

Berita Terkait

Berita Terkini

Membangun Ekosistem Lifelong Learning: Bagaimana Bertahan di Era Education 4.0?

Opini ini ditulis Astrid Widayani, SS., SE., MBA, dosen Manajemen Stratejik Fakultas Ekonomi Universitas Surakarta, mahasiswa Doctoral Program Doctor of Business Administration, Business Transformation and Entrepreneurship-Business School Lausanne, Switzerland.

Melawan Begal Digital

Esai ini ditulis oleh Arif Budisusilo, jurnalis senior Bisnis Indonesia Group, dan telah terbit di Koran Solopos edisi 22 September 2021.

Pelayanan Publik Indonesia Tangguh

Essai ini ditulis oleh Siti Farida, Kepala Ombudsman RI Perwakilan Jawa Tengah, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 21 Agustus 2021.

ISI Solo Butuh Rektor Petarung

Essai ini ditulis oleh Aris Setiawan, pengajar jurnalisme di Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 20 Agustus 2021.

Pendidikan Anak Merdeka

Essai ini ditulis oleh Paulus Mujiran, Ketua Pelaksana Yayasan Kesejahteraan Keluarga Soegijapranata Semarang, dan telah diterbitkan Koran Solopos 19 Agustus 2021.

Pramuka di Masa Pandemi

Essai ini ditulis oleh Alies Sri Lestari, guru Bahasa Indonesia dan pembina pramuka di SMPN 5 Solo, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 18 Agustus 2021.

Membangun Kemerdekaan Psikologis di Masa Pandemi

Opini ini ditulis Dr. Lilik Sriyanti, M.Si, dosen IAIN Salatiga dan Konselor Biro Konsultasi Psikologi.

Dimensi Sosial Teknologi Pertanian

Esai ini telah terbit di Harian Solopos 12 Agustus 2021, ditulis oleh Agung S.S. Raharjo, Analis Ketahanan Pangan Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian.

Magrib di Serambi

Opini ini terbit di Koran Solopos edisi Sabtu 14 Agustus 2021, ditulis oleh Ayu Prawitasari, jurnalis Solopos.

Kurang Kencang, Pak Jokowi...

Esain ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 11 Agustus 2021, karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia atau Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI).

Pelajaran dari Emas Olimpiade

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Rabu 11 Agustus 2021, ditulis oleh Agustinus Heruwanto Guru SMA Pangudi Luhur St. Yosef Solo.

Dampak Penerapan PPKM di Salatiga

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Senin 9 Agustus 2021, ditulis oleh Santi Widyastuti, statistisi di Badan Pusat Statistik Kota Salatiga.

Pitulungan

Esai ini karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Seni Memasarkan PPKM Level 4

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Sabtu 7 Agustus 2021, ditulis oleh Mohammad Eko Fitrianto, dosen Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya dan mahasiswa doktoral Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada.

Kehilangan Makna…

Tulisan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 4 Agustus 2021. Esai ini karya Sholahuddin, aktif di Solopos Institute.

Memeriahkan Hari Kemerdekaan ke-76 RI secara Daring

Opini ini ditulis Marwanto, dosen Bahasa Indonesia, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan FTIK IAIN Salatiga.