Panitia menunjukkan buklet Nyanyian Akar Rumput yang dibagikan kepada penonton sebelum masuk Bioskop XXI Solo Grand Mall (SGM), Kamis (16/1/2020). (Solopos/Ika Yuniati)

Solopos.com, SOLO – Film terbaru Nyanyian Akar Rumput besutan Yuda Kurniawan yang memenangi Piala Citra 2018 kategori Dokumenter Panjang Terbaik diputar serentak di 10 kota, Kamis (16/1/2020). Film itu diputar di jaringan Bioskop XXI, dan Bioskop CGV Jakarta, Yogyakarta, Solo, Surabaya, Malang, Palembang, Medan, Makassar, Bandung, dan Purwokerto.

Pemutaran film terbaru Nyanyian Akar Rumput di Solo dilakukan di Bioskop XXI Solo Grand Mall (SGM), dan Hartono Mall. Berdasarkan pantauan Solopos.com, Kamis sore, pemutaran film itu di Bioskop SGM kurang begitu ramai.

Hanya ada beberapa kursi bagian atas yang terisi pada layar kedua pukul 14.20 WIB. Begitu pula di jam-jam berikutnya. Sementara, Cineplex Hartono Mall baru memutarnya, Jumat (17/1/2020).

Minimnya apresiasi pada karya panjang berdurasi lebih dari 1,5 jam ini berbanding terbalik dengan film populis lainnya. Sebut saja Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini dan Imperfect yang mampu menjual lebih dari separuh kursi setiap penayangan.

Padahal Nyanyian Akar Rumput merupakan film terbaik yang memenangi kompetisi dunia. Bahkan menggelar world premiere di Busan, Korea Selatan.

Film yang berhubungan dengan Solo karena menceritakan kisah keluarga pasca-hilangnya aktivis 1998 Wiji Thukul ini masuk official selection sejumlah festival film bergengsi. Misalnya International Festival of Docufilms on Liberations and Human Rights 2019, di Dhaka, Bangladesh, dan Jechon International Music and Film Festival 2019, di Korea Selatan.

Nama besar dan prestasi saja nyatanya tak cukup menggaet penonton umum. Mereka memang lebih diapresiasi di ruang-ruang alternatif.

Yuda Kurniawan sutradara film Nyanyian Akar Rumput tahu betul tentang fakta tersebut. Tapi ia tak jera untuk membawa filmnya ke layar bioskop. Meskipun harus melalui proses yang cukup panjang dan melelahkan.

“Ya agar dilihat semakin banyak orang. Apalagi ini membawa isu besar tentang pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) berat di Indonesia yang belum terselesaikan. Saya bahkan berencana mengundang Istana menonton film ini,” kata Yuda saat diwawancara beberapa waktu lalu.

Yuda Kurniawan kemudian menceritakan proses panjangnya saat mendaftarkan film Indonesia Nyanyian Akar Rumput ke bioskop. Dimulai awal 2019, lalu sempat ditunda untuk menyelesaikan sensor film, hingga dimulai lagi akhir 2019.

Sampai akhirnya mereka dapat jatah Januari 2019. Untuk itu, Yuda Kurniawan tak akan menyia-nyiakan kesempatan baik ini. Pemutaran di bioskop harus berjalan meskipun minim penonton.

“Saya enggak menarget. Ya kalau bisa sebanyak-banyaknya agar apa yang kami bahas di film ini kembali dibicarakan. Kita menolak lupa pada pelanggaran HAM yang belum selesai,” kata dia lagi.

 

 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten