Memudarnya Identitas
Syifaul Arifin/Dokumen Solopos

Solopos.com, SOLO — Saya punya teman dari keluarga Nahdlatul Ulama (NU). Kakeknya pemilik pondok pesantren. Teman-temannya sering memanggil di “Gus”. NU kenthel. Di komunitas kami, teman-teman NU dan Muhammadiyah sering ledek-ledekan namun dengan santuy, tanpa emosional.

Menjelang Idulfitri, biasanya kami ledek-ledekan soal cara menentukan hari raya apakah memakai kalkulator atau dengan naik pohon kelapa. Tentu saja cara itu tidak dilakukan untuk menentukan hari raya, wong cuma guyonan. Suatu saat, setelah lulus semua, dia menikah. Istrinya dari keluarga Muhammadiyah.

Dia jadi sasaran guyonan lagi. Dia disebut Muhammadinu (Muhammadiyah-NU), sebuah varian yang sebenarnya bernada ledekan untuk orang Muhammadiyah yang ke-NU-NU-an atau NU yang kemuhammadiyah-muhammadiyahan. Yang masuk kategori ini, sekali lagi dalam konteks guyonan, adalah orang Muhammadiyah yang sering tahlilan dan orang NU yang salat tarawih delapan rakaat bukan 20 rakaat.

Kebetulan, teman yang saya ceritakan tadi memiliki afiliasi politik dengan Partai Golkar. Pakdenya adalah elite Partai Golkar. Dia sering disebut Muhammadinukar: Muhammadiyah-NU nyoblos Golkar. Ternyata kategorisasi itu bukan sekadar  guyonan.

Dosen Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Abdul Munir Mulkhan, dalam penelitian tentang warga Muhammadiyah di Wuluhan, Jember, Jawa Timur, membuat empat varian warga Muhammadiyah, yaitu kelompok Al Ikhlas yang menjalankan ajaran secara murni, kelompok Kiai Dahlan yang murni namun masih toleran terhadap praktik yang dianggap takhayul,  bidah, dan khurafat, kemudian Muhammadiyah-NU (Munu) yaitu kelompok neotradisionalis, dan Muhammadiyah Marhaen atau Marhaen Muhamadiyah (Marmud) atau Muhammadiyah nasionalis (Munas).

Hla, teman saya tadi belum masuk dalam varian versi Munir Mulkan, Muhammadinukar atau Munukar. Ada juga varian lain: Krismuha, yaitu Kristen Muhammadiyah. Istilah ini untuk menyebut mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Kupang yang mayoritas Katolik dan Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong yang kebanyakan mahasiswanya beragama  Kristen.

Mereka tetap Kristen dan Katolik walau sekolah di perguruan tinggi Muhammadiyah. Seiring waktu dan perjumpaan banyak orang, fisik maupun  melalui dunia maya, saling memengaruhi itu pasti terjadi. Faktanya, orang NU berpindah ke organisasi lain juga ada. Hal yang seperti ini di Muhammadiyah juga banyak.

Tak Bisa Hitam Putih

Di organisasi keagamaan lain pasti ada, apalagi berganti partai politik, banyak sekali. Perpindahan itu bagaikan orang berganti kendaraan. Yang penting tujuannya sama. Kategorisasi itu dilakukan untuk menggambarkan identitas seseorang.

Ternyata, penilaian identitas itu tidak bisa bersifat hitam putih, benar salah, dan saklek.  Ketika menilai identitas X, tidak serta-merta ciri-cirinya menggambarkan X secara utuh. Saat menggambarkan identitas Y, ada hal lain seperti elemen X, Z, dan sebagainya yang memengaruhi.

Saya melihat hal itu karena manusia itu unik. Manusia bisa melangkah sesuai dengan keinginan. Ketika berhubungan dengan orang lain, sedikit banyak orang akan terpengaruh, apalagi bagi anak muda yang berpikiran terbuka. Mereka akan mudah menyerap pemikiran lain dan mengadopsi.

Dengan demikian, persilangan budaya ini banyak ditemukan di kalangan anak muda daripada orang tua. Hibriditas adalah istilah yang bisa digunakan untuk menggambarkan pertemuan antara berbagai kebudayaan itu yang kadang menghasilkan sesuatu yang baru.  Arti harfiah ”hybrid” adalah hasil persilangan pada tanaman. Hal itu bisa dipakai untuk menggambarkan varian-varian baru  dalam bidang apa saja yang memiliki ciri unik, spesial, khas, yang berbeda dengan varian lainnya.

Kalau demikian, tak ada lagi identitas kaku dan murni. Identitas budaya yang sering disebut murni pun sebenarnya hasil persilangan dari budaya lain. Karena itulah, dalam menampilkan ekspresi budaya perlu dihindari perilaku ”ngegas”, ekstrem, kaku, dan tak mau menerima ide dan pengaruh dari luar.

Kita perlu berkaca pada yang dilakukan Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, K.H. Salahuddin Wahid (Gus Sholah) yang berpulang beberapa hari lalu. Dia berasal dari keluarga pendiri NU. Beberapa tahun lalu, Gus Sholah mendirikan SMA Trensains, hasil persilangan antara pesantren dan sains.

Konsep SMA Trensains dibuat oleh aktivis Muhammadiyah, dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Agus Purwanto. Selama ini, NU banyak berkhidmat pada pendidikan model pesantren. Pesantren Tebuireng malah mendirikan sekolah umum yang selama ini banyak dikerjakan oleh Muhammadiyah.

Sebaliknya, Muhammadiyah kini banyak mendirikan pesantren yang selama ini jadi trade mark NU. Jadi, penilaian NU itu selalu identik dengan pesantren dan Muhammadiyah itu identik dengan sekolah umum mulai kabur. Jangan-jangan, kini NU agak kemuhammadiyah-muhammadiyahan, sedangkan Muhammadiyah kini ke-NU-NU-an. Tak setuju? Tak apa-apa, asal jangan ngegas.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho