Memperkuat Gastro-Diplomasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 24 Mei 2021. Esai ini karya Bara Yudhistira, dosen Ilmu Teknologi Panga dan peneliti di Pusat Pengembangan Kewirausahaan Universitas Sebelas Maret.

 Bara Yudhistira (Istimewa/Dokumen pribadi).

SOLOPOS.COM - Bara Yudhistira (Istimewa/Dokumen pribadi).

Solopos.com, SOLO -- Beberapa waktu lalu jagat maya diramaikan dengan pemberitaan terkait pemilihan Miss Grand International 2020. Wakil Indonesia Aurra Kharisma terpilih sebagai Runner Up 3 Miss Grand International yang diselenggarakan pada 27 Maret 2021 di Bangkok, Thailand.

Apresiasi banyak diberikan oleh warganet Indonesia terhadap prestasi tersebut karena mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional. Selain itu, yang patut dibanggakan adalah Aurra juga meraih Top 10 Best in National Costume karena ia mengenakan kostum bertema satai madura bertajuk The Edacious Chicken Satay.

Suatu kebanggan tersendiri bahwa makanan tradisional Indonesia diangkat pada kompetisi internasional sekelas Miss Grand International. Satai merupakan salah satu kuliner Indonesia yang masuk di peringkat ke-14 dalam CNN’s World's 50 Best Foods 2017, versi survei yang dilakukan CNN.

Promosi kuliner Indonesia dalam kontes kecantikan tersebut merupakan sesuatu yang baru serta sebagai salah satu bentuk upaya yang dapat dikategorikan ke dalam gastro-diplomasi. Tentu perlu terus ditingkatkan dalam lingkup pergaulan internasional. Apa itu gastro-diplomasi?

Menurut pakar gastronomi dan kuliner Indra Ketaren, gastro-diplomasi berasal dari istilah gastronomi yang dalam bahasa Indonesia berarti upaboga atau pemerhati, pencinta, dan penikmat makanan. Ketaren mejelaskan gastronomi merupakan the art of eating yang merupakan perjamuan makanan yang memiliki hubungan dengan kebudayaan dan sejarah tertentu.

Menurut ahli sejarah kuliner Fadly Rahman, dalam perkembangannya gastro-diplomasi identik dengan praktik mempromosikan kuliner. Promosi kuliner dapat dilakukan dengan berbagai cara, baik itu dengan kegiatan langsung maupun melalui media elektronik atau media massa dan tentu saja juga Internet.

Kegiatan promosi secara langsung dapat dilakukan dengan mengikuti pameran atau bazar di dalam negeri maupun di luar negeri dan hal tersebut telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia. Sedangkan untuk promosi melalui media belum digarap dengan maksimal oleh Indonesia.

Kita dapat belajar dari negara Korea Selatan dengan misi bertajuk Korean Wave. Mereka berusaha mempromosikan kebudayaan mereka melalui musik dan film, tak terkecuali makanan mereka. Salah satu contoh yang sering kita lihat adalah di setiap film atau drama Korea selalu terdapat adegan aktor/aktris mengonsumsi kimchi atau soju yang notabene merupakan makanan dan minuman tradisionla mereka.

Dengan demikian secara tidak langsung media film atau drama tersebut telah mempromosikan kepada dunia tentang makanan tradisional Korea Selatan. Hal seperti inilah yang perlu banyak dilakukan agar makanan Indonesia lebih mendunia. Makanan dan minuman atau aspek kuliner lain merupakan hal yang sangat menarik pada saat ini.

Keduanya sangat erat berkaitan dengan dunia pariwisata. Pada saat ini kita mengenal istilah wisata kuliner. Rasanya belum lengkap ketika mengunjungi suatu daerah tanpa mencicipi kuliner daerah tersebut. Banyak pemerintah daerah yang menyiapkan secara khusus kawasan untuk wisata kuliner.

Wisata kuliner cukup menjanjikan untuk digarap dengan baik mengingat selama manusia membutuhkan makanan untuk aktivitas biologis mereka maka bidang kuliner tetap memiliki prospek untuk digarap dengan serius. Bisnis kuliner tak akan surut selama manusia masih membutuhkan makanan.

UMKM

Menurut data Pontensi Desa Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang bergerak dalam bidang makanan dan minuman (kuliner) di Pulau Jawa pada tahun 2018 berjumlah 354.000 unit. Dengan jumlah yang cukup banyak ini tentu dapat menjadi motor penggerak ekonomi daerah.

Pengalaman menunjukkan sektor UMKM—termasuk bidang kuliner--merupakan sektor ekonomi yang bisa bertahan dari setiap perubahan situasi ekonomi. Selain itu, dari segi keberagaman kuliner, Indonesia memiliki banyak varian atau jenis.

Menurut pakar kuliner senior Murdijati Gardjito, Indonesia memilik sekitar 3.259 jenis makanan dan minuman. Bidang kuliner berpotensi sebagai magnet untuk menarik wisatawan dan penggerak ekonomi sehingga perlu menjadi prioritas bagi semua pihak untuk mengembangkan kuliner Indonesia tersebut.

Dengan potensi wisata kuliner Indonesia yang cukup besar ini perlu ada upaya dari semua pihak untuk mengembangkan sektor ini, mengingat seolah-olah pengembangan dan promosi kuliner Indonesia masih dibebankan kepada pemerintah saja, terlebih promosi ke luar negeri.

Jika kita berkaca pada acara pemilihan Miss Grand International, kita bisa mempromosikan kuliner Indonesia melalui siapa saja yang tentu sesuai dengan kapasitas masing-masing. Rasanya jika kita hanya fokus melaksanakan pameran atau festival makanan dan minuman di luar negeri akan banyak membutuhkan biaya, tenaga, dan lain-lainnya.

Adapun yang dapat dilakukan untuk lebih mendorong promosi kuliner Indonesia demi membantu pemerintah dapat dilakukan dengan hal-hal kecil oleh setiap orang, yaitu dengan memanfaatkan media sosial. Setiap warga negeri ini dapat memublikasikan tinjauan atau mengunggah kuliner Indonesia yang harapannya dapat membuat orang tertarik untuk mengonsumsinya, terlebih untuk orang di luar negeri.

Langkah demikian bila dilakukan oleh banyak warga negeri ini akan membangkitkan ketertarikan mereka untuk berkunjung dan mencicipi kuliner tersebut. Banyak momentum yang bisa dimanfaatkan untuk mempromosikan kuliner Indonesia.

Ramadan dan Lebaran yang baru saja berlalu adalah salah satu momentum tahunan yang bisa dimanfaatkan untuk mempromosikan kuliner Indonesia. Pada Ramadan dan Lebaran jamak di banyak rumah tangga dan aneka tempat lainnya disajikan aneka jenis makanan dan minuman tertentu yang jarang kita jumpai pada hari-hari biasa.

Pelaku usaha kuliner selaku produsen dapat terus menjual aneka kuliner yang jarang ditemukan pada hari biasa tersebut, sedangkan masyarakat umum selaku konsumen mau membeli dan mengonsumsi makanan tersebut yang pada akhirnya kuliner tradisional Indonesia tetap lestari.

Bagaimanapun aspek kuliner selain sebagai identitas keindonesiaan di dunia internasional juga memiliki peran sebagai soft-power diplomacy, sebagai media untuk menjalin hubungan dengan negara lain. Promosi dan kelestarian kuliner Indonesia menjadi hal yang sangat penting untuk selalu kita pertahankan.

Berita Terkait

Berita Terkini

Pelayanan Publik Indonesia Tangguh

Essai ini ditulis oleh Siti Farida, Kepala Ombudsman RI Perwakilan Jawa Tengah, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 21 Agustus 2021.

ISI Solo Butuh Rektor Petarung

Essai ini ditulis oleh Aris Setiawan, pengajar jurnalisme di Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 20 Agustus 2021.

Pendidikan Anak Merdeka

Essai ini ditulis oleh Paulus Mujiran, Ketua Pelaksana Yayasan Kesejahteraan Keluarga Soegijapranata Semarang, dan telah diterbitkan Koran Solopos 19 Agustus 2021.

Pramuka di Masa Pandemi

Essai ini ditulis oleh Alies Sri Lestari, guru Bahasa Indonesia dan pembina pramuka di SMPN 5 Solo, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 18 Agustus 2021.

Membangun Kemerdekaan Psikologis di Masa Pandemi

Opini ini ditulis Dr. Lilik Sriyanti, M.Si, dosen IAIN Salatiga dan Konselor Biro Konsultasi Psikologi.

Dimensi Sosial Teknologi Pertanian

Esai ini telah terbit di Harian Solopos 12 Agustus 2021, ditulis oleh Agung S.S. Raharjo, Analis Ketahanan Pangan Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian.

Magrib di Serambi

Opini ini terbit di Koran Solopos edisi Sabtu 14 Agustus 2021, ditulis oleh Ayu Prawitasari, jurnalis Solopos.

Kurang Kencang, Pak Jokowi...

Esain ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 11 Agustus 2021, karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia atau Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI).

Pelajaran dari Emas Olimpiade

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Rabu 11 Agustus 2021, ditulis oleh Agustinus Heruwanto Guru SMA Pangudi Luhur St. Yosef Solo.

Dampak Penerapan PPKM di Salatiga

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Senin 9 Agustus 2021, ditulis oleh Santi Widyastuti, statistisi di Badan Pusat Statistik Kota Salatiga.

Pitulungan

Esai ini karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Seni Memasarkan PPKM Level 4

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Sabtu 7 Agustus 2021, ditulis oleh Mohammad Eko Fitrianto, dosen Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya dan mahasiswa doktoral Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada.

Kehilangan Makna…

Tulisan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 4 Agustus 2021. Esai ini karya Sholahuddin, aktif di Solopos Institute.

Memeriahkan Hari Kemerdekaan ke-76 RI secara Daring

Opini ini ditulis Marwanto, dosen Bahasa Indonesia, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan FTIK IAIN Salatiga.

Sepekan Penuh Kejutan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat 6 Agustus 2021. Esai ini karya Maria Y. Benyamin, wartawan Bisnis Indonesia atau Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI).

Pidana Sumbangan Rp2 Tiliun dan Hoax yang Difasilitasi

Opini ini ditulis Ahmadi H. Dardiri M.H., Sekjen Pusat Studi Peraturan Perundang-undangan (PSPP) IAIN Salatiga dan Dosen Fakulutas Syariah IAIN Salatiga