Tutup Iklan

Memperbaiki Masa Lalu

 Solopos Digital Media - Panduan Informasi dan Inspirasi

SOLOPOS.COM - Solopos Digital Media - Panduan Informasi dan Inspirasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (30/7/2019). Esai ini karya Agus Wedi, mahasiswa Ilmu Alquran dan Tafsir IAIN Surakarta dan pengelola Serambi Kata. Alamat e-mail penulis adalah wediagus6869@gmail.com.

Solopos.com, SOLO — Jamak bahwa masa lalu punya kisah dan efek. Pada Jumat sore, 19 April 2019, saya dan rombongan mahasiswa Jurusan Ilmu Alqur’an dan Tafsir Institut Agama Islam Negeri Surakarta bergegas ke Bayt Alqur’an di Tangerang Selatan, Banten, untuk melaksanakan Program Pengalaman Lapangan (PPL) dan Kuliah Kerja Lapangan (KKL).

”Kita mau apa ke sana? Apa ada bocoran materi untuk kupersiapkan? HP-ku melayang untuk kegiatan ini. Apa cuma mau pindah tidur?” begitu pertanyaan teman saya. Saya diam. Tak bisa menjawab. Pertanyaan itu dari seseorang yang harus mengorbankan barang terdekat atau setidaknya dinamika kondisi rumah sosialnya.

Pada Subuh saya dan romongan sampai. Seusai salat, kami menata barang, beristirahat, dan kemudian melanjutkan kegiatan. Hari-hari di Bayt Qur’an seperti (hari) biasa di kampus, masuk kelas dan belajar dengan dosen baru dengan materi yang tak jauh dari materi di kampus. Perbedaan terasakan hanya di suasana: Solo dan pinggiran Jakarta.

Budaya pustaka teman-teman tetap hidup. Ada yang tiap malam membincangkan hasil pembacaan buku, menulis, mengomentari dinamika politik, ada yang curi-curi waktu merasakan belanja buku bekas di Blok M dan menemui saudara, atau ada yang sekadar merasakan suasana panas dan macet kawasan ibu kota negara dan kentalnya kopi Jakarta.

Suatu kali, Roanne van Voorst, seorang antropolog asal Belanda, penulis buku Tempat Terbaik di Jakarta (2018), mencicipi suasana Jakarta sambil melakukan kajian kritis tentang alam Jakarta. Roanne bisa memetakan dan menjelaskan perubahan-perubahan iklim warga kota serta ruang lingkup percaturan perpolitikan dan ekonomi Jakarta.

Setelah bertahun-tahun menghirup udara di pelbagai tempat di Jakarta, Roanne menyimpulkan Jakarta kota dalam kesesakan. Bukunya diberi judul hasil ledekan seorang anak pengamen di bus kota: Tempat Terbaik di Dunia. Pada 6 Mei 2019, saya dan teman-teman pulang. Kewajiban terbayar tuntas, meski ada perasaan bingung dan gelap.

Ibarat air yang dimasukkan ke ember terlalu banyak. Ember tak bisa menampung. Air tumpah ke tanah dan bisa jadi malah menghilangkan air itu. Masuk akal belajar dijadikan pengalaman. Upaya menggagas perubahan dalam program belajar mengajar, misalnya mencari tempat yang mudah, minim biaya, dan hasilnya memungkinkan bisa lebih terasakan, menjadi masalah penting yang sayangnya tak masuk dalam agenda.

Kini saya berada di lokasi Kuliah Kerja Nyata (KKN), guna menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yang juga menjadi salah satu syarat wajib dalam perkuliahan. Belakangan ini muncul perdebatan mengenai relevansi KKN pada era kini. Tidak sedikit yang menganggap KKN justru menjadi arena ”berbagi sumbangan”—yang dipelesetkan menjadi Kerja Kuliah Nyumbang—lantaran jauh dari hakikat yang sesungguhnya (pemberdayaan masyarakat).

Menyandang Tugas

Meski banyak kalangan yang menuturkan demikian, teman-teman saya tetap mengamalkan dengan sepenuh hati. Barangkali tersadar pernah diingatkan Rendra dalam puisi Sajak Seorang Tua untuk Istrinya: Kita menyandang tugas /, karena tugas adalah tugas //. Bukannya demi surga atau neraka //. Tetapi demi kehormatan seorang manusia//.

Sajak Rendra itu terjelmakan dalam PPL, KKL, dan KKN. KKN hampir rampung, rasa lega terasa, tetapi di tengah rasa itu saya dan teman-teman harus melunaskan persoalan yang tak selesai-selesai, dan yang tak diketahui, yakni pemenuhan kewajiban berkirim duit Rp100.000 untuk membayar uang buku yang (katanya) akan dicetak, yang saya dan teman-teman tulis sendiri.

Bayangkan, jika dari 57 mahasiswa membayar uang Rp100.000 dengan rata-rata per orang menghasilkan tulisan tiga lembar saja, berapa uang terkumpul dan berapa ongkos pembuatan buku itu? Jika tidak dibayar tentu ada konsekuensinya. Saya masih teringat saat berbagi pengalaman perihal literasi di berbagai tempat/sekolah di Jawa Tengah bersama teman-teman yang juga menghasilkan buku dengan kualitas sangat bagus.

Sejauh pengamatan saya, di kalangan mahasiswa memang ada kontradiksi. Ada yang berkarya/menulis sendiri dan harus berbayar mahal. Ada tulisan yang hanya mengambil dari Internet (tanpa sumber) lalu dijualbelikan. Kondisi demikian bisa memicu kerusakan ekosistem institusi, yang pada gilirannya membajak muruah akademisi.

Situasi ini bisa diubah. Seluruhnya tak harus mahal. Jalan terang perubahan hanya dapat dilakukan jika kita mau hadir dengan menyusun kebijakan dan penertiban peraturan. Kendati sulit, kita harus berikhtiar dan hanya karena itu yang menjadi prioritas utama.

Kita harus mengoreksi kesalahan dalam kesadaran. Sudah semestinya menuntaskan masa lalu demi terang masa depan. Siapa yang belajar dari masa lalu, dia akan bisa melampaui masa depan. Mengutip Karlina Supelli di Harian Kompas edisi 26 Juli 2003,”Karena masa lalu gagal menerangi masa depan, benak manusia mengelana di tengah kabut.” Kita tentu tak mau itu.


Berita Terkait

Berita Terkini

Sejarah Hari Ini: 30 November 2004, Lion Air JT 538 Tergelincir di Solo

Beragam peristiwa terjadi di dunia pada 30 November salah satunya tragedi tergelincirnya pesawat Lion Air di dekat Bandara Solo

Terlalu! Gubernur Sulsel Rela Korupsi Demi Belikan Jetski untuk Anak

Selain hukuman badan, majelis hakim juga mewajibkan Nurdin Abdullah membayar uang pengganti sebesar Rp2,187 miliar dan 350 ribu dolar Singapura subsider 3 tahun penjara.

Suami Istri di Pontianak Kompak Jual Sabu dan Ekstasi

Keduanya kami amankan berdasarkan informasi dari masyarakat ada pasangan suami istri diduga sedang membawa narkotika.

Kebiasaan Tidur yang Buruk Bikin Orang Merasa Tua, Ini Penjelasannya

Tim peneliti melaporkan ada hubungan penting antara kebiasaan tidur yang buruk dan merasa lebih tua secara umum.

Kecelakaan Karambol di Salatiga, Truk Tabrak 5 Mobil, 1 Meninggal

Kecelakaan karambol yang melibatkan truk dan lima kendaraan lain terjadi di Jalan Lingkar Selatan atau JLS Salatiga, Senin (29/11/2021) malam.

Gegara Kalah Pilkades, Calon Kades Petahana di Jember Blokade Jalan

Gegara kalah dalam pemilihan kepala desa (Pilkades) Plerean, Kecamatan Sumberjambe, Jember, calon kepala desa petahana memblokade beberapa jalan.

Ini Dia Tukang Cukur Terkaya Pemilik 400 Mobil

Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, Ramesh Babu memutuskan mulai menjalankan pangkas rambut yang ditinggalkan mendiang ayahnya.

Bacakan Pembelaan, Nani Terdakwa Satai Beracun Sisipkan Pesan Ini

Terdakwa kasus satai beracun, Nani Apriliani Nurjaman, 25, menyampaikan sejumlah permohonan kepada majelis hakim PN Bantul saat membacakan pembelaan, Senin (29/11/2021).

Marak Penipu Bermodus Beli Kendaraan, Ini Tips dari Kapolres Sukoharjo

Kapolres Sukoharjo membagikan sejumlah tips agar terhindar dari aksi penipu yang berpura-pura hendak membeli kendaraan namun kemudian dibawa kabur sebelum dibayar.

Kembali Tampil di Konser Offline, Ini yang Dirasakan BTS

Kini BTS akhirnya harus kembali tampil offline dengan tampil di SoFi Stadium, Los Angeles, dalam konser pertama mereka sejak 2019.

Banjir Bandang Landa Wonosoco Kudus, 62 Rumah Warga Terdampak

Banjir bandang kembali melanda Desa Wonosoco, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, mengakibatkan 62 rumah dan satu tempat wisata terdampak.

Debut Gagal Jacksen F. Tiago di Persis Solo

PSCS Cilacap membuka peluang lolos melaju ke babak delapan besar jika PSIM Jogja kalah melawan Persijap Jepara pada Selasa (30/11/2021) malam.

Ada Kaitan Varian Omicron dengan Pengidap HIV, Ini Penjelasannya

Begini kaitan antara kemunculan varian Omicron dengan pengidap HIV di Afrika.

Dipindah ke Bogor, Reuni 212 Doakan Almarhum Putra Arifin Ilham

Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Rusdi Hartono mengatakan dalam memberikan izin Polri harus meminta rekomendasi dari berbagai pihak.

Waduh! 14 Remaja di Maluku Utara Kedapatan Mabuk Lem

BNNP Maluku Utara bekerja sama dengan Satpol PP Kota Ternate mengamankan 14 remaja yang kedapatan sedang mabuk lem.

Polisi Gandeng Psikolog Cek WNA Siram Istri Pakai Air Keras, Psikopat?

Polres Cianjur, Jawa Barat akan menggandeng psikolog mengecek kejiwaan Abdul Latief, 48, tersangka kasus penyiraman air keras terhadap istrinya Sarah, 21.