Kategori: Bantul

Memburu Pembisik Tragedi Takjil Beracun Bantul


Solopos.com/Jumali

Solopos.com, BANTUL—Tidak ada kejahatan yang tak meninggalkan  jejak. Rumus hukum itu juga berlaku dalam tragedi takjil maut di Bantul, D.I. Yogyakarta.

Pemberian takjil yang ternyata beracun dan merenggut nyawa seorang bocah, Naba Faiz Prasetya, 9, itu menempatkan Nani Apriliani Nurjaman, 25, alias Tika sebagai tersangka utama. Sosok lain berinisial R yang disebut sebagai pemilik ide masih buron.

Direktur Reskrimmum Polda DIY, Kombes Burkan Rudy Satriya, mengklaim polisi tidak mengalami kesulitan terkait dengan penangkapan Tika. Sebab, satai yang dikirimkan tersangka melalui jasa driver ojek online, Bandiman, 47, (ayah Naba Faiz) mudah diungkap.

"Paket satai tersebut tidak seperti paket satai lainnya. Karena tidak dipincuk tapi dikardus dan ada nama serta alamat penjualnya," kata Burkan Rudy Satriya, di Mapolres Bantul, Senin (3/5/2021).

Ciri-Ciri Pembeli

Dari temuan itu polisi kemudian melakukan penyelidikan. Petugas meminta keterangan penjual satai dan didapatkan ciri-ciri pembelinya. Selain itu, petugas juga mencocokkan keterangan Bandiman terkait ciri perempuan yang mengorder pengantaran paket makanan secara offline. "Dari sana, kami mengetahuinya," ucap Burkan.

Burkan menyebutkan, Tika yang bekerja di salon ditangkap di rumahnya di Potorono, Banguntapan, Bantul. Petugas tidak mengalami kesulitan saat menangkap perempuan asal Majalengka, Jawa Barat tersebut. "Iya, kami tangkap di Potorono. Dia tidak melawan," ucap Burkan.

Di hadapan petugas, Tika mengungkapkan sakit hati karena Tomi (orang yang ia kirimi paket takjil) menikah dengan perempuan lain. Padahal sebelumnya mereka menjalin asmara dan Tika berharap dinikahi.

"Untuk itu kami masih akan mendalami. Begitu juga dengan hubungan pelaku dengan T [Tomi], berapa lama juga masih kami dalami," lanjutnya.

Bertukar Motor

Burkan  mengungkapkan, pelaku diduga telah merencanakan tindakannya. Hal ini diperlihatkan dengan pergantian sepeda motor yang dilakukan oleh pelaku. Awalnya pelaku menggunakan Honda Vario sebelum akhirnya berganti sepeda motor Honda Beat sesaat sebelum bertemu dengan Bandiman di Jl. Gayam.

Sementara, terkait dengan zat yang menewaskan Naba, Kapolres Bantul AKBP Wachyu Tri Budi S
menyatakan racun tersebut adalah kalium sianida (KCN). KCN yang berbentuk padat dan ditaburkan pada bumbu satai dipesan melalui aplikasi online pada 28 Maret 2021.
Artinya, aksi percobaan pembunuhan ini telah dirancang cukup lama.

"Pesanannya di aplikasi tersebut sodium sianida. Tapi setelah dicek, ternyata kalium sianida," ungkap Kapolres.

Atas perbuatannya tersebut, Burkhan mengungkapkan pelaku terancam Pasal 340 KUHP dengan ancaman hukuman pidana mati, seumur hidup atau paling lama 20 tahun. "Selain itu juga disangkakan Pasal 80 UU No 35/2014 tentang Perlindungan Anak," katanya.

Kasat Reskrim Polres Bantul AKP Ngadi menambahkan tidak menutup kemungkinan ada tersangka lain. Sebab, Tika mengaku ide takjil maut itu berasal dari rekannya berinisial R. R menyarankan kepada Tika mengirimkan satai bercampur KCN menggunakan ojek online. Kepada Tika, R menyatakan dampak dari racun itu tidak mematikan.

Handphone Mati

“Sementara kami cari. Karena R ini handphone-nya sudah mati. Nanti akan kami dalami,” lanjut Ngadi.

Ngadi mengungkapkan, pemberian KCN kepada makanan telah direncanakan oleh Tika sejak Maret 2021. Harga racun Sianida Rp224.000.

Berdasarkan pengakuan Tika, dirinya hanya menaburkan bubuk kristal KCN sebanyak satu sendok ke bumbu satai. “Namun, untuk lebih jelas, masih akan kami dalami,” papar Ngadi.

Ngadi mengungkapkan, sampai saat ini Polres Bantul belum memeriksa Tomi yang disebut-sebut anggota Polresta Jogja.

Berdasarkan rilis yang dikeluarkan Polres Bantul disebutkan Tika adalah pegawai di sebuah salon dan memiliki beberapa pelanggan. "Kemudian ada salah satu pelanggan salon berinisial R yang suka terhadap tersangka [Tika]. Tapi tersangka tidak suka dengan R. Karena tersangka [Tika] menyukai pelanggan lain T [Tomy]," kata Ngadi.

Namun, setiap kali Tika dan T punya masalah, Ia selalu bercerita dengan R yang kemudian  R menyarankan untuk memberikan pelajaran kepada T dengan memberikan KCN [kalium sianida] yang dicampur dengan makanan yang efeknya setelah dimakan hanya muntah dan diare.

"Akhirnya tersangka mengikuti anjuran R dengan jalan membeli KCN secara online. KCN itu kemudian dicampurkan di dalam bumbu satai ayam yang sebelumnya dibeli oleh tersangka," ucap Ngadi.

Anggota Polresta Jogja

Selain itu, Tika, lanjut Ngadi juga mendapatkan anjuran dari R agar mengirimkan satai bercampur KCN menggunakan ojek online. "Namun, tanpa aplikasi. Agar tidak diketahui siapa yang mengirim dan tersangka mengikutinya," papar Ngadi.

Terpisah, Kapolresta Jogja Kombes Pol Purwadi Wahyu Anggoro mengakui jika T adalah anggotanya. “Betul. Masih menunggu info dari Bantul [terkait pemeriksaan terhadap T],” ucap Kapolresta.

Sejauh mana hubungan antara Tomi dengan Tika, Purwadi enggan berkomentar. Begitu juga dengan posisi Aiptu Tomy yang disebut-sebut sebagai penyidik di Satreskrim Polres Jogja, Purwadi juga enggan menanggapinya.  “Kurang paham posisinya. Sosoknya [Tomy] baik,” lanjut Kapolresta.

Aksi salah sasaran itu sangat menghantam Bandiman, sang driver ojol. Ia kehilangan buah hatinya, Naba Faiz Prasetya dengan cara yang menyakitkan.

Betapa tidak, satai yang dibawa warga Salakan II, Bangunharjo, Sewon itu pada Minggu (25/4/2021) lalu justru merenggut separuh kebahagiaannya.

Sebelumnya, Bandiman mendapatkan order pengantaran makanan secara offline dari seorang perempuan di Jl. Gayam, Umbulharjo, Jogja.  Saat itu sang perempuan misterius meminta agar Bandiman mengirimkan satai dan snack ke rumah Tomi, yang beralamat di Villa Bukit Asri FF01 Bangunjiwo, Kasihan, Bantul.

Perempuan itu berpesan bahwa makanan itu kiriman dari Hamid di Pakualaman. Sesampai di lokasi tujuan, Tomi ternyata sedang berada di luar kota.

Tomi mengaku tidak kenal dengan Hamid serta mengaku tidak pernah memesan paket. Begitu juga dengan istri Tomi.  Istri Tomi lalu memberikan paket itu kepada Bandiman.

Dari sinilah musibah itu dimulai. Seusai menyantap satai, anak Bandiman, Naba Faiz dan Titik Rini merasakan pahit di tenggorokan. Titik berhasil diselamatkan namun Naba meninggal dunia di RS Jogja. (Antara/Detik)

 

 

 

 

 

 

 

Share
Dipublikasikan oleh
Abu Nadhif