Membangun Persepsi Positif di Tengah Omicron

Opini ini ditulis Suryopratomo, Duta Besar Indonesia untuk Singapura.

 Suryopratomo (Istimewa)

SOLOPOS.COM - Suryopratomo (Istimewa)

Topik paling hangat di dunia saat ini adalah mutasi yang terus terjadi dari Covid-19. Perhatian terutama tertuju kepada varian Omicron yang pertama kali ditemukan di Afrika Selatan dan sekarang sudah menyebar ke seluruh dunia. Di Amerika Serikat kasusnya bahkan sudah menembus angka satu juta orang.

PromosiPetani Belum Menjadi Subjek Utama Proyek Nasional Kedaulatan Pangan

Belajar dari pengalaman varian Delta, wajar apabila semua negara merasa khawatir. Langkah berjaga-jaga pun segera diambil dengan kembali melakukan pembatasan keluar-masuk orang dari luar negeri. Tidak terkecuali Indonesia yang melakukan langkah pembatasan dengan mengharuskan semua orang yang datang dari luar negeri untuk menjalani karantina. Bahkan terhadap negara yang kasusnya tinggi, untuk sementara dilakukan pelarangan masuk ke wilayah Indonesia.

Presiden Joko Widodo meminta untuk tidak memberikan dispensasi kepada siapa pun yang baru kembali dari luar negeri. Semua harus menjalani karantina—tidak boleh berinteraksi dengan orang lain selama tujuh hingga sepuluh hari sejak kedatangan—sampai dipastikan hasil tes polymerase chain reaction (PCR) di hari terakhir hasilnya negatif.

Semua orang harus mematuhi perintah itu, karena keselamatan seluruh warga merupakan tanggung jawab kita bersama. Satu orang saja tidak disiplin dan kemudian menjadi carrier, maka seluruh warga akan merasakan akibatnya. Covid-19 lebih dahsyat akibatnya dari senjata nuklir karena lebih mematikan tanpa harus menghancurkan infrastruktur fisik yang ada di satu negara.

Satu yang membuat banyak orang dan negara sedikit lebih lega, varian Omicron ternyata lebih rendah tingkat kematiannya. Meski lebih cepat penularannya, tetapi infeksi yang diakibatkan tidak sampai merusak paru-paru seperti halnya varian delta. Varian Omicron hanya menyerang bagian atas saluran pernapasan. Akibatnya tidak diperlukan ventilator kepada mereka yang terinfeksi varian Omicron.

Selain itu jumlah orang yang terinfeksi varian Omicron tidak banyak yang membutuhkan perawatan di rumah sakit. Laporan The New York Times menyebutkan jumlah orang yang perlu dirawat di rumah sakit ketika terinfeksi varian Omicron hanya sepertiga dibandingkan mereka yang terinfeksi varian Delta.

Dengan fakta seperti itu, pemerintah Singapura misalnya, lebih percaya diri dalam menghadapi varian Omicron. Meski jumlah orang yang terinfeksi sudah di atas 2.000 orang, tetapi jumlah tempat tidur yang terpakai hanya sekitar 7%. Oleh karena itu, mereka yang terinfeksi varian Omicron diperkenankan untuk menjalani perawatan mandiri di rumah, sepanjang tidak ada gejala yang berat.

Hidup Bersama Omicron

Dengan lebih memahami karakter dari virus varian Omicron, maka setiap negara harus berupaya hidup bersama Omicron. Sebab, tidak mungkin kita terus dibayang-bayangi ketakutan, apalagi sampai memilih untuk menutup diri. Pada akhirnya hidup ini harus terus berlanjut dan semua orang harus mampu beradaptasi dengan kondisi pandemi ini.

Menteri Kesehatan Singapura Ong Ye Kung menjelaskan langkah pengendalian yang diterapkan negaranya adalah dengan mengharuskan semua orang yang masuk ke Singapura untuk melakukan tes PCR saat ketibaan. Setelah itu setiap hari harus melakukan tes antigen di mana hari ketiga dan ketujuh harus dilakukan di klinik yang ditetapkan, hari lainnya bisa dilakukan secara mandiri di rumah.

Selain itu untuk sementara fasilitas rezim vaksinasi atau vaccinated travel lane dihentikan sampai 20 Januari. Setelah itu jumlahnya akan diturunkan menjadi setengah dari jumlah yang diterapkan sebelumnya.

Sejak VTL diterapkan sejak 8 September 2020, jumlah orang yang menggunakan fasilitas itu untuk masuk Singapura hingga 23 Desember sekitar 37.000 orang. Jumlah ini jauh dibandingkan kondisi normal di mana satu tahun setidaknya 60 juta orang keluar masuk melalui Bandara Changi.

“Kita mengetahui varian Omicron memang lebih cepat menular, tetapi orang yang terinfeksi kondisinya tidak terlalu parah dan mematikan seperti varian Delta. Dengan lebih memahami karakter virus varian ini, maka suka tidak suka kita harus siap hidup bersama Omicron,” kata Ong Ye Kung.

Menteri Keuangan Singapura Lawrence Wong menambahkan penghentian sementara skema VTL baik untuk mempersiapkan diri menghadapi varian Omicron. “Kami pergunakan waktu yang berharga ini untuk memperkuat sistem kesehatan kami dan memperbarui protokol kesehatan yang perlu diterapkan,” kata Lawrence Wong.

Singapura merupakan salah satu contoh negara yang tidak pernah mau terbenam pada persoalan. Pandemi Covid-19 tentu memukul juga Negara Singa ini. Mereka harus menggunakan tabungan nasional milik generasi mendatang demi menyelamatkan kehidupan negara sekarang ini. Lebih dari 100 miliar dolar Singapura tabungan nasional terpakai untuk memberikan stimulus ekonomi.

Mulai pertengahan tahun lalu berbagai kegiatan meeting, incentives, conference, exhibition (MICE) sudah mulai kembali dilakukan. Ada Singapore International Energy Week, ada Philanthropy Summit Asia. Berbagai kuliah umum menghadirkan Wakil Presiden Amerika Serikat Kamala Harris, Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin, Menteri Pendidikan Singapura Chan Chun Sing. Berbagai pameran digelar seperti Cafe Asia Exhibition atau Singapore International Jewelry Exhibition.

Memang kegiatan MICE dilakukan tidak sama seperti sebelumnya. Umumnya dilakukan dengan undangan yang terbatas dan lainnya melalui hybrid. Tetapi Singapura ingin membangun persepsi bahwa negara mereka mampu mengendalikan Covid-19 dan hidup berdampingan bahkan dengan Omicron. Akibatnya, kepercayaan diri masyarakat ikut tumbuh dan kegiatan ekonomi pun otomatis kembali bergulir.

Hasil kerja keras yang dilakukan hampir dua tahun ini tidaklah sia-sia. Pertumbuhan ekonomi Singapura 2021 lebih tinggi dari perkiraan. Meski angka resminya belum keluar, tetapi diperkirakan pertumbuhan ekonomi Singapura tahun lalu mencapai 7,2 persen. Ini merupakan pertumbuhan tertinggi dalam 10 tahun terakhir.

Bagi Singapura pandemi Covid-19 bukan hanya dilihat sebagai musibah. Ternyata di balik musibah ada berkah. Di tengah masa pandemi, Singapura bisa keluar dari perangkap pertumbuhan ekonomi rendah menjadi pertumbuhan yang melesat tinggi.

Berita Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Membangun Persepsi Positif di Tengah Omicron

Opini ini ditulis Suryopratomo, Duta Besar Indonesia untuk Singapura.

Kebingungan Pemerintah dalam Kebijakan Natal dan Tahun Baru

Opini ini ditulis Eni Lestari, pengurus BPC Perhumas Solo, mahasiswa Pascasarjana Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo.

Era Post-truth dan Model Pemberitaan Pemerintah

Opini ini ditulis Joko Priyono S.Sos M.Si, Kepala Seksi Komunikasi dan Desiminasi Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Klaten.

Perempuan Muda, Tangguh, dan Berdaya Saing dalam Memimpin Perubahan

Opini ini ditulis Teradijah Febriani, karyawan BUMN, mahasiswa Pascasarja Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo.

Generasi Milenial Jadi Bos, Kompetenkah?

Opini ini ditulis Fina Sunardiyah, pegawai Dirjen Bea Dan Cukai Kementerian Keuangan, mahasiswa Pascasarjana Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo.

Automasi dan Skill Shift Pekerja Masa Depan (Bagian 2)

Artikel ini ditulis Astrid Widayani, SS., SE., MBA, dosen Manajemen Stratejik Fakultas Ekonomi Universitas Surakarta, mahasiswa Doctoral Program Doctor of Business Administration, Business Transformation and Entrepreneurship-Business School Lausanne, Switzerland.

+ PLUS #Bangkit Bersama: Dari Solo untuk Indonesia

Beda dengan tahun lalu, saat perjalanan bisnisnya gelagepan. Seperti terkena virus corona bergejala berat. Kesulitan bernapas, seperti orang berenang mau tenggelam. Tapi tahun ini ceritanya lain.

Automasi dan Skill Shift Pekerja Masa Depan (Bagian 1)

Artikel ini ditulis Astrid Widayani, SS., SE., MBA, dosen Manajemen Stratejik Fakultas Ekonomi Universitas Surakarta, mahasiswa Doctoral Program Doctor of Business Administration, Business Transformation and Entrepreneurship-Business School Lausanne, Switzerland.

+ PLUS Tidak Main-Main

Essai ini telah terbit di Koran Solopos edisi 17 November 2021, ditulis oleh Rini Yustiningsih, jurnalis Solopos.

+ PLUS Banjir Brand di Solo

Essai ini telah terbit di Koran Solopos edisi 10 November 2021, ditulis oleh Arif Budisusilo, jurnalis senior Bisnis Indonesia.

Komunikasi Publik Pemerintah di Masa Krisis

Opini ini ditulis Joko Priyono S.Sos M.Si, Kepala Seksi Komunikasi dan Desiminasi Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Klaten.

+ PLUS Jagal…

Essai ini telah diterbitkan di Koran Solopos edisi 3 November 2021, ditulis oleh jurnalis Solopos Sholahuddin.

+ PLUS Daya Mahadata

Essai ini telah diterbitkan di Koran Solopos edisi 27 Oktober 2021, ditulis oleh jurnalis Solopos Ichwan Prasetyo.

+ PLUS Toleran dan Bahagia

Essai ini telah diterbitkan di Koran Solopos edisi 20 Oktober 2021, ditulis oleh jurnalis senior Solopos Syifaul Arifin.

+ PLUS Ketidakpastian adalah Kepastian

Esai ini ditulis oleh Pemimpin Redaksi Solopos, Rini Yustiningsih, dan telah terbit di Koran Solopos edisi 13 Oktober 2021.