Membangun Infrastruktur Hijau
Djoko Subinarto/Istimewa

Solopos.com, SOLO -- Infrastruktur yang memadai merupakan hal krusial untuk menggapai pertumbuhan ekonomi yang berkeadilan dan berkelanjutan. Kita mengapresiasi upaya pemerintah yang terus berupaya membangun dan meningkatkan infrastruktur keras.

Infrastruktur keras merujuk pada fasilitas-fasilitas yang mendukung bidang transportasi (bandara, jalan rel, jalan raya, dan pelabuhan), energi (pembangkit listrik, pipa gas, dan pipa minyak), telekomunikasi (telepon dan saluran Internet), serta kebutuhan dasar (air bersih, irigasi, rumah sakit, sekolah).

Ketersediaaan infrastruktur keras mesti diimbangi dengan ketersediaan infrastruktur hijau di perkotaan maupun di perdesaan demi menopang eksistensi ekosistem secara alami.

Menurut Green Infrastructure Worksheet yang disusun Town and Country Planning Association (TCPA) di Inggris, infrastruktur hijau meliputi, antara lain, taman, kebun, hutan, lahan pertanian, sungai, danau, dam, rawa-rawa, lahan permakaman, padang rumput, pantai, kebun raya, bangunan/situs bersejarah, sistem drainase, jalur sepeda, dan jalur pejalan kaki.

Dilihat dari aspek ekonomi, kesehatan, dan lingkungan hidup, ketersediaan infrastruktur hijau yang memadai setidaknya berkontribusi secara positif terhadap terciptanya beberapa hal krusial.

Pertama, menumbuhkan investasi. Ketersediaan infrastruktur hijau dapat menaikkan citra kawasan sehingga memberi nilai lebih bagi kawasan itu yang pada gilirannya mendorong minat orang berinvestasi.

Kedua, memberi nilai tambah sektor properti. Berbagai kajian menunjukkan properti yang berada di dekat ruang-ruang hijau terbuka memiliki nilai jual yang lebih tinggi sekitar 8%. Kawasan-kawasan yang memiliki infrastruktur hijau yang baik umumnya lebih banyak menarik minat pengunjung sehingga membuka berbagai peluang kerja dan usaha.

Ketiga, meningkatkan produktivitas. Lingkungan yang asri berpengaruh pada produktivitas kerja. Sejumlah penelitian menyimpulkan mereka yang bekerja di lingkungan yang asri, selain bekerja dengan lebih baik dan lebih produktif, juga mengalami penurunan tingkat stres, kesakitan, dan kemangkiran.

Keempat, membuka potensi pariwisata. Infrastruktur hijau yang terjaga dan tertata dengan baik dapat menjadi wahana rekreasi serta pendidikan warga dan sekaligus menjadi ikon penting kawasan yang menambah daya pikat kawasan itu.

Kesejahteraan Meningkat

Kelima, meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan. Ketersediaan infrastruktur hijau yang memadai akan mendorong masyarakat melakukan sejumlah aktivitas luar ruang seperti berjalan kaki, bersepeda, atau melakukan olahraga lainnya yang menopang terciptanya gaya hidup sehat.

Tatkala masyarakat memiliki tingkat kesehatan yang tinggi, produktivitas mereka tentu saja meningkat. Ketika produktivitas meningkat, kesejahteraan dan kemajuan ekonomi ikut meningkat.

Keenam, mendorong roda perekonomian warga. Infrastruktur-infrastruktur hijau memberi peluang lebih besar kepada masyarakat untuk melakukan ativitas rekreatif yang bukan hanya menjadikan masyarakat semakin bugar dan sehat, tetapi juga menjadikan roda perekonomian bergerak karena muncul peluang usaha.

Ketujuh, menaikkan kualitas kawasan. Hasil beberapa studi menunjukkan ketersediaan infrastruktur hijau berkontribusi meningkatkan interaksi sosial warga, mengurangi kekerasan dalam rumah tangga, menurunkan kriminalitas, mengurangi perilaku agresif anak, meningkatkan kinerja belajar anak di sekolah, serta meningkatkan kesehatan jiwa masyarakat.

Semua ini memengaruhi kualitas kawasan secara positif yang pada gilirannya berimbas pada aktivitas kehidupan ekonomi masyarakat yang positif pula. Kedelapan, mendukung keanekaragaman hayati. Keberadaan infrastruktur  hijau membentuk ekosistem yang saling bergantung dan saling mendukung.

Kerusakan atau berkurangnya infrastruktur hijau akan melenyapkan berbagai fauna serta flora yang pada gilirannya merusak keanekaragaman hayati sebuah kawasan. Ini dapat mengurangi dukungan bagi pembangunan ekonomi berkelanjutan.

Kesembilan, meminimalisasi bencana. Infrastruktur-infrastruktur hijau akan mengurangi aliran air di permukaan tanah sewaktu turun hujan sehingga mengurangi risiko banjir. Air akan segera terserap ke dalam tanah yang pada gilirannya akan meningkatkan cadangan air kawasan.

Risiko banjir dan ketersediaan pasokan air bersih akan sangat memengaruhi roda perekonomian. Pada dasarnya banjir terjadi tatkala aliran air menggenangi/menutupi permukaan tanah yang mestinya kering. Salah satu penyebab banjir adalah meluapnya sungai sewaktu turun hujan.

Serakah dan Egois

Meskipun memiliki kontribusi penting bagi kesehatan lingkungan, keberadaan sungai-sungai di sekitar kita sekarang ini kerap terabaikan akibat pembangunan fisik yang lebih mementingkan aspek profit komersial ketimbang kelestarian lingkungan.

Akibatnya, kondisi sungai-sungai itu menjadi semakin buruk sehingga malah menjadi beban lingkungan dan sekaligus menimbulkan persoalan bagi kita. Tidak sedikit sungai malah menjadi tempat sampah dan saluran limbah massal, menjadikan sungai kian dangkal dan kian memudahkan terjadi banjir ketika hujan.

Pada saat yang sama, sistem drainase yang buruk dan tidak terawat juga menjadi salah satu biang banjir. Curahan air hujan tak mampu ditampung sehingga sebagian air melimpas ke jalan dan membuat jalanan berubah menjadi kolam dadakan.

Yang juga ikut membuat lingkungan kita makin gampang dikepung banjir yaitu kian rusaknya daerah tangkapan air di kawasan hulu. Idealnya air hujan yang turun tidak langsung mengalir seluruhnya ke hilir, melainkan sebagian besar diserap dahulu ke dalam tanah di kawasan hulu.

Sayangnya, pesatnya pembangunan yang legal maupun yang ilegal di kawasan hulu menyebabkan lahan-lahan terbuka yang seharusnya menjadi daerah tangkapan air saat ini kian berkurang. Begitu hujan turun, air mengalir dengan deras dari hulu ke hilir dan merendam daerah-daerah yang posisinya lebih rendah.

Kita pasti paham Planet Bumi yang kita tinggali ini terdiri atas berbagai bentang alam dengan fungsi dan peran yang berbeda-beda. Dalam berinteraksi dengan alam seyogianya kita memperlakukan dengan bijak dan tidak semena-mena.

Sayangnya, lantaran didorong keserakahan dan keegoisan diri, kita sering memperlakukan alam lingkungan sekendak hati kita. Kawasan hulu yang semestinya dibiarkan alami, justru kita eksploitasi habis-habisan. Bukit-bukit yang mestinya hijau asri lestari tertutup pelbagai vegetasi malah digunduli.

Sungai yang seharusnya kita biarkan tetap bersih, kita cemari dan kita kotori. Rawa-rawa, danau, serta sawah yang seharusnya tetap terbuka, kita uruk dan kita jadikan kompleks permukiman dan perniagaan.

Kita memang perlu membangun infrastruktur keras, namun jangan sampai mengabaikan infrastruktur hijau. Ketersediaan infrastruktur hijau harus benar-benar direncanakan, ditata, dan dikelola secara baik serta menyeluruh, bersama-sama dengan ketersediaan infrastruktur keras. Jika tidak, bersiap-siaplah memanen bencana.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya



Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho