Membangun Ekosistem Lifelong Learning: Bagaimana Bertahan di Era Education 4.0?

Opini ini ditulis Astrid Widayani, SS., SE., MBA, dosen Manajemen Stratejik Fakultas Ekonomi Universitas Surakarta, mahasiswa Doctoral Program Doctor of Business Administration, Business Transformation and Entrepreneurship-Business School Lausanne, Switzerland.

 Astrid Widayani (Istimewa)

SOLOPOS.COM - Astrid Widayani (Istimewa)

Pertemuan tatap muka (PTM) di sekolah atau kampus yang dinantikan sejak tahun lalu akhirnya segera terlaksana. Saat ini ada beberapa institusi yang telah memenuhi syarat dilaksanakannya proses pembelajaran tatap muka.

Hal pertama yang disiapkan terlebih dahulu yaitu mengadakan simulasi kegiatan pembelajaran, bahkan beberapa di antaranya juga telah menggabungkan pembelajaran online dan tatap muka yang dikenal dengan hybrid learning atau blended learning.

PromosiTokopedia Card Jadi Kartu Kredit Terbaik Versi The Asian Banker Awards 2022

Berbagai pendekatan metode pengajaran sudah dilalui seluruh elemen di sektor pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. Hal positif yang didapatkan selama pandemi di sektor pendidikan adalah meningkatnya kemampuan digital (digital skill) dan kreativitas para pendidik serta semakin banyaknya inovasi khususnya dalam proses kegiatan belajar dan mengajar.

Hal ini sejalan dengan tujuan pembelajaran sepanjang hayat atau dikenal dengan lifelong learning yang menjadikan proses belajar bisa terus berjalan di mana saja dan dalam situasi apa pun.

Dengan perubahan yang sangat cepat di bidang teknologi dan tatanan sosial, pendidikan formal dan ijazah dinilai tidak lagi cukup menjadi syarat para pekerja masa depan untuk bisa bersaing menuju society 5.0. Masyarakat khususnya calon lulusan perguruan tinggi harus bisa menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi di lapangan pekerjaan, kebutuhan pasar, dan peluang karier yang ada. Banyak yang menganggap bahwa nantinya pekerja masa depan harus bersaing dengan robot atau mesin, namun pada kenyataannya hal utama yang harus dihadapi adalah bagaimana menghadapi revolusi industri yang mengharuskan kita menguasai literasi baru di bidang teknologi digital dan informasi, serta literasi mengenai perkembangan sosial ekonomi yang menjadi dasar segala perubahan di masyarakat.

Perubahan ini akan menghasilkan berbagai jenis pekerjaan baru dan kesempatan baru di masa depan. Jenis pekerjaan lama akan semakin berkurang, seluruh pekerjaan akan berpusat pada inovasi teknologi, serta tantangan pekerja masa depan yang berfokus pada keterampilan (skills) dan karakter (character) selain pada pengetahuan (knowledge) saja.

Berdasarkan pengalaman dan kebijakan yang telah berjalan, pendekatan baru melalui ekosistem lifelong learning perlu menjadi acuan. Pendekatan ini menjadikan proses pembelajaran akan terus bergerak menyesuaikan arus perubahan dan tantangan zaman. Setiap instansi bisa mulai menerapkan lifelong learning sebagai budaya baru tidak hanya dilihat dari proses pembelajaran saja, akan tetapi juga bagaimana nantinya setiap institusi bisa menciptakan strategi untuk menjawab perubahan yang ada di masyarakat maupun di industri kerja. Hal ini akan sangat membantu institusi untuk dapat bergerak lebih efektif dan efisien khususnya dalam membangun komunikasi strategis internal organisasi.

Selain itu, pemahaman mengenai kesadaran belajar sepanjang hayat bisa dikenalkan mulai dari sekarang agar pendidikan di Indonesia bisa lebih cepat dalam mengakselerasi kebijakan baru pemerintah melalui Kemendikbud yaitu Kebijakan Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM).

Dikutip dari sebuah artikel di The Economist, ada sebuah pernyataan yang menjelaskan bahwa gelar sarjana di awal karier tidak menjawab kebutuhan untuk memperoleh keterampilan baru, terutama dalam rentang karier yang panjang. Pelatihan keterampilan sangat dibutuhkan untuk mendukung standar keahlian yang dibutuhkan, namun masih diperlukan kebaharuan keterampilan (upgrading skill) yang harus dilakukan terus menerus sepanjang karier.

Literasi Baru

Era digital telah menjadikan kita untuk lebih cakap digital sehingga banyak literasi baru bisa dipelajari dibandingkan dengan pendidikan di era konvensional yang bergantung pada buku ajar. Pemanfaatan teknologi informasi secara baik akan menjadi jembatan yang membuka banyak peluang bagi para lifelong learner. Pada akhirnya, banyak orang yang mencapai kesuksesan secara pribadi maupun organisasi sudah pasti telah berhasil membangun ekosistem lifelong learning sehingga mampu adaptif dan inovatif menghadapi tantangan zaman.

Di sisi lain, masih banyak pribadi maupun organisasi yang belum terbuka dengan kesempatan ini. Bahkan belum menjadikan pelatihan (training) dan pengembangan sumber daya manusia (SDM) sebagai prioritas di era education 4.0 ini disebabkan terbatasnya dana pengembangan sumber daya manusia (SDM). Padahal pendekatan ekosistem lifelong learning ini bukan hal yang mahal karena hanya membutuhkan strategi untuk memastikan bahwa pengetahuan (knowledge) dan keterampilan (skills) kita selalu up-to-date.

Pendidikan yang berkelanjutan (on going education) dapat membantu mewujudkan pembangunan nasional melalui pembangunan sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang terampil dan kompeten. Melalui pembangunan ekosistem lifelong learning diharapkan seluruh peran yang ada di dunia pendidikan bergerak bersama saling mengisi tanpa tumpang tindih karena akan sejalan dengan kebutuhan dan perubahan. Pembangunan pendidikan melalui pendekatan belajar sepanjang hayat ini akhirnya bisa menghasilkan standar baru sumber daya manusia (SDM) Indonesia di masa depan yang tidak hanya berfokus pada pendidikan formal namun juga practical skills.

Daftar dan berlangganan Espos Plus sekarang. Cukup dengan Rp99.000/tahun, Anda bisa menikmati berita yang lebih mendalam dan bebas dari iklan dan berkesempatan mendapatkan hadiah utama mobil Daihatsu Rocky, sepeda motor NMax, dan hadiah menarik lainnya. Daftar Espos Plus di sini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Solopos.com - Panduan Informasi dan Inspirasi

Berita Terkait

Berita Lainnya

      Berita Terkini

      Memanusiakan Guru Honorer

      Setelah membaca pemberitaan tentang guru honorer yang terjerat utang puluhan juta rupiah hingga ratusan juta rupiah di aplikasi pinjaman online, ingatan saya melayang pada puisi lawas karya Hartoyo Andangjaya.

      Kaesang, G-20 & Gastrodiplomacy Jokowi

      Presiden Joko Widodo bisa dibilang sukses menerapkan gastrodiplomacy untuk memuluskan aneka misi global yang penting. Contohnya bisa dilihat saat menjelang dan ketika pelaksanaan Konferensi Tingkat Tinggi Negara G20 di Bali.

      Gaya Hidup dan Konsumerisme

      Dunia hari ini telah masuk dalam era postmodern. Pada era postmodern, dampak nyata yang dapat dilihat yaitu kondisi masyarakat yang konsumtif.

      Kecelakaan Bus Pariwisata Bukan Semata-mata Kesalahan Sopir

      Bus itu terperosok ke jurang di tepi jalan raya Sarangan, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, Provinsi Jawa Timur, Minggu siang itu.

      Optimistis Menghadapi Resesi Global

      International Monetery Fund (IMF) dalam World Economic Outlook 2022/2023 mengungkapkan perekonomian Indonesia diprediksi akan tetap moncer meski isu resesi global menyeruak.

      Guru Era Metaverse

      Metaverse adalah dunia baru pelengkap dunia realitas. Menurut disrupto.co, meta adalah digital, sedangkan universe berarti semesta. Digabungkan menjadi semesta digital. Perwujudan metaverse tidaklah sesederhana itu.

      Efek Gibran

      Keberadaan Gibran sebagai Wali Kota Solo sekaligus anak Presiden Joko Widodo pasti berbeda dibandingkan dengan status wali kota atau bupati yang tak punya hubungan kekeluargaan dengan presiden.

      Angkringan

      Konon angkringan ada sejak puluhan tahun lalu, bahkan sebelum kemerdekaan Indonesia. Menurut sejumlah sumber, angkringan lahir dari inovasi warga Kabupaten Klaten bernama Eyang Karso Dikromo pada 1930-an.

      Demokrasi ala Muhammadiyah

      Gawe Muhammadiyah wis rampung (hajatan besar Muhammadiyah telah usai). Muktamar ke-48 Muhammadiyah dan Aisyiyah telah berakhir. Kini Muhammadiyah dan Aisyiyah kembali bekerja untuk bangsa dan semesta.

      Wisata Wedding

      Para insan pariwisata Solo bisa berharap pernikahan Kaesang-Erina bisa menjadi momentum agar orang-orang luar kota yang punya budget cukup bisa menjadikan wedding di Solo sebagai pilihan. Bali bisa menjadi contoh adanya wisata wedding ini. Banyak orang luar negeri yang melaksanakan pernikahan di Balik karena eksotisme budaya dan tradisinya.

      Menyikapi Pro Kontra Gestur Jerman di Piala Dunia 2022

      Sikap FIFA melarang ekspresi politis di lapangan adalah gagasan utopis.

      Kecacatan Editor Tulisan

      Sistem media digital mereduksi kaidah struktur penulisan kata sesuai Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI)—kini kembali ke Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD).

      Buya Turun dari Menara Gading

      Dosen semestinyamengajar, meneliti, menulis, juga mendampingi masyarakat. Dosen ideal juga mengajak mahasiswa terjun ke masyarakat untuk melihat persoalan lalu mencarikan solusi. Blusukan dan berdialog dengan warga akar rumput.

      Dari Bon Raja, Taman Satwa Taru Jurug, hingga Solo Safari

      Cikal bakal Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) yang kini sedang direvitalisasi menjadi Solo Safari semula adalah kebun binatang di Taman Sriwedari yang dibangun pada 1901 dengan sebutan Kebon Raja atau Bon Raja.

      Aneka Masalah untuk Rektor UNS

      Universitas Sebelas Maret (UNS) baru saja menyelesaikan hajatan besar, yaitu transisi pemimpin atau pergantian rektor.

      Kaum Boro Harus Bali Ndesa Mbangun Desa

      Istilah kaum boro sangat lekat dengan Kabupaten Wonogiri. Banyak warga Kabupaten Wonogiri memiliki sejarah panjang dengan budaya merantau.