Membaca Perpustakaan Digital

Essai ini ditulis oleh Diki Mardiansyah, mahasiswa Fakultas Hukum dan pegiat BP2M Unnes dan telah terbit di Harian Solopos edisi 3 Juli 2021.

 Diki Mardiansyah (dok)

SOLOPOS.COM - Diki Mardiansyah (dok)

Zaman berkembang begitu pesat dan menuntut berbagai bidang kehidupan beradaptasi. Terlebih setahun lebih pandemi Covid-19 melanda. Dampak yang paling terasa adalah minimnya ruang gerak orang-orang untuk berkumpul dan larangan mengadakan acara keramaian. Perpustakaan sebagai bidang yang menunjang pendidikan, kebudayaan, dan literasi, semestinya segera berbenah beralih menuju ke digitalisasi.

Perpustakaan sebagai ruang belajar yang biasanya ramai dikunjungi oleh banyak pengunjung—baik pembaca maupun bukan pembaca–terpaksa ditutup. Di masa pandemi, bukan hanya perpustakaan saja yang ditutup, melainkan kegiatan belajar-mengajar di perguruan tinggi yang hingga kini urung terlaksana.

Menilik Pasal 3 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, fungsi perpustakaan sangat vital dalam dunia pendidikan. “Perpustakaan berfungsi sebagai wahana pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi untuk meningkatkan kecerdasan dan keberdayaan bangsa,” bunyi pasal itu.

Sementara itu, Tim Perpusnas menerbitkan buku Standar Nasional Perpustakaan Perguruan Tinggi (2012). Dalam buku itu, salah satu tujuan perpustakaan di perguruan tinggi adalah mendayagunakan teknologi informasi dan komunikasi. Lantas apakah perpustakaan di perguruan tinggi sudah mendayagunakan teknologi informasi dan komunikasi secara optimal di masa pandemi?

Selama lebih dari satu tahun terakhir, kuliah dilaksanakan dalam jaringan (daring) dan gedung perpustakaan ikut ditutup. Padahal mahasiswa membutuhkan bahan bacaan, setidak-tidaknya untuk melengkapi referensi tugas-tugas kuliah. Di sinilah kendala bermunculan. Banyak perpustakaan di perguruan tinggi yang belum bisa memberikan pelayanan digital secara optimal. Bahkan, mungkin ada perpustakaan yang sama sekali belum siap memberikan pelayanan secara digital.

Kondisi ini membuat mahasiswa kesusahan mengakses bahan bacaan, terlebih harga buku yang mahal. Memang banyak juga bahan bacaan berupa artikel, jurnal, e-book, dan referensi lainnya yang bisa diakses melalui internet. Tetapi sebenarnya ini bukan perkara mudah tidaknya mengakses artikel dan referensi lain yang tersedia secara daring. Pertanyaannya, bagaimana perpustakaan perguruan tinggi mampu berperan dalam memberikan pelayanan secara digital kala pandemi?

Saya sendiri lebih sering mengakses buku elektronik (e-book) di aplikasi Ipusnas. Aplikasi yang disediakan oleh Perpustakaan Nasional itu sedikit membantu kala mahasiswa sedang buntu mencari sumber referensi. Tentu satu aplikasi dari Perpustakaan Nasional belum cukup. Semestinya, setiap perpustakaan di perguruan tinggi bisa membuat platform digital sendiri meski biayanya cukup mahal.

Zaman berganti dan pandemi memberikan pengalaman berharga kepada perpustakaan. Beralih mengutamakan pelayanan digital adalah keniscayaan. Kita tak bisa memungkiri, perpustakaan di perguruan tinggi, bahkan di kampus-kampus ternama, hanya megah secara bangunan secara fisik. Barangkali hanya indah dipandang oleh kedua mata, tetapi buruk dalam hal koleksi buku. Pandemi kian menunjukkan tidak optimalnya perpustakaan memberikan pelayanan secara digital.

Solusi Kala Pandemi

Perpustakaan digital menjadi solusi untuk memberikan bahan bacaan yang lebih banyak kepada publik, terutama mahasiswa, dengan akses yang mudah dan efisien. Di era digital, buku elektronik atau e-book menjadi pilihan banyak perpustakaan untuk menyediakan bahan bacaan gratis bagi pengunjung (Etalase Majalah Tempo, 3 Juli 2021). Hal ini menunjukkan perpustakaan digital juga bisa menjadi jalan keluar mengatasi mahal dan sulitnya mendapat bahan bacaan.

Kinerja perpustakaan digital tidak lagi diukur dari berapa jumlah anggota perpustakaan dan berapa pengunjungnya. Namun, yang harus dijawab adalah akses apa saja yang diberikan perpustakaan, atau berapa artikel yang bisa diakses oleh mahasiswa dan masyarakat umum.

Sudah saatnya perpustakaan di perguruan tinggi menjadi bagian penting untuk menjadi sumber ilmu pengetahuan terbuka bagi mahasiswa, seluruh civitas academica di kampus, hingga masyarakat umum. Sejalan dengan pembangunan infrastruktur teknologi informasi yang berkembang hingga ke seluruh pelosok negeri, perpustakaan digital seharusnya semakin mudah dijangkau mahasiswa dan terbuka untuk publik.

Pengembangan perpustakaan digital menjadi jalan yang harus ditempuh perguruan tinggi dalam menghadapi percepatan perkembangan zaman. Begitu pula menghadapi pandemi yang entah kapan berakhirnya.

Belum lama ini, Perpusnas Press menerbitkan buku berjudul Perpustakaan Khusus Vs Covid-19 Inovasi dan Kreasi Layanan Pada Masa Pandemi (2021) yang ditulis Tim Perpustakaan Khusus Indonesia. Buku ini menjelaskan bagaimana inovasi, kreasi, hingga layanan perpustakan di masa pandemi.

Buku itu membawa pesan perpustakaan dapat mencoba bentuk-bentuk pelayanan baru yang lebih aman dan digemari oleh pengguna. Ada beberapa opsi pelayanan. Pertama, memulai pelayanan dengan koneksi digital. Kedua, menyediakan tautan perpustakaan digital lain atau sumber informasi elektronik lain yang sudah ada dan mungkin dibutuhkan oleh pengguna. Ketiga, menyelenggarakan berbagai kegiatan baru seperti kuis daring, resensi, dan menulis buku secara daring.

Intinya, perpustakaan harus mengikuti kebutuhan masyarakat penggunanya. Konsep perpustakaan digital menjadi alternatif yang dapat dilakukan perpustakaan untuk meningkatkan pelayanan. Saat ini bukan lagi masa membanggakan jumlah anggota, akan tetapi menunjukkan kemampuan memberikan akses bacaan kepada publik.

Di lingkungan perguruan tinggi, perpustakaan digital kini diperlukan untuk mendukung pelaksanaan pendidikan dan pengajaran, penelitian, pengabdian, dan pelayanan masyarakat. Akademisi Ilmu Komputer Universitas Indonesia, Zainal A. Hasibuan, dalam tulisannya yang berjudul Pengembangan Perpustakaan Digital: Studi Kasus Perpustakaan Universitas Indonesia (2005), menyebut digital library atau perpustakaan digital merupakan konsep penggunaan internet dan teknologi informasi dalam manajemen perpustakaan.

Dengan demikian, sebagai pusat informasi, perpustakaan harus mampu mengikuti arah perkembangan masyarakat, termasuk penggunaan teknologi digital, bila tidak ingin ditinggalkan atau dilupakan. Perpustakaan bukan hanya sekadar bangunan yang menyimpan koleksi, melainkan fasilitas yang memiliki berbagai fungsi peningkatan literasi.

Berita Terkait

Espos Premium

Pebisnis Besar Berebut Kue Lezat Bisnis Pusat Data

Pebisnis Besar Berebut Kue Lezat Bisnis Pusat Data

Ekosistem digital tengah merebak di Indonesia seiring penetrasi Internet yang semakin meluas sehingga kebutuhan penyimpanan data semakin tinggi. Selama ini data penduduk Indonesia berada di luar negeri sehingga penarikan informasi memakan waktu dan jarak yang jauh.

Berita Terkini

Membangun Ekosistem Lifelong Learning: Bagaimana Bertahan di Era Education 4.0?

Opini ini ditulis Astrid Widayani, SS., SE., MBA, dosen Manajemen Stratejik Fakultas Ekonomi Universitas Surakarta, mahasiswa Doctoral Program Doctor of Business Administration, Business Transformation and Entrepreneurship-Business School Lausanne, Switzerland.

Melawan Begal Digital

Esai ini ditulis oleh Arif Budisusilo, jurnalis senior Bisnis Indonesia Group, dan telah terbit di Koran Solopos edisi 22 September 2021.

Pelayanan Publik Indonesia Tangguh

Essai ini ditulis oleh Siti Farida, Kepala Ombudsman RI Perwakilan Jawa Tengah, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 21 Agustus 2021.

ISI Solo Butuh Rektor Petarung

Essai ini ditulis oleh Aris Setiawan, pengajar jurnalisme di Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 20 Agustus 2021.

Pendidikan Anak Merdeka

Essai ini ditulis oleh Paulus Mujiran, Ketua Pelaksana Yayasan Kesejahteraan Keluarga Soegijapranata Semarang, dan telah diterbitkan Koran Solopos 19 Agustus 2021.

Pramuka di Masa Pandemi

Essai ini ditulis oleh Alies Sri Lestari, guru Bahasa Indonesia dan pembina pramuka di SMPN 5 Solo, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 18 Agustus 2021.

Membangun Kemerdekaan Psikologis di Masa Pandemi

Opini ini ditulis Dr. Lilik Sriyanti, M.Si, dosen IAIN Salatiga dan Konselor Biro Konsultasi Psikologi.

Dimensi Sosial Teknologi Pertanian

Esai ini telah terbit di Harian Solopos 12 Agustus 2021, ditulis oleh Agung S.S. Raharjo, Analis Ketahanan Pangan Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian.

Magrib di Serambi

Opini ini terbit di Koran Solopos edisi Sabtu 14 Agustus 2021, ditulis oleh Ayu Prawitasari, jurnalis Solopos.

Kurang Kencang, Pak Jokowi...

Esain ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 11 Agustus 2021, karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia atau Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI).

Pelajaran dari Emas Olimpiade

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Rabu 11 Agustus 2021, ditulis oleh Agustinus Heruwanto Guru SMA Pangudi Luhur St. Yosef Solo.

Dampak Penerapan PPKM di Salatiga

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Senin 9 Agustus 2021, ditulis oleh Santi Widyastuti, statistisi di Badan Pusat Statistik Kota Salatiga.

Pitulungan

Esai ini karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Seni Memasarkan PPKM Level 4

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Sabtu 7 Agustus 2021, ditulis oleh Mohammad Eko Fitrianto, dosen Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya dan mahasiswa doktoral Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada.

Kehilangan Makna…

Tulisan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 4 Agustus 2021. Esai ini karya Sholahuddin, aktif di Solopos Institute.

Memeriahkan Hari Kemerdekaan ke-76 RI secara Daring

Opini ini ditulis Marwanto, dosen Bahasa Indonesia, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan FTIK IAIN Salatiga.