Udji Kayang Aditya Supriyanto/Istimewa

Solopos.com, SOLO -- Semasa kecil di Kabupaten Wonogiri, kata-kata sekadar tulisan pada tubuh bus atau bak truk. Kata-kata saya terima semata-mata sebagai dua hal: ketidaktahuan dan kesalahpahaman.

Pengalaman awal saya berjumpa kata-kata agak mirip perjumpaan dengan Alquran dalam Semasa Kecil di Kampung (1950) karya M. Radjab. ”Tetapi sampai Alquran itu tamat tujuh kali, oleh saya, karena tak diartikan, Tuhan tidak berkata apa-apa yang dapat saya pahami,” tulis Radjab. Kata-kata yang saya jumpai semasa kecil pun tidak mengatakan apa-apa kepada saya.

Saya mulai mencoba mengartikan kata-kata berdasarkan bunyi—sayangnya bunyi yang salah. Saya mengartikan tulisan bojo loro di tubuh bus sebagai ”baja sakit”, dan tentu saja ditertawakan. Saya mengira bojo serta-merta merujuk pada Kesatria Baja Hitam, dan loro itu sakit, tanpa tahu bahwa maksud sebenarnya adalah beristri dua.

Di Wonogiri, keluguan saya sebagai bocah dipermainkan berkali-kali oleh kata-kata. Saya baru yakin betul kata-kata mengatakan sesuatu manakala kami pindah ke Kota Solo. Setiap pagi, saya selalu melihat adegan bapak saya duduk di kursi, tangannya membentangkan berlembar-lembar kertas mahalebar.

Itulah kali pertama saya berjumpa Solopos, maksud saya koran, ah tidak ada bedanya! Saat itu saya tidak tahu ada koran lain selain Solopos. Sadar akan keingintahuan saya, bapak saya sering menceritakan apa-apa yang dikatakan koran, bahkan mengajak saya turut membaca—tepatnya saya mengeja kata-kata dan bapak menerangkan maksudnya.

Bapak meletakkan koran di lantai, mengurangi kerepotan-kerepotan, dan menunjukkan kepada saya bahwa ada dunia yang bergerak di luar sana. Sumber informasi literer pertama saya rupanya dari koran, sebelum majalah anak, ensiklopedia, kemudian buku-buku. Lagi-lagi saya teringat Semasa Kecil di Kampung.

Di Minang masa silam, dengan kelisanan yang masih kuat, koran dibaca oleh seorang dan beberapa yang lain mendengarkan. Sampai-sampai ketika ayah Radjab berbicara dengan seseorang tanpa membentangkan koran, ia mengira ayahnya sudah menghafal isi koran dan sedang menyampaikan informasi dari koran kepada orang lain. Koran pada masa itu dianggap sinonim informasi.

Senja Kala Koran?

Pada suatu hari, di Jakarta, dua dasawarsa kemudian, seorang kawan mengabarkan tulisan saya dimuat di koran yang hanya beredar di Jakarta. Saya, yang tinggal di Jakarta, langsung tergerak mencari kios koran terdekat untuk membeli koran termaksud. Jarak antara kontrakan saya dengan kios koran terdekat itu, percayalah, setara jarak Griya Solopos dengan Taman Sriwedari.

Berkendara motor di Jakarta menuju kios koran, entah mengapa, mengingatkan saya pada masa-masa KKN (kuliah kerja nyata, tetapi tidak ada hantu-hantunya) beberapa tahun silam di Kabupaten Sragen. Saya menempuh jarak berkilometer ke pasar hanya demi membeli koran, kala itu. Jakarta jangan-jangan memang hanya ”desa raksasa”?

Kios koran benar-benar sulit dijumpai di Jakarta. Hampir mustahil koran (cetak) sampai ke tangan kecuali melalui skema langganan, atau di ruang-ruang publik seperti ruang tunggu bank, lobi hotel, perpustakaan, dan sebagainya (tentu hanya untuk dibaca, bukan dimiliki). Di Solo, sejauh saya sempat saksikan sebelum merantau ke Jakarta, sekian loper koran sudah prei suwe juga.

Seorang jurnalis senior bilang ini zaman senja kala media cetak. Oplah koran cetak tentu berkurang, tidak perlu mikir jeru-jeru untuk mengerti hal ini; namun saya kira koran bukan seperti anak indie-folk yang meromantisasi senja kala. Pengelola koran memilih berusaha ada dan dibaca. Digitalisasi adalah konsekuensi logis.

Koran berbeda dari buku, katakanlah, yang bakal tetap dicari edisi cetaknya karena kolektibel. Koran bukan koleksi, kecuali dikumpulkan sebagai referensi oleh, misalnya, Bandung Mawardi dan Muhidin M. Dahlan. Pembaca bersahaja tak merasa perlu memiliki koran cetak. Koran cukup dibaca.

Pada zaman ini, yang ditawarkan sudah bukan lagi kepemilikan, melainkan pengalaman. Itulah mengapa aplikasi Spotify laris, katakahlah, padahal pelanggan hanya mendengarkan lagu-lagu di sana tanpa memiliki satu pun file audionya. Koran bisa melakukan itu juga pada era digital ini, dengan caranya sendiri, selama sadar akan kecenderungan zaman.

Koran Tetap Ada

Digitalisasi koran biasanya melalui portal berita daring yang mereka kelola dan e-paper. Pembaca tidak menyentuh kertas sama sekali tetapi menyadari bahwa koran ada dan mereka membacanya. Kehadiran media baru, sekalipun relasinya ”kawan-lawan”, membantu menjaga keterbacaan koran.

”Media baru disebut ’kawan’ karena dalam pengertian mesin pencari, agregator berita, dan media sosial telah memberikan banyak kemudahan produksi dan distribusi media,” tulis Agus Sudibyo dalam Jagat Digital: Pembebasan dan Penguasaan (2019). Media baru dalam hal tertentu memang ”lawan” media lama (termasuk koran), tetapi Agus menyebut media baru tidak sepenuhnya dapat menggantikan fungsi-fungsi demokratis-deliberatif media lama.

Saya percaya pada slogan penerbit tempat saya bekerja: ”Untuk Membaca Zaman”. Dengan membaca zaman, kita akan mengerti bahwa koran hanya mengalami perubahan cara baca, alih-alih meratapi senjakala. Zaman menentukan cara membaca koran, sudah tidak lagi dalam bentangan kertas yang gagah dan angkuh, apalagi dibacakan di forum seperti dalam Semasa Kecil di Kampung.

Pada zaman ini, terjadi fenomena evolusi ekologi media, yang menurut Agus,”... dalam pengertian bahwa masyarakat makin lama makin terpola untuk mengakses informasi, hiburan, dan diskursus publik secara digital dengan dampak berupa perubahan perilaku bermedia—perubahan dari masyarakat yang terbiasa mengakses media cetak menuju masyarakat yang terpola untuk mengakses informasi secara digital.”

Pola itulah yang wajib dipahami agar koran tetap lestari. Akhirnya, selamat ulang tahun, Solopos. Saya percaya para pengelola Harian Solopos sanggup membaca zaman dan memahami bagaimana pola perilaku bermedia masyarakat sekarang. Saya selalu membayangkan suatu saat nanti bapak saya tersenyum di surga menyaksikan saya masih membaca koran sebagaimana dirinya pada masa silam.

Bapak saya tentu maklum, kedua tangan saya sudah tak akan membentangkan berlembar-lembar kertas mahalebar, sebagaimana bapak saya malas melakukannya saat membaca koran bersama saya 20 tahun lalu. Saya mungkin hanya butuh satu tangan untuk membaca koran di layar gawai, sedang tangan lainnya untuk garuk-garuk kepala yang mumet memikirkan negara.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten