Memayu Hayuning Wana, Tirta, dan Manungsa
Agung Vendi Setyawan/Istimewa

Solopos.com, SOLO -- Di dunia pendidikan Indonesia, peduli lingkungan menjadi karakter luhur yang wajib diinternalisasi dalam pembelajaran (Kementerian Pendidikan Nasional, 2010). Jika dihubungkan dengan kearifan lokal budaya Jawa, karakter peduli lingkungan sesuai dengan falsafah hidup masyarakat Jawa memayu hayuning bawana.

Agus Wibowo dan Gunawan (2015: 84) menjelaskan falsafah tersebut disebut pada lakon wayang Ciptaning Mintaraga yang digubah Paku Buwono III pada masa penjajahan Belanda (1749-1788 M) dari kitab Arjuna Wiwaha karya Empu Kanwa dalam bentuk tembang Kinanthi.

Salah satu liriknya adalah ”…memayu jagad puniki, angreksa kang parahita…”; melindungi dunia ini, menjaga kelestarian parahita yang dalam perkembangannya menjadi memayu hayuning bawana. Memayu berarti memperbaiki, hayu berarti selamat, dan bawana berarti jagat beserta seisinya.

Ada tiga diversifikasi memayu hayuning bawana yang terabaikan hingga terjadi bencana. Tiga hal tersebut merupakan turunan atau gatra memayu hayuning bawana yang terdiri atas memayu hayuning wana, memayu hayuning tirta, dan memayu hayuning manungsa. Tiga hal tersebut relevan dengan nilai-nilai budaya leluhur dengan pendidikan.

Ki Hadjar Dewantara (1977) mengemukakan pendidikan tanpa kebudayaan ibarat perahu di lautan tanpa panduan arah. Memayu hayuning wana erat kaitannya dengan manusia berpartisipasi aktif dan berkontibusi dalam pelestarian hutan. Ketika komponen biotik dan abiotik di hutan rusak, rusak pula semua sistem alam. Hutan memegang peran penting dalam tata kelola air.

Jika ditelusur secara mendalam, eksploitasi hutan menyebabkan air hujan tak terserap secara maksimal. Volume dan debit air yang besar memicu tanah longsor di kawasan yang tanahnya labil. Air yang tak terkendali meluber, membanjiri daerah aliran sungai (DAS) yang beralih fungsi dari sabuk hijau menjadi permukiman atau tempat usaha.

Memayu hayuning tirta berkaitan dengan sikap manusia mengelola sumber daya air secara bijak. Siklus hidrologi dan komponen penyangga air yang terjaga berdampak pada ketersediaan air pada saat sumber daya air terbatas, misalnya pada musim kemarau. Pada musim hujan pun, meski sumber daya air jumlahnya melimpah, tidak akan menyebabkan banjir.

Alih Fungsi Hutan

Vegetasi yang masih terjaga membuat air dapat terikat oleh akar pepohonan. Rumput juga memegang peran penting dalam pengikatan air. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per 25 November 2019, hutan di Indonesia pada akhir 2017 sekitar 297.183,2 hektare.

Angka tersebut menurun jika dibandingkan data kawasan hutan pada akhir 2016 yang mencapai 431.266,3 hekatre. Angka deforestasi tersebut akan semakin bertambah jika pemerintah selaku pemangku kebijakan kurang tegas dan selektif dalam perizinan pemanfaatan hutan.

Jangan karena urusan politik dan peningkatan pendapatan daerah, pengalihfungsian hutan semakin menjamur untuk bisnis properti seperti pembangunan vila atau tempat penginapan. Jika ditelusur secara mendalam, eksploitasi hutan menyebabkan air hujan yang turun tak dapat terserap secara maksimal.

Memperbanyak ruang hijau, pembangunan embung, perbaikan sistem drainase, mengurangi betonisasi dan pavingisasi menjadi cara agar air terjaga kelestariannya. Pngelolaan air dapat ditanamkan sejak dini pada anak didik di institusi pendidikan seperti pengolahan air wudu untuk hidroponik dan kolam ikan. Hal ini sekaligus membekali anak untuk kreatif dan terampil memanfaatkan lingkungan.

Memayu hayuning manungsa berhubungan dengan diri pribadi manusia untuk menjaga dan memberikan pengaruf positif terhadap lingkungan di sekitarnya. Sapa nandur bakale ngundhuh adalah peribahasa Jawa yang mengajarkan bahwa siapa saja yang berbuat kebaikan akan menuai hasil kebaikan pada kemudian hari, begitu pula sebaliknya.

Kurangnya kesadaran masyarakat menjaga lingkungan agar tetap lestari menjadi pendorong terjadi banjir. Kebiasaan buruk membuang sampah di saluran air menjadi cermin bahwa rasa handarbeni terhadap lingkungan sekitar tergolong rendah.

Pemerintah menerapkan kebijakan penggunaan dana desa untuk kesiapsiagaan bencana alam dan pelestarian lingkungan hidup. Perlu kesadaran pribadi membangkitkan rasa peduli terhadap lingkungan agar dapat meminimalisasi dampak bencana yang sewaktu-waktu terjadi.

Sikap arif lingkungan harus tertanam sejak dini seperti peribahasa Jawa pupur sadurunge benjut. Berhati-hati dan tetap waspada sebelum celaka seyogianya tertanam pada diri setiap manusia. Butuh kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan agar alam bersahabat dengan manusia. Tidak perlu menyalahkan pihak lain. Perlu kemauan untuk instrospeksi diri. Saling menjaga, mau mengingatkan, dan mau diingatkan menjadi kunci keseimbangan kehidupan.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya



Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho