Memaknai Perkemahan

Ketika Lord Robert Baden Powell berkemah bersama 22 anak laki-laki pada 25 Juli 1907 di Pulau Brownsea, Inggris, ia punya maksud dan tujuan tersendiri.

 M Abdur Rohman (Solopos/Istimewa)

SOLOPOS.COM - M Abdur Rohman (Solopos/Istimewa)

Solopos.com, SOLO — Ketika Lord Robert Baden Powell berkemah bersama 22 anak laki-laki pada 25 Juli 1907 di Pulau Brownsea, Inggris, ia punya maksud dan tujuan tersendiri. Ia mengadakan perkemahan untuk menempa fisik dan mental anak-anak laki-laki itu dalam menghadapi tantangan alam berupa ganasnya Samudra Arktik pada saat itu.

Begitu pula pada akhirnya ketika perkemahan itu menjadi cikal bakal gerakan kepanduan dunia. Di Nusantara, pada 1916 pemerintah kolonial Belanda mendirikan Nederland Indische Padvinders Vereeniging atau NIVP. Pada tahun yang sama, K.G.P.A.A. Mangkunagoro VII mendirikan gerakan kepanduan bernama Javaansche Padvinders Organisatie di Pura Mangkunegaran.

PromosiAngkringan Omah Semar Solo: Spot Nongkrong Unik Punya Menu Wedang Jokowi

Agenda di kepanduan tidak jauh dari perkemahan. Aacara berkemah dan arena perkemahan dijadikan tempat pendidikan untuk para anggota kepanduan. Di sini para anggota dididik, dilatih, ditempa fisik maupun mental mereka untuk menjadi seorang pandu yang berkarakter, bermental baja, bertanggung jawab, dan pemberani.

Dalam kepanduan milik organisasi Muhammadiyah, yaitu Hizbul Wathan, mengenal tiga prinsip dalam pelatihan kepanduan. Prinsip tersebut yaitu menarik, menantang, dan menyenangkan. Artinya, seseorang berkeinginan bergabung dalam kepanduan karena ada sesuatu yang menarik, ada tantangan dalam setiap kegiatan, serta menyenangkan.

Tidak ada istilah kekerasan fisik dalam kepanduan. Begitu pula ketika kita tilik Dasa Darma Pramuka. Terdapat 10 nilai luhur yang harus dimiliki seorang anggota Gerakan Pramuka. Takwa kepada Tuhan yang Maha Esa; cinta alam dan kasih sayang sesama manusia; patriot yang sopan dan kesatria; patuh dan suka bermusyawarah; rela menolong dan tabah.

Kemudian, rajin, terampil dan gembira; hemat cermat dan bersahaja; disiplin berani dan setia; bertanggung jawab dan dapat percaya; serta suci dalam pikiran perkataan dan perbuatan. Ketika kita tilik Dasa Darma Pramuka tersebut, tidak ada satu pun nilai kekerasan di dalamnya.

Keputusan Presiden Nomor 238 Tahun 1961 tentang Gerakan Pramuka memiliki tujuan menumbuhkan tunas bangsa agar menjadi generasi yang lebih baik, yang sanggup bertanggung jawab, dan mampu membina serta mengisi kemerdekaan nasional. Suatu tujuan mulia untuk suatu organisasi kepanduan yang besar.

Noda Hitam

Genap dua tahun yang lalu saya menulis esai di Harian Solopos tentang peristiwa ratusan siswa SMPN 1 Turi di Kapanewon Turi, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, yang hanyut di sungai dalam rangkaian kegiatan perkemahan Pramuka.

Kini luka lama itu seperti terbuka kembali sebagai sesama pegiat kepanduan. Ada rasa miris ketika membaca informasi di media sosial saat ini tentang kematian seorang santri Pondok Pesantren Modern Gontor.

Saya tidak menyesalkan dan mengomentari tentang pondok pesantrennya. Yang saya sesalkan ialah kegiatan tersebut dilaksanakan dalam rangkaian perkemahan Gerakan Pramuka, kegiatan kepanduan. Sebagai seorang yang sudah puluhan tahun aktif di gerakan kepanduan, ada rasa prihatin tersendiri ketika mengetahui peristiwa itu.

Ada satu hal yang lebih mencengangkan ketika berdasarkan keterangan dari keluarga santri yang meninggal bahwa ada kemungkinan dugaan tindak kekerasan fisik terhadap santri tersebut hingga meninggal dunia.

Mengemuka informasi jenazah yang awalnya sudah ditutup kain kafan tembus darah yang masih mengalir. Setelah kain kafan dibuka ternyata ada lebam-lebam di tubuh jemazah santri itu. Memang masih dalam penyidikan perihal penyebabnya, namun tetap disayangkan hal itu terjadi dalam agenda perkemahan Pramuka.

Beberapa kali saya mengikuti serta mengamati kegiatan perkemahan yang memang belum sesuai prosedur. Masih saya temui seorang instruktur atau senior melakukan kontak fisik ketika melatih anggota. Hal ini jelas tidak dibenarkan dengan alasan apa pun.

Sudah jelas bahwa dalam melatih mental dan fisik dalam kepanduan tidak boleh ada tindakan yang menyentuh fisik. Kesalahan kedua yang masih sering saya jumpai adalah seseorang yang beranggapan bahwa ”saya dulu menjalani proses yang jauh lebih berat daripada yang kamu alami”.

Itu merupakan alasan yang sama sekali tidak dibenarkan dalam kepanduan. Merasa senior, merasa lebih tau, dan merasa lebih kuat bukan zamannya lagi dilakukan dalam gerakan kepanduan. Selain itu, masih banyak saya jumpai kegiatan perkemahan yang kurang matang dalam perencanaan.

Agenda kegiatan belum terjadwal dan tersistem dengan baik. Banyak juga saya temui kegiatan perkemahan yang agenda kegiatannya kurang memperhatikan keselamatan peserta. Kegiatan-kegiatan tersebut sesungguhnya sangat berisiko pada kesehatan dan keselamatan peserta, namun tetap dilaksanakan tanpa mitigasi.

Aneka noda hitam tersebut meniscayakan pengembalian kepanduan sesuai fitrahnya. Kegiatan perkemahan yang menarik, menantang, dan menyenangkan. Laksanakan semua yang menjadi landasan organisasi kepanduan. Dalam kepanduan Hizbul Wathan ada janji dan undang-undang Hizbul Wathan. Dalam Gerakan Pramuka ada Dasa Darma Pramuka.

Ketika dilaksanakan dengan konsekuen, saya yakin tidak akan terajdi lagi tindak kekerasan dan kegiatan berisiko tinggi. Saya berharap peristiwa-peristiwa seperti itu tidak terjadi lagi dalam aneka kegiatan perkemahan dan kepanduan.

(Esai ini terbit di Harian Solopos edisi 14 September 2022. Penulis adalah guru SDIT Muhammadiyah Al-Kautsar, Gumpang, Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah)

Daftar dan berlangganan Espos Plus sekarang. Cukup dengan Rp99.000/tahun, Anda bisa menikmati berita yang lebih mendalam dan bebas dari iklan dan berkesempatan mendapatkan hadiah utama mobil Daihatsu Rocky, sepeda motor NMax, dan hadiah menarik lainnya. Daftar Espos Plus di sini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Solopos.com - Panduan Informasi dan Inspirasi

Berita Terkait

Berita Lainnya

      Berita Terkini

      Efek Gibran

      Keberadaan Gibran sebagai Wali Kota Solo sekaligus anak Presiden Joko Widodo pasti berbeda dibandingkan dengan status wali kota atau bupati yang tak punya hubungan kekeluargaan dengan presiden.

      Angkringan

      Konon angkringan ada sejak puluhan tahun lalu, bahkan sebelum kemerdekaan Indonesia. Menurut sejumlah sumber, angkringan lahir dari inovasi warga Kabupaten Klaten bernama Eyang Karso Dikromo pada 1930-an.

      Demokrasi ala Muhammadiyah

      Gawe Muhammadiyah wis rampung (hajatan besar Muhammadiyah telah usai). Muktamar ke-48 Muhammadiyah dan Aisyiyah telah berakhir. Kini Muhammadiyah dan Aisyiyah kembali bekerja untuk bangsa dan semesta.

      Wisata Wedding

      Para insan pariwisata Solo bisa berharap pernikahan Kaesang-Erina bisa menjadi momentum agar orang-orang luar kota yang punya budget cukup bisa menjadikan wedding di Solo sebagai pilihan. Bali bisa menjadi contoh adanya wisata wedding ini. Banyak orang luar negeri yang melaksanakan pernikahan di Balik karena eksotisme budaya dan tradisinya.

      Menyikapi Pro Kontra Gestur Jerman di Piala Dunia 2022

      Sikap FIFA melarang ekspresi politis di lapangan adalah gagasan utopis.

      Kecacatan Editor Tulisan

      Sistem media digital mereduksi kaidah struktur penulisan kata sesuai Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI)—kini kembali ke Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD).

      Buya Turun dari Menara Gading

      Dosen semestinyamengajar, meneliti, menulis, juga mendampingi masyarakat. Dosen ideal juga mengajak mahasiswa terjun ke masyarakat untuk melihat persoalan lalu mencarikan solusi. Blusukan dan berdialog dengan warga akar rumput.

      Dari Bon Raja, Taman Satwa Taru Jurug, hingga Solo Safari

      Cikal bakal Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) yang kini sedang direvitalisasi menjadi Solo Safari semula adalah kebun binatang di Taman Sriwedari yang dibangun pada 1901 dengan sebutan Kebon Raja atau Bon Raja.

      Aneka Masalah untuk Rektor UNS

      Universitas Sebelas Maret (UNS) baru saja menyelesaikan hajatan besar, yaitu transisi pemimpin atau pergantian rektor.

      Kaum Boro Harus Bali Ndesa Mbangun Desa

      Istilah kaum boro sangat lekat dengan Kabupaten Wonogiri. Banyak warga Kabupaten Wonogiri memiliki sejarah panjang dengan budaya merantau.

      Pencanangan Kampung KB

      Pencanangan kampung KB (keluarga berkualitas) di Kota Solo belum lama ini menarik untuk diperhatikan. Meski dicita-citakan dapat membawa harapan baru, yang patut untuk dipertanyakan adalah harapan siapakah itu?

      Banjir Kabar Banjir

      Semestinya urusan saluran air dan tata kelola lingkungan diperhatikan dengan baik sehingga banjir bisa dikendalikan serta bisa mewariskan lingkungan yang baik bagi generasi mendatang.

      Bukan Radiator Springs

      Mereka khawatir jalan-jalan baru antarprovinsi ini membuat daerah-daerah jadi sepi karena tak ada pelaku perjalanan antardaerah yang mau mampir.

      Paradoks Implementasi Merdeka Belajar

      Program Merdeka Belajar sebagai ikhtiar memperbaiki dan meningkatkan mutu pendidikan patut diapresiasi. Sebagai program transformatif banyak hal yang harus ditelaah secara kritis, antara lain, rapor pendidikan Indonesia dan program guru penggerak.

      Epifani Mengoreksi Kesombongan dan Daya Ingat Pendek

      Pada antroposentrisme manusia menyatakan klaim sebagai satu-satunya makhluk hidup yang ”berkesadaran” di alam raya ini. Manusia memandang dan menganggap segala sesuatu di luar dirinya yang tak berkesadaran sebagai objek.

      Keroncong Hibrida

      Satu genre musik bisa saja kalah, tersisih, tersia-sia, merana karena ditinggalkan penggemar. Sekarat pun boleh, tapi tak bisa mati. Setidaknya karena satu alasan: tak punya kuburan!