Kategori: Bisnis

Melihat Dari Dekat Calon Kawasan Industri Terbesar di Jateng


Solopos.com/Mariyana Ricky P.D

Solopos.com, BATANG -- Industri pengolahan merupakan sektor ekonomi utama penopang perekonomian Jawa Tengah yang berkontribusi 34,60% dari total PDRB Jawa Tengah. Dan kini Batang digadang-gadang bakal punya kawasan industri terbesar di Jawa Tengah atau Jateng.

Untuk mendukung percepatan peningkatan kinerja lapangan usaha industri pengolahan, salah satu kebijakan yang ditempuh pemerintah adalah mendorong pengembangan kawasan industri di Jawa Tengah.

Dikutip dari Laporan Perekonomian Jateng Februari 2021 yang dilansir di laman bi.go.id, saat ini terdapat tujuh kawasan industri yang telah beroperasi di Jawa Tengah dan dua kawasan industri yang masih dalam tahap pengembangan.

Salah satu kawasan industri yang masih dalam tahap pengembangan adalah Kawasan Industri Terpadu (KIT) Batang yang ditargetkan menjadi kawasan industri terbesar di Jateng dan memfasilitasi berbagai kebutuhan investasi.

Baca Juga: UNS Jalin Kerja Sama dengan Kedubes Indonesia untuk Afghanistan

Ekspedisi Tol Trans Jawa kerja sama Solopos Group dan Jasa Marga yang mengangkat tema Infrastruktur dan Geliat Pemulihan Ekonomi mencoba menyusuri proyek di KIT Batang, pada hari pertama Rabu (28/4/20210).

Di sana, tim sempat bertemu dengan manajemen KIT Batang yang sedang menjamu calon investor asal Korea Selatan. Seperti diketahui, hingga saat ini sudah ada tiga investasi besar besar yang akan masuk ke KIT Batang. Ketiganya adalah pabrik kaca asal Korea Selatan KCC Glass Corporation, LG Chem Ltd., dan Wavin.

Selain itu, Tim Ekspedisi Tol Trans Jawa juga menjumpai ratusan pekerja proyek sedang menata kluster 1 kawasan itu agar siap menerima investor pada akhir tahun.

Pengembangan KIT Batang secara keseluruhan seluas 4.300 hektare. Seluas 450 hektare yakni di kluster 1, hampir tuntas dan siap digunakan untuk investasi berkaitan dengan teknologi.

Bisnis Operation Manager KIT Batang, Dicky Pramudito, mengatakan infrastruktur pendukung menuju KIT Batang juga tengah dikerjakan. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) membangun simpang susun akses menuju KIT Batang yang terhubung dengan Jalan Tol Batang-Semarang. Akses KIT Batang dibangun sepanjang 3,1 kilometer dengan anggaran Rp450 miliar.

Kluster 1 KIT yang menjadi bagian dari kawasan industri terbesar di Jateng ini mengusung tagline creation atau kreasi berupa kawasan industri dan perumahan pekerja, pelabuhan daratan, pelabuhan laut, dan kampus.

Akses jalan menuju KIT Batang. Kementerian PUPR tengah membangun akses jalan tol Trans Jawa yang langsung terhubung dengan KIT Batang. (Andhika)

Dibagi Per Kluster

Klaster 2 bertema inovation atau inovasi, memiliki kawasan industri yang dilengkapi area komersial, taman industri berteknologi tinggi, pusat riset dan pengembangan serta perumahan di perbukitan. “Rest Area 360B berada di Kluster 2 KIT Batang,” kata Dicky.

Kawasan industri terbesar di Jateng ini juga punya area leisure dan edukasi. Lokasinya akan ada di kluster 3 yang terdiri dari kawasan industri, edukasi, pusat gaya hidup, taman hiburan di atas bukit, dan perumahan di perbukitan.

Laporan Perekonomian Jateng menuliskan pengembangan KIT Batang berpotensi meningkatkan kontribusi PDRB Kabupaten Batang khususnya lapangan usaha industri pengolahan. Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Batang relatif stabil selama lima tahun terakhir, yaitu di kisaran 5,0% - 5,7% (yoy).

Sedangkan sektor industri pengolahan yang merupakan kontributor utama perekonomian Kabupaten Batang memiliki pertumbuhan yang cukup berfluktuatif meskipun masih pada tingkat yang cukup tinggi.

Baca Juga: Raup Uang Jutaan/Bulan Berkat Kerja dari Rumah, Pemuda Sragen Ini Ternyata Jualan Suara

Bila Batang bergeliat dengan kawasan industri terbesar di Jateng, Tegal mengoptimalkan potensi bahari mereka setelah infrastruktur tol dan pelabuhan kian memudahkan.

Aktivitas distribusi pangan bahari menjadi lebih cepat ke kota tujuan. Peluang itulah yang ditangkap Wakil Walikota Tegal, Muhammad Jumadi, untuk mengembangkan sister city dengan Belarusia yang fokus pada sektor perikanan.

“Geliat industri perikanan saat Pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung selama satu tahun mulai membaik. Kami sudah rebound, meski masih ada kendala, yakni pelabuhan yang sangat tradisional. Perlu terobosan yang luar biasa,” kata dia, saat ditemui Tim Ekspedisi Tol Trans-Jawa, pada Kamis (29/4/2021).

Pelabuhan Tegal diproyeksikan menjadi pelabuhan berteknologi tinggi. Mimpi itu bisa terwujud apabila ada sinergi dari Pemerintah Kota (Pemkot), Pemerintah Provinsi (Pemprov) dan pusat. Ia menyebut Tegal menjadi satu-satunya daerah di Indonesia yang mengusung tagline Kota Bahari.

Sister City

Kondisi Tempat Pelelangan Ikan atau TPI Tegalsari di Tegal. (Andhika)

“Kota kami ini sekarang jadi kota lintasan. Saat kami berbicara di forum bersama Belarusia, mereka tertarik mewujudkan sister city atau kota kembar. Tapi yang benar-benar ada kerja sama, bukan sekadar wacana. Utamanya, di industri perikanan karena kami kaya akan itu,” beber Jumadi.

Kekayaan bahari Tegal bisa disaksikan di Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Tegalsari, Kota Tegal. Puluhan kapal berukuran sedang mendarat di pangkalan itu dan membongkar muatan.

“Butuh waktu 2-3 bulan bagi kapal untuk menjaring ikan sesuai targetnya. Sekali berangkat modalnya Rp800 juta sampai Rp1 miliar. Biaya itu untuk solar dan perbekalan,” terang salah satu juragan kapal di PPI Tegalsari, Aris.

Juragan kapal lain, Rudi Hartono, mengatakan biaya Rp1 miliar itu untuk kapal ukuran 30 GT (gross tonnage/tonase kapal) dengan alat tangkap cantrang tradisional.

Baca Juga: Mudik Dilarang, Jalan Solo-Jogja Sepi

“Kalau selama dua bulan mereka dapat ikan 10 ton dan lelangnya kena Rp1,5 miliar maka pendapatan kotornya Rp500 juta. Nilai itu dipotong biaya pelelangan, biaya bongkar muat, dan sebagainya tersisa Rp400 juta dibagi lagi kepada pemilik kapal, lalu sampai di anak buah kapal per orangnya masing-masing bisa Rp10-Rp15 juta, tergantung keterampilannya,” ucapnya.

Rudi menyebut saat ini terdapat seribuan kapal berbagai ukuran yang terdaftar di Kota Tegal, di mana 800-an di antaranya adalah kapal berukuran di atas 30 GT.

“Tegal enggak punya pelabuhan kontainer, sehingga kalau mau kirim ikan ke luar negeri dan luar pulau, lewatnya Jakarta, Surabaya, dan Semarang. Jadi, kami bawa dulu lewat jalur darat Tol Trans Jawa ke tiga daerah itu untuk kemudian didistribusikan atau diekspor,” jelasnya.

Share