Tutup Iklan
Djoko Subinarto/Istimewa

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (10/6/2019). Esai ini karya Djoko Subinarto, kolumnis dan bloger. Alamat e-mail penulis adalah djoko@mail.ua.

Solopos.com, SOLO -- Terwujudnya kawasan megapolitan Jogja, Solo, dan Semarang (Joglosemar) diharapkan bukan hanya mampu meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara ke Jogja, Solo, dan Semarang.

Konsep ini hendaknya juga menjadi solusi bagi berbagai persoalan yang saat ini membelit tiga kawasan tersebut sehingga Joglosemar menjadi wilayah yang semakin layak huni dan membuat segenap warganya semakin sejahtera. Bukan malah sebaliknya. 

Sektor pariwisata diyakini dapat menjadi salah satu industri pokok yang menopang secara signifikan perekonomian sebuah negara. Jika direncanakan, dikembangkan, dan dikelola dengan baik, industri pariwisata bukan saja mengucurkan keuntungan devisa yang lumayan besar, tetapi juga menjadi katalis bagi pembangunan negara yang berkelanjutan.

Mengingat manfaatnya yang demikian besar, banyak pengelola negara di berbagai belahan dunia memberi perhatian sangat serius bagi pengembangan sektor industri pariwisata. Sebagai negara yang dianugerahi panorama alam yang elok serta aneka seni serta budaya yang sangat kaya, tentu Indonesia harus bisa memanfaatkan segala potensi wisata yang dimiliki sehingga berdaya guna secara maksimal.

Dalam artikel bertajuk The Surprising Places Where Tourism Is Growing Fastest, Oliver Smith, redaktur wisata The Daily Telegraph, koran terbitan Inggris dengan sirkulasi sekitar 460.054 eksemplar, menyebut Indonesia sebagai salah satu dari 20 negara dengan pertumbuhan sektor pariwisata paling cepat di dunia saat ini.

Sebuah Keniscayaan

Pemerintah Indonesia saat ini sedang gencar membangun yang sebut-sebut sebagai ”10 Tujuan Wisata Bali Baru”. Salah satunya adalah kawasan Joglosemar. Tujuan pokoknya menggaet semakin banyak wisatawan mancanegara untuk datang ke Indonesia.

Oleh karena itu, pemerintah kita saat ini berupaya segera mewujudkan terbentuknya kawasan megapolitan Joglosemar. Langkah konkretnya antara lain lewat penyelesaian pembangunan rel ganda (double track) kereta api di beberapa kawasan sehingga menjadikan penggunaan kereta api berikut layanan kereta api di area Joglosemar bertambah baik.

Selain itu, juga lewat penyelesaian pembangunan New Yogyakarta Internasional Airport serta pembangunan jalur kereta api yang menghubungkan Bandara Adi Soemarmo di Boyolali dengan Stasiun Balapan Solo.

Secara sederhana, megapolitan dapat didefinisikan sebagai suatu kawasan perkotaan yang relatif besar, baik dari ukuran luas wilayah, jumlah penduduk, maupun skala aktivitas ekonomi dan sosial. Menilik perkembangan Jogja, Solo, Semarang, dan sekitarnya saat ini, megapolitan Joglosemar memang sebuah keniscayaan.

Seiring bergeraknya waktu, perubahan Jogja, Solo, serta Semarang yang dahulu kala cuma kota-kota kecil yang relatif sunyi menuju sebuah megapolitan tampaknya memang tidak bisa ditunda-tunda lagi.

Dewasa ini selain sebagai pusat pemerintahan lokal dan destinasi wisata, Jogja, Solo, serta Semarang menjadi pusat beragam jenis aktivitas sosial dan ekonomi dengan perputaran uang sangat tinggi yang akhirnya menyedot banyak kalangan untuk datang dan bermukim di tiga kota ini.

Dampaknya, Jogja, Solo, serta Semarang semakin sesak dan dari waktu ke waktu wajah tiga kota ini terus berubah. Pada saat bersamaan, daerah-daerah lain di sekitar Jogja, Solo, serta Semarang juga terkena imbas dari setiap jengkal perubahan yang terjadi di tiga wilayah kota tersebut.

Masalah Utama Perkotaan

Persoalan-persoalan yang saat ini dihadapi Jogja, Solo, dan Semarang serta daerah-daerah di sekitarnya umumnya hampir sama. Persoalan-persoalan itu antara lain penyediaan rumah layak huni, penyediaan air besih, kemacetan lalu lintas, peningkatan polusi, pengangguran dan penyediaan lapangan kerja, sampah rumah tangga dan limbah industri, pelestarian cagar budaya, ketahanan pangan, pertambahan jumlah warga lanjut usia, akses pendidikan dan layanan kesehatan yang merata bagi segenap warga, meningkatnya kriminalitas, serta bencana (baik yang alami maupun yang dipicu oleh perbuatan manusia).

Tentu saja, dengan terbentuknya megapolitan Joglosemar ada harapan persoalan-persoalan ini dapat teratasi dengan mudah. Dengan demikian, megapolitan Joglosemar menjadi sebuah wilayah yang bukan saja mampu mendongkrak jumlah kunjungan wisatawan mancanegara, tetapi juga menjadikan kehidupan segenap warganya semakin sejahtera dan semakin bahagia.

Terdapat kekhawatiran dari sebagian kalangan bahwa terbentuknya megapolitan Joglosemar bakal makin membuat lingkungan terdegradasi akibat proyek-proyek pembangunan yang lebih berfokus pada kepada aspek ekonomi yang akhirnya dapat mengundang bencana ekologis.

Semoga saja kekhawatiran seperti itu tidak menjadi kenyataan. Bagaimananapun pembangunan dan pengembangan sebuah kawasan harus menjadikan segalanya semakin baik. Bukan malah sebaliknya.

Untuk itulah upaya pengembangan megapolitan Joglosemar wajib memprioritaskan aspek keberlanjutan demi terciptanya keseimbangan ekonomi, sosial, budaya, maupun lingkungan bagi generasi masa kini dan generasi masa mendatang.

Yang tak kalah penting, setiap kebijakan dan layanan publik di megapolitan Joglosemar haruslah selalu responsif terhadap tuntutan serta kebutuhan warga. Di samping itu, juga harus adil. Artinya, segenap warga, tanpa memandang gender, suku, warna kulit, tingkat pendidikan, status sosial, afiliasi politik, keyakinan maupun agama memeroleh akses yang sama ke berbagai layanan kebutuhan dasar seperti kesehatan, pendidikan, pekerjaan, air bersih, sanitasi, dan layanan-layanan publik lainnya.

Partisipasi

Pada saat yang sama, partisipasi publik secara aktif--termasuk partisipasi dari kelompok yang termarginalisasi--dalam proses pembuatan keputusan perlu terus dikuatkan. Partisipasi publik ini perlu dibarengi pengelolaan kawasan yang dilakukan secara transparan oleh semua pemangku kepentingan.

Ini untuk menciptakan iklim keterbukaan dan keterpercayaan sekaligus menegakkan profesionalitas, integritas, serta sebagai modal untuk membangun kolaborasi yang harmonis dari semua pihak dalam menghadapi berbagai persoalan di seluruh wilayah megapolitan Joglosemar.

Di luar hal-hal tersebut, faktor keamanan, baik lahir maupun batin, harus benar-benar terjamin sehingga hak-hak dasar seperti hak hidup, kepemilikan, dan kebebasan dapat dirasakan oleh semua warga, tanpa terkecuali.

Untuk itulah, pengelolaan megapolitan Joglosemar mesti senantiasa menghindari terjadinya aneka konflik maupun bencana, sekecil apa pun. Pada akhirnya, kita berharap pembentukan megapolitan Joglosemar dapat berjalan mulus dan sekaligus menjadi solusi jitu bagi berbagai persoalan yang dihadapi Jogja, Solo, Semarang, dan wilayah-wilayah di sekitarnya.

Dengan begitu, megapolitan Joglosemar menjadi kawasan yang kian layak huni dan membuat setiap warganya kian sejahtera dan kian bahagia, baik lahir maupun batin.

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten