Ronny K. Pratama

Solopos.com, SOLO -- Perkembangan telepon genggam satu dekade terakhir begitu signifikan. Dulu benda canggih yang merapatkan jarak manusia yang terpisah beribu-ribu mil dalam satu ruang dan waktu itu kerap disebut ”telepon genggam”.

Dewasa ini frasa itu berubah menjadi ”telepon pintar”. Kata ”pintar”  menandakan betapa kedudukan strategisnya hampir menyamai kognisi manusia. Terutama dalam menjalankan fungsi komunikasi interaktif.

Sejalan dengan telepon pintar, aplikasi massal berupa media sosial juga makin berkembang. Semula media sosial sekadar arena tegur sapa tekstual, namun kemudian menjadi lebih multidimensional. Teks hingga video yang dipampangkan memediasi sebuah tanda tertentu.

Sebagai contoh, swafoto atau video, dalam konteks warganet kontemporer, menyiratkan suatu kedirian yang eksistensial. Aku selfie maka aku ada. Diri sebagai subjek utama mengetalasekan figur partikular sehingga sedikit banyak mendominasi percakapan media sosial kita.

Terdapat maksim yang cukup terkenal di dunia kajian media, yakni the medium is the message (McLuhan, 1964). Kendati aforisme tersebut populer pada era 1960-an, saya kira secara substansial masih relevan dengan wacana media sosial hari ini.

McLuhan menitikberatkan media bukan sebatas pesan atau konten yang dimuat, melainkan pada formasi (medium) yang mengondisikannya. Dengan kata lain, media sosial tak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi jamak orang, tetapi juga habituasi warganet tentang apa yang sengaja dimungkinkan olehnya.

McLuhan menggarisbawahi medium yang mengonstruksi pesan tak kalah penting. Orang acap kali memfokuskan konten ketimbang format. Di samping itu, kita tahu konsekuensi logis tiap medium—koran, radio, televisi, komputer, maupun telepon pintar—niscaya berbeda.

Yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah apakah betul media sosial sebagai media komunikasi benar-benar dipahami secara positivistik semata? Bagaimana implikasi psikis lain yang dimungkinkan?

Hidup Makin Mekanistis

Kita paham betul kecenderungan diri sendiri sebagai bagian aktif dari dunia Internet. Pola repetitif semacam habis bangun tidur bukan lagi dinyatakan secara klasik seperti ”membereskan kamar tidur atau mandi”, melainkan lekas ”mengecek seberapa banyak notifikasi” di layar muncul.

Kebiasaan demikian dikondisikan tanpa sadar setelah media sosial mengintervensi habituasi kita. Kebiasaan tersebut justru kian sering di sela-sela aktivitas lengang. Membuka media sosial, sekalipun tak ada aktivitas komunikasi yang penting, menjadi tradisi warganet.

Kita terkadang takjub pada hasil survei internasional yang memosisikan tingkat penggunaan media sosial di Indonesia masuk tiga besar terbanyak di dunia. Pertanyaannya, seberapa signifikan media sosial tersebut dalam menunjang kreativitas dan inovasi diri? Tiap individulah yang dapat menjawab secara reflektif.

Kedudukan media sosial tak terlepas dari produk teknologi mutakhir berbasis siber, sehingga secara epistemologis sesungguhnya setarikan napas dengan konsep the technological society (1967yang pernah dirumuskan Jacques Ellul.

Filsuf Prancis ini pernah mengatakan bahwa mesin yang dibuat manusia berimplikasi besar terhadap pola sehari-hari. Mesin, karena itu, memungkinkan perubahan sistem pembagian kerja sampai irama kerja.

Tentu saja tesis Ellul jauh sebelum abad teknologi dan informasi berbasis Internet mengemuka. Ia merumuskan konsep masyarakat teknologis tersebut di tengah era manakala mesin-mesin industri merajai tiap kehidupan manusia.

Sekalipun begitu, kerangka teoretisnya senada dengan teknologi media sosial sekarang yang ditandai dengan tombol-tombol (lunak) berdasarkan aplikasi opersional. Kita lihat saja bagaimana media sosial dijalankan dengan perintah-perintah terentu.

Sekilas perintah tersebut secara otonom dilakukan warganet, tetapi secara makro sebetulnya mereka hanya mengikuti prosedur. Warganet yang kerap merasa menjadi subjek aktif niscaya dikondisikan oleh media sosial. Mereka, pendek kata, sekadar mengikuti aturan main yang disajikan media sosial.

Kondisi Terasing

Eksplanasi itu mencitrakan betapa di dalam masyarakat teknologis, media sosial pada akhirnya bekedudukan otonom. Dengan demikian, bukan media sosial yang harus menyesuaikan diri terhadap warganet, melainkan warganetlah yang menyesuaikan diri terhadap media sosial. Hal itu karena struktur media sosial sebagai teknologi yang serbamekanis. Manusia sesungguhnya mustahil terhindar dari cengkeraman tersebut.

Kondisi semacam itulah yang akhirnya membuat manusia menjadi terasing. Terjadinya alienasi dalam kehidupan warganet memungkinkan mereka terlepas dari identitas fungsional di masyarakat.

Herbert Marcuse (1964) pernah menyatakan manusia dapat kehilangan identitas karena hidup di jagat teknologis dengan kebudayaan yang serba mekanis. Kita makin mafhum gejala media sosial yang terkadang mencemaskan masyarakat itu, di samping merekatkan kohesi sosial, juga menjauhkan orang yang dekat secara fisik. Apakah hidup bebrayan telah bermigrasi total ke dunia digital?

 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten