Mbah Waliyem, penjual kerengan jahe dari Juwiring, Klaten. (Solopos/Moh. Aris Munandar)

Solopos.com, KLATEN Kerengan jahe merupakan makanan tradisional yang mulai langka. Hanya ada beberapa orang yang menjual kuliner ini, salah satunya Mbah Waliyem.

Perempuan tua bertapih batik, barbaju biru, serta menggunakan penutup kepala tersebut duduk di pojok kios lantai II Pasar Kartasura, Sukoharjo, Kamis (12/12/2019). Di depannya terdapat tenggok yang berisi barang dagangan berupa kerengan jahe.

Perempuan tua tersebut bernama Waliyem. Ia merupakan waraga Desa Gondang, Kecamatan Juwiring, Klaten. Usianya 77 tahun. Perempuan tua berambut putih tersebut menjual kerengan, makanan tradisonal yang sudah langka di kalangan masyarakat. Kuliner tradisional ini dibuat dari parutan kelapa, tepung, jahe dan gula jawa.

Tidak setiap hari Mbah Waliyem berjualan di Pasar Kartasura. Kadang dia berjualan di Pasar Gede Solo, Pasar Jongke Solo, Pasar Delanggu Klaten dan lain sebagainya.

“Tidak menentu jualannya, kalau badannya kuat saja. Saya di Kartasura juga tidak menentu, satu minggu kadang tidak ke sini,” kata dia.

Saat berjualan ke wilayah Kartasura dan Solo, ia menggunakan sepeda ontel dari rumahnya sampai ke Delanggu. Dari Delanggu ke Solo, ia naik bus. Hal itu sudah dilakukan selama 20 tahun.

Mbah Waliyem tidak punya kios tetap di pasar. Dia menjajakan dagangannya dengan cara berkeliling. Jika merasa lelah, ia sering bersitirahat di pojok-pojok kios sambil menawarkan dagangannya kepada orang yang lewat di depannya.

“Saya jual sesuai dengan keinginan pembeli. Kadang Rp2.000, ada yang Rp500, dan lain-lain,” ujar dia.

Menurutnya, pembeli kerengan masih lumayan banyak. Kadang ia mendapat pesanan. Tetapi pembuat kerengan di sudah mulai langka. Dia adalah satu-satunya pembuat kerengan jahe yang tersisa di wilayahnya. Dia membuat dan berjualan kerengan demi bisa menginang.

“Kalau di desa saya hanya tinggal saya yang buat. Teman-teman seumuran saya yang dulu buat sudah banyak yang meniggal. Selain itu juga sudah males, karena bikinnya susah. Saya masih terus membuat [kerengan] karena sebagai sumber penghasilan, biar bisa nginang dan beli jajan” terang dia.

Kerengan dibuat selama sehari dengan kesabaran dan ketelitian. Mbah Waliyem harus menahan panasnya api karena adonan diproses dengan cara direbus dalam suhu tinggi. Jika api tidak besar, kerengan tidak bisa cepat matang.

“Jahe, dan gula jawa direbus seperti gulali. Setelah matang dicampurkan tepung. Kemudian ditiriskan dan dihaluskan. Terakhir digariti,” kata dia.

Mbah Waliyem tinggal bersama suaminya yang bekerja sebagai petani. Sedangkan lima anaknya merantau ke berbagai daerah. Di usianya yang sudah senja, ia masih terlihat sehat dan kuat dalam mencari rezeki.

“Yang terpenting nrima ing pandum. Kita harus menyukuri dan menerima segala pemberian Tuhan. Kalau kita menerima, pikiran dan badan kita akan tetap sehat dan kuat,” kata Mbah Waliyem.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten