Bandung Mawardi/Istimewa

Solopos.com, SOLO -- Pada 1-14 Februari 2014, belasan mahasiswa dari pelbagai kota datang ke Bilik Literasi di pinggiran Kota Solo untuk sinau. Mereka nekat mengalami hari-hari berbuku dan penuh omongan. Hari demi hari para tokoh berdatangan untuk mengobrol bersama mereka, memberi rangsangan kepada mereka mengenai kerja keaksaraan.

Seniman, wartawan, sosiolog, peneliti musik, pengarang, dan sutradara bergantian membuat peristiwa sinau bersama di Bilik Literasi saat musim hujan itu menjadi lebih bermakna. Tokoh memberi kejutan dan menebar kata-kata bergelimang renungan adalah Suprapto Suryodarmo alias Mbah Prapto (25 Februari 1945-29 Desember 2019).

Percakapan-percakapan sederhana tapi mengarahkan para mahasiswa memikirkan pasar, candi, kampung, tubuh, dan lain-lain. Sebutan Mbah Prapto adalah sebuah penghormatan. Pada suatu hari, para mahasiswa diajak Mbah Prapto dolan ke Jogja, menghadiri seminar dan diskusi bertema candi. Seharian itu sinau dalam perjalanan, pertemuan, percakapan, dan pemandangan.

Mbah Prapto membujuk mereka untuk sinau tentang Jawa. Mbah Prapto mengundang Elizabeth K. Inandiak untuk hadir di Bilik Literasi. Bujukan manjur. Sore itu hujan. Di ruang yang belum ada jendela dan dingin terasa, Elizabeth K. Inandiak bercakap dengan para mahasiswa itu mengenai Serat Centhini dan segala hal.

Sore itu teh panas menjadi teman kehangatan menunaikan janji sinau tentang Jawa. Peristiwa itu menjadi awal permufakatan Mbah Prapto akan sering dolan ke Bilik Literasi untuk mengobrol dan bersantap gorengan dengan kaum muda. Pertemuan demi pertemuan berlangsung tanpa berfoto bersama.

Di rumah joglo berisi ribuan buku berserakan itu, Mbah Prapto mengimbuhi dengan pemikiran-pemikiran mengesankan berkelindan gairah yang tak mau padam. Ia berseru tentang pasar. Para pembelajar di Bilik Literasi kemudian menanggapi dengan berlagak mengutip tulisan-tulisan Clifford Geertz, Kuntowijoyo, Goenawan Mohamad, St. Sunardi, Titi Surti Nastiti, dan lain-lain.

Pada saat percakapan menjadi panjang bertema kampung, para pembelajar itu lekas memberi tanggapan termutakhir mengacu nasib-nasib kampung setelah kebijakan-kebijakan pemerintah dan kaum pemodal. Mbah Prapto tak mau pamer bacaan atau bersandar pada kutipan-kutipan para pemikir mumpuni. Ia malah seperti bersenandung dengan protes-protes keras demi martabat pasar dan kampung.

Srawung Seni Candi

Pada tema candi, Mbah Prapto mengandalkan acara rutin bersejarah: Srawung Seni Candi. Acara itu terselenggara pada pergantian tahun. Di Candi Sukuh, Mbah Prapto mengajak orang-orang beribadah, berpikir, bergerak, dan berkata. Para seniman dari pelbagai negara mempersembahkan garapan seni. Warga pun menjalankan ritual.

Di sela acara-acara ”berselera” tradisional dan religius, Mbah Prapto mengundang tokoh-tokoh untuk menyampaikan orasi beragam tema. Mereka adalah Endo Suanda, Sumarsam, Seno Gumira Ajidarma, Radhar Panca Dahana, Rahayu Supanggah, dan lain-lain. Saya mengingat orasi Radhar Panca Dahana.

Di tempat tinggi dan dingin, Radhar menanggapi atas album pemikiran Mbah Prapto. Deretan tanggapan berlatar Jawa dengan pembacaan terang dan kritis atas Sosrokartono dan Ki Ageng Suryomentaram. Peristiwa di Candi Sukuh itu berlanjut dengan pertemuan-pertemuan singkat antara saya, Mbah Prapto, dan Radhar Panca Dahana.

Percakapan membedah pemikiran para tokoh masa lalu untuk bekal meladeni abad XXI. Kami berdebat bersumber pemikiran-pemikiran Ronggawarsita, Padmasusastra, Yosodipura II, Paku Buwono IV, Mangkunagoro IV, Mangkunagoro VII, Sosrokartono, Ki Ageng Suryomentaram, Ki Hadjar Dewantara, dan lain-lain.

Mbah Prapto tak pernah capek di pengembaraan biografi tokoh dan pemikiran-pemikiran yang turut mengubah arah peradaban Jawa sejak akhir abad XIX. Mbah Prapto saya kenali sebagai pemikir dan pengoceh, tak selalu menuruti anggapan umum sebagai ”penari” atau tokoh di jagat joget.

Pertemuan-pertemuan di Padepokan Lemah Putih semakin menguatkan kesan keseriusan Mbah Prapto ”membaca” abad XXI. Di situ orang melihat ada tumpukan buku, koran, dan Majalah Tempo. Ia rajin membaca. Tak sungkan memberi komentar atas berita atau opini. Saya sering meladeni gairah menanggapi itu melalui saling mengirim pesan pendek.

Di Solo, Mbah Prapto yang kuat membaca tak pernah dipamerkan saat menghadiri pelbagai pentas seni dan urun omongan di diskusi-diskusi. Saya mulai mengerti Mbah Prapto seperti orang mengamalkan adab percakapan setara, menghindari menang-menangan atau penguasaan arah omongan secara arogan.

Mbah Prapto itu lembut dalam pemilihan diksi untuk terucapkan dan mahir membuat lelucon-lelucon yang kadang-kadang memicu tawa tergelak. Di pelbagai acara intelektul dan seni, Mbah Prapto sering hadir dengan dandanan khas, merokok, dan mesem dalam perjumpaan dengan orang-orang. Ia tampak sebagai manusia Jawa menunaikan misi srawung dan kumandhang.

Panggung Ilmu

Ia luwes dalam pergaulan bersama pejabat, birokrat, akademisi, pedagang, kaum pintar, seniman, kaum muda, dan siapa saja. Tata cara hidup itu mirip pewujudan ”aktual” dari bab-bab dalam Serat Tata Cara  gubahan Ki Padmasusastra. Mbah Prapto berani mengambil risiko dengan mengundang saya untuk memberi orasi di Srawung Seni Candi, memberi kesempatan bagi orang muda menebar kata dan ajakan ke perenungan wajar.

Ia memang berpihak kepada kaum muda. Sekian acara di Padepokan Lemah Putih untuk diskusi, tari, sastra, dan teater menguatkan kesanggupan seniman tua yang ingin berjalan bersama kaum muda. Pada 2014 dan 2015, saya dan kawan-kawan di Bilik Literasi memutuskan sering dolan dan bercakap dengan Mbah Prapto di banyak tempat.

Kami ingin membuat ikhtiar kecil menulis segala hal mengenai Mbah Prapto. Obrolan-obrolan dicatat untuk melestarikan pemikiran-pemikiran yang semakin kokoh, tak mau runtuh. Kesibukan membaca buku-buku dan membuka kliping dari majalah-majalah menguatkan misi menghormati Mbah Prapto.

Sekian bulan, ikhtiar itu berlangsung menghasilkan buku berjudul Tua: 70 Tahun Mbah Prapto terbitan Jagat Abjad (2015). Kami mengutip puisi di buku, ajakan mengingat ketokohan dan peran Mbah Prapto. Puisi berjudul Tarian Pemanggil Kabut gubahan Tulus Widjanarko, pujangga dan wartawan Tempo yang sering meliput Srawung Seni Candi.

aku menjelmakan gerak/ dalam diam begitu abad/ mengheningkan segala/ yang terserak. Mbah Prapto tak pernah lelah membangun ”candi” dari gerak tubuh, doa, dan kata. Ia seperti membuat relief-relief terbaca oleh orang-orang di keheningan tapi bergeliat di perenungan. Indah Darmastuti dalam artikel berjudul Mbah Prapto dan Batu Candi mencatat pemaknaan ala Mbah Prapto bahwa “candi itu panggung ilmu”.

Di candi, orang belajar, berdoa, dan mengenali diri yang sejati. Kini, kita mengartikan Mbah Prapto itu ”candi” untuk diziarahi dengan kemauan sinau tentang Jawa dan peka menanggapi zaman mutakhir. Mbah Prapto pamitan. Ia mewariskan gerak, kata, tatapan mata, dan doa yang dimengerti sebagai ikhtiar menunaikan kodrat sebagai manusia Jawa yang berkelana ke pelbagai negeri.

Ia memang sering bepergian ke Eropa dan Amerika Serikat dengan membawa ”Jawa”,  tersampaikan dengan raga dan kata. Ia selalu kembali ke Jawa, kembali mencari dan menikmati tuk peradaban melalui kemauan bergerak, bercakap-cakap, dan merenung.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten