Mayat Pria Tersangkut Sampah di Bengawan Solo, Ternyata Warga Sragen yang Hilang 4 Hari
Sukarelawan dengan pakaian alat pelindung diri (APD) mengevakuasi jasad Tukiran, 60, warga Pilang, Masaran, yang ditemukan di dasar Sungai Bengawan Solo, tepatnya di Ngadirojo, Sambungmacan, Sragen, Jumat (22/5/2020). (Istimewa/Polsek Sambungmacan)

Solopos.com, SRAGEN -- Mayat seorang pria ditemukan tersangkut sampah di dasar Sungai Bengawan Solo, tepatnya di Desa Ngadirojo, Sambungmacan, Sragen, Jumat (22/5/2020) pagi.

Berdasar ciri-ciri fisiknya, identitas mayat itu dipastikan Tukiran, 60, warga Dukuh Klembon, Desa Pilang, Kecamatan Masaran, Sragen. Tukiran diketahui hilang di Sungai Grompol yang merupakan anak Sungai Bengawan Solo pada Selasa (19/5/2020) petang.

Informasi yang dihimpun Solopos.com, mayat di Bengawan Solo itu kali pertama ditemukan pada pukul 08.00 WIB. Jasad itu ditemukan dalam kondisi tengkurap di dasar sungai yang dipenuhi sampah ranting pepohonan hingga pelepah pisang.

Kabar Gembira! Dinyatakan Sembuh, 7 Pasien Covid-19 di Sragen Bisa Lebaran di Rumah

Dengan memakai pakaian alat pelindung diri (APD), sejumlah sukarelawan mengevakuasi jasad pria yang sudah tidak dikenali wajahnya itu. Selanjutnya, mayat itu dilarikan ke Ruang Jenazah RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen.

“Jasad itu diperkirakan sudah 3-4 hari. Kemungkinan itu orang [Desa Pilang] Masaran yang hanyut empat hari lalu,” jelas Kapolsek Sambungmacan, AKP Joko Widodo, kepada Solopos.com.

Setelah mendengar adanya temuan mayat di Bengawan Solo itu, pihak keluarga Tukiran bergegas ke RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen. Sesampainya di rumah sakit, keluarga memastikan bila mayat di Bengawan Solo itu merupakan Tukiran yang hilang di Sungai Grompol.

Seniman Solo Kolaborasi Bikin Lagu Ndanku Kempot, Lagunya Bikin Mewek

Hal tersebut berdasarkan ciri-ciri fisik Tukiran seperti berkepala plontos, jenis kaus yang dikenakan, dan tinggi badannya. “Sudah dipastikan itu jasad Tukiran berdasar ciri-ciri fisik dan kaus yang dikenakan,” terang Koordinator Lapangan SAR Poldes Sepat, Bambang Sugianto.

Suka Tidur di Dasar Sungai

Tukiran hanyut di Sungai Grompol yang menjadi anak Sungai Bengawan Solo pada Selasa petang. Tukiran yang memiliki gangguan kejiwaan sudah terbiasa tidur di Sungai Grompol sejak tiga tahun terakhir.

Terupdate! Kasus Covid-19 di Sukoharjo Tambah 1 dari Sidorejo Bendosari

Kebetulan di tengah sungai itu terdapat gundukan tanah yang biasa dijadikan tempat bersantai sekaligus tidur bagi Tukiran. Pihak keluarga sudah berusaha membujuk Tukiran supaya menghentikan kebiasaan tidur di sungai itu.

Akan tetapi, ajakan keluarga selalu ditolaknya. Mau tidak mau, pihak keluarga harus mengirim makanan kepada Tukiran setiap hari.

Tukiran kali terakhir masih dijumpai di dasar Sungai Grompol pada Selasa pukul 17.00 WIB. Kala itu pria yang biasa tidur di sungai tersebut mengenakan kaus putih dan bercelana abu-abu.

Kisah Dokter Pasien Covid-19 Wonogiri, Nangis Karena Tak Bisa Salaman dengan Orang Tua

Pria yang mayatnya ditemukan di Bengawan Solo itu asyik menyantap makanan yang dikirim kakaknya Suyatmi. Suyatmi juga sempat membujuk adiknya meninggalkan dasar sungai karena cuaca mendung. Namun, bujukan Suyatmi ditolak. Suyatmi pun meninggalkan Tukiran sendirian di dasar sungai.

Tak lama kemudian, hujan deras mengguyur wilayah Masaran. Hujan itu membuat volume air di Sungai Grompol meningkat. Suyatmi mulai panik. Dia pun menyusul ke sungai untuk mencari Tukiran pada Selasa petang.

Namun, ia tidak menemukan pria yang biasa tidur di sungai itu. Suyatmi lantas melapor ke warga sekitar yang diteruskan ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sragen.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho