Senior Vice President Marketing VIU Myra Suraryo. / solopos.com-Ika Yuniati

Solopos.com, SOLO - Program pengembangan dunia sinema remaja dalam bentuk workshop dan pembuatan film pendek bertajuk Viu Shorts kembali digelar. Menginjak tahun kedua, program inisiatif Viu untuk anak muda ini menambah jumlah kota yang bakal dikunjungi. Dari tujuh belas kota pada 2018 lalu menjadi dua puluh kota pada tahun ini. Salah satu daerah yang menjadi sasaran mereka adalah Kota Solo. Disusul 19 kota lainnya seperti Tangerang, Bekasi, Jakarta, Bandung Barat, Majalengka, Salatiga, Batu, Jambi, dan Merauke.

Program dimulai awal Agustus ini di tiga kota wilayah Jabodetabek. Disusul Kabupaten Klungkung Bali, Selasa (24/9/2019) dan berakhir di Merauke pada Rabu (26/2/2020). Sementara pelaksanaan program di Kota Solo bakal digelar pada pertengahan hingga akhir November tahun ini.

Senior Vice President Marketing VIU Myra Suraryo saat dijumpai belum lama ini mengatakan program Viu Shorts menyasar para remaja khususnya tingkat SMA dan sederajat. Bagian dari regenerasi sineas muda ini diselenggarakan selama tiga pekan di masing-masing wilayah.  Acara bakal dimulai dengan workshop dilanjutkan penggagasan ide untuk membuat film hingga eksekusi shooting. Semua kegiatan mulai proses produksi, distribusi, hingga promosi didukung sepenuhnya oleh Viu.

Semua proses pengambilan gambar dilakukan di kota setempat dengan melibatkan remaja SMA, komunitas film, pemerintah daerah (pemda), dan para sineas senior untuk pendampingan. Selanjutnya proses editing dilakukan di Jakarta untuk memenuhi standarisasi film yang layak tonton hingga level internasional. Harap maklum, karya berdurasi maksimal 10 menit tersebut juga bakal diunggah di laman Viu.com. Tak hanya itu, film juga diputar di beberapa festival bergengsi Indonesia maupun dunia. “Viu memiliki jejaring sebanyak 17 negara. Artinya film mereka bakal dilihat oleh penonton dari 17 negara tersebut,” ujar Myra.

Karya terbaik versi penonton yang dilihat berdasarkan jumlah viewer terbanyak bakal dianugrahi penghargaan. Sementara satu sineas muda berbakat akan diberi beasiswa pendidikan di salah satu kampus seni Jakarta. Setiap film, kata Myra, mengusung tema budaya setempat khususnya tentang mitos. Usulan berasal dari peserta yang kemudian dieksekusi bersama setelah proses kurasi dari tim pendamping. Hal ini dilakukan untuk menumbuhkan kecintaan pada budaya daerah.

Tahun lalu mereka juga mengadakan program serupa di 17 kota. Myra menyontohkan beberapa judul legenda daerah yang mereka usung kala itu. Misalnya cerita tentang abu ajaib di Bojonegoro, Tiga Batu di Kupang, Kalambu sebagai mitos Banjarmasin, dan Kue Kasidah sebagai mitos Siak. Genrenya beragam sesuai dengan karakter setiap daerah. Ada yang mengusung genre horor, drama, komedi, hingga film musikal.

Mitos Siak memperoleh predikat terbaik berdasarkan penilaian jumlah penonton terbanyak. Sebagai permulaan Viu Shorts di Solo, beberapa karya Viu Shorts 2017 turut diputar dalam  acara Festival Film Merdeka (FFM) 2019. Pemutaran tersebut juga sebagai bentuk dukungan mereka pada komunitas film lokal di Indonesia. “Mitos adalah salah satu kekuatan Indonesia. Semua negara punya mitosnya sendiri-sendiri. Itulah mengapa kami memilih ini sebagai tema utama. Ke depan setelah program kami selesai, Pemda setempat melanjutkan dukungan serupa untuk para sineas muda di masing-masing daerah,” kata dia.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten