Sri Rahayu/Istimewa

Solopos.com, SOLO -- Mereka yang memahami dan dapat mengerjakan matematika akan memiliki kesempatan yang lebih luas untuk meraih masa depan. Saat meninggalkan sekolah siswa seharusnya berkeyakinan mampu memahami dan mengerjakan matematika.

Tren pendidikan matematika abad ke-21 menekankan pada inovasi dan keterlibatan matematika dalam masyarakat. Matematika di sekolah  tidak hanya masalah penghitungan, pengukuran, serta pelajaran tentang bilangan, namun mencakup ranah kuantitas, struktur, dan perubahan.

Penggunaan abstraksi dan penalaran deduktif dalam matematika sangat dibutuhkan untuk menghadapi tantangan zaman now. Tujuan pembelajaran matematika yaitu menggunakan matematika dalam kehidupan dengan pemahaman yang benar, penalaran yang terarah, serta pemodelan dan rasio yang tepat untuk memecahkan masalah.

Kemampuan mengeksekusi perhitungan matematika bukan jaminan mencapai tujuan, apalagi dapat menyelesaikan masalah kehidupan. Siswa harus dibekali, diarahkan, dan dilatih supaya mempunyai kemampuan kritis dan kreatif.

Realitas menunjukkan rata-rata kemampuan matematika siswa kita hanya sampai pada level bawah-menengah: remembering, understanding, dan sedikit applying. Berdasarkan tingkat berpikir kognitif Anderson-Krathwohl, soal pada level analyze, evaluate, dan, create belum dapat diselesaikan secara baik.

Hasil PISA beberapa tahun terakhir menunjukkan hal itu. Penilaian yang berfokus pada studi literasi bacaan, matematika, dan ilmu pengetahuan alam ini membidik kompetensi siswa untuk setiap level berpikir. Penerapan higher order thinking skills (HOTS) dalam pembelajaran matematika adalah jawaban atas persoalan rendahnya pencapaian kemampuan berpikir matematika.

Kemampuan Kritis Abad ke-21

HOTS memenuhi kemampuan kritis abad ke-21: creativity-innovation, information literacy, problem solving, responsible citizenship, working collaboratively, dan communicating. HOTS merupakan penggunaan pemikiran non-algoritmik yang kompleks dalam memecahkan masalah dengan cara yang tak terprediksi.

Masalah yang ditampilkan tidak rutin, tidak biasa, mengandung unsur kebaruan, pada umumnya memiliki lebih dari satu pemecahan, atau mempunyai pemecahan tak terbatas.  Thinking out of the box! Pendidikan matematika bukan sekadar mempelajari fakta, tetapi the training of the mind to think (Albert Einstein).

Jika tersedia tujuh kue yang sama, bagaimana cara membagi sama rata untuk 10 anak sehingga setiap anak mendapat dua potong? Menghadapi pertanyaan tersebut, reaksi pertama yang muncul pada siswa adalah komentar ”tidak mungkin”.

Jika ada 10 anak, tentu kue yang tersedia sebanyak kelipatan 10. Lalu mereka mulai merambah operasi pecahan. Jika ada tujuh kue untuk 10 anak, berarti tiap anak mendapat 7/10 bagian. Soal mensyaratkan tiap anak mendapat dua potong, lagi pula bagaimana cara memotong kue-kue tersebut untuk mendapatkan 7/10 bagian?

Pada tahap ini siswa memasuki dunia nyata. Pikiran mereka semakin terbuka setelah membayangkan persoalan tersebut dalam konteks yang sebenarnya. Siswa mendapatkan dua dan lima adalah faktor 10serta 2+5=7.

Di sini terlihat siswa berlatih berpikir kritis. Dapatkah Anda menyelesaikan soal tersebut? Apakah hanya ada satu penyelesaian ? Dunia yang kompetitif untuk mereka yang kreatif dan inovatif. Dunia yang kompleks meminta solusi yang kompleks.

HOTS  membekali siswa cara berpikir yang kreatif, inovatif, dan kompleks. Tindakan yang biasa bisa menjadi tindakan yang kreatif jika diletakkan suatu ide di dalamnya. Berpikir adalah aktivitas mental manusia yang tertinggi.

Dapat Dilatih

Saat siswa mulai bertanya dan mencari jawaban, proses berpikir yang sebenarnya sedang terjadi, dimulai dengan masalah dan berakhir dengan penyelesaian. HOTS dapat dipelajari. Dengan banyak berlatih, HOTS yang ada pada diri siswa dapat dimunculkan, diasah, dikembangkan, serta diperkaya.

Pembelajaran dengan HOTS dapat dimulai dengan memberikan pertanyaan bersifat HOTS. Doronglah siswa antusias berpikir, berikan waktu beberapa saat. Tunjukkan kepada siswa cara untuk mengamati “pemikiran ahli” yang biasanya tersembunyi.

Guru dapat memanfaatkan aneka sumber yang menumbuhkan rasa ingin tahu: potongan koran, artikel majalah, isu hangat, permainan asah otak, kegiatan unik, dan sebagainya. Mempromosikan HOTS kepada siswa bisa juga dengan cara pembelajaran yang tidak biasa, mengaitkan dengan konteks, suatu produk, atau perbaikan solusi.

Pembelajaran matematika menjadi ladang pengembangan keativitas. Proses munculnya kreativitas seumpama menyusun batu bata yang semula berserakan menjadi susunan yang teratur dan rapi. Guru menyajikan sebuah problem. Informasi yang didapat dari problem dan pengetahuan yang dimiliki siswa pada mulanya saling tumpang tindih atau berdiri secara terpisah.

Guru memberi pertanyaan-pertanyaan yang memandu siswa menemukan strategi. Skenario pembelajaran harus mampu memunculkan keterkaitan beragam informasi dan pengetahuan sehingga berkembanglah proses berpikir dan terciptalah ide baru.

Dalam proses menemukan solusi, tidak jarang siswa membuat kesalahan. Sir Ken Robinson, seorang penulis, penceramah, dan konselor pendidikan Inggris, mengatakan if you are not prepare to be wrong, you will not come out with anything original. Siswa perlu dipersiapkan untuk berjumpa dengan kesalahan yang menuntun pada kebenaran.

Berkembang dengan Eksplorasi

Kekeliruan akan menuntun pada penemuan konsep atau teknik atau pengertian yang benar. Siswa akan berkembang dengan setiap eksplorasi dan kesalahan yang dibuat. Bukan lose or win, tetapi learn and win. Pembelajaran dengan HOTS membentuk karakter kerja keras. Biasanya persoalan HOTS tidak selesai dengan sekali berpikir.

Deep thinking memacu siswa gigih mencoba, mengasah, mempertimbangkan, membandingkan, menalar, mempertanyakan, dan mencoba lagi. Siswa tidak lagi menjadi makhluk instan yang menghendaki segala sesuatu langsung jadi, namun mereka akan menghargai proses.

Salah satu ciri persoalan HOTS adalah ada sesuatu yang ”hilang”, informasi yang diberikan tidak lengkap. Tidak semua soal HOTS memerlukan tahap yang panjang, tetapi training of mind tetaplah dilakukan. Dengan HOTS, karakter kerja keras tumbuh dan berkembang, makin luas dan berkualitas.

Pengaruh positif pada siswa yang terbiasa mengerjakan soal HOTS dalam pembelajaran matematika. Penalaran dan logika, penghargaan diri dan karakter, serta kemampuan berkehidupan sosial akan berubah secara signifikan.

Terbinanya karakter yang positif ini akan teraplikasi juga dalam kehidupan siswa sehari-hari. Dengan kemampuan matematika yang memadai, siswa percaya diri menatap masa mendatang. Sangat mungkin akan terbentuk manusia-manusia dengan karakter andal  bagi kemajuan bangsa ini dengan matematika yang HOTS.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten