Joko Priyono/Istimewa

Solopos.com, SOLO -- Ada fakta menarik dalam sejarah penghargaan Nobel, yakni berupa masa ketika peraih hadiah Nobel di bidang sastra justru orang yang berlatar belakang keahlian matematika.

Setidaknya ada dua orang ternama yang mendapatkan penghargaan tersebut. Mereka adalah José Echegary (1904) dan Bertrand Russel (1950). Yang layak dijadikan diskursus adalah mengenai pemaknaan antara sastra dan matematika.

Tidak menutup kemungkianan banyak orang terjerembap dalam kesadaran dominan bahwa dua hal tersebut sangatlah begitu jauh, ibarat antara kutub utara dan kutub selatan yang terpisah jarak yang tak terkira.

Anggapan tersebut kemudian membawa pada kesesatan epistemik banyak orang dalam memamahi matematika. Matematika pada akhirnya hanyalah dianggap sebagai urusan hitung-menghitung. Tidak lebih dari itu.

Berangkat dari hal tersebut, tak salah ketika alumnus Matematika Institut Teknologi Bandung yang menjadi Associate Professor in Applied Mathematics di University of Essex, Inggris, Hadi Susanto, menulis buku berjudul Tuhan Pasti Ahli Matematika (Bentang, 2015).

Tulisan demi tulisan yang terkumpul dalam buku tersebut tak lain merupakan upaya Hadi mengajak pembaca merenungi dan memaknai ulang perihal matematika. Di banyak bagian tulisan, ia mengetengahkan hal-hal penting matematika yang terkadang jarang disinggung dan dipahami oleh publik.

Salah satunya, ia mengungkapkan untuk bisa menikmati dan menghargai matematika tidak hanya diperlukan logika, tetapi juga perasaan, seperti halnya seni dan sastra. Tepatnya pada tulisan yang berjudul Matematika adalah Puisi.

Hal tersebut berangkat dari pengalaman personal sebagai seorang pengajar matematika. Ia juga kerap menulis cerita pendek, bahkan puisi. Hal tersebut yang terkadang membuat banyak orang terheran-heran tatkala berinteraksi dengan dirinya.

Penyair

Kita kemudian diingatkan dengan sosok Omar Khayyam, ahli matematika geometri yang mengoreksi postulat Euclid dan juga terkenal sebagai seorang penyair. Tak diragukan lagi, matematika adalah salah satu puncak kegemilangan intelektual.

Ini sebagaimana pernah ditulis oleh Morris Kline dalam esai yang berjudul Matematika. Di tulisan yang juga termaktub dalam buku Ilmu dalam Perspektif (Gramedia, 1978) itu Morris menjelaskan di samping pengetahuan mengenai matematika itu sendiri, matematika memberikan bahasa, proses, dan teori.

Perhitungan matematis menjadi dasar bagi desain ilmu teknik. Metode matematis memberikan inspirasi kepada pemikiran di bidang sosial dan ekonomi. Pemikiran matematis memberikan warna pada kegiatan seni lukis, arsitektur, dan musik.

Dalam perkembangannya, orang-orang yang memiliki kompetensi maupun kapasitas perihal matematika, saat tampil di ruang publik, tak ketinggalan membawa kepentingan edukasi mengenai matematika. Misalkan saja yang mendaulatkan diri sebagai Presiden Jancukers, Sujiwo Tejo.

Ia yang notabene pernah belajar di dua jurusan sekaligus di Institut Teknologi Bandung, Matematika dan Teknik Sipil, dalam banyak forum kerap menyampaikan matematika itu bukan hanya persoalan hitung-hitungan. Matematika adalah sebuah kesepakatan.

Tentu saja dengan analogi-analogi sederhana berasal dari peristiwa sehari-hari yang mudah dipahami dan jelas bagi audiens. Dalam bentuk karya sastra, Triskaidekaman dengan apik menggarap novel berjudul Buku Panduan Matematika Terapan.

Novel tersebut membawa dia mearih juara I dalam Unnes International Writing Novel Contest 2017 dan kemudian diterbitkan oleh salah satu penerbit mayor pada 2018 lalu. Buku tersebut tentu saja merupakan bagian upaya Triska dalam menyemai pengetahuan kepada publik dengan bingkai sastra dan memosisikan matematika sebagai bentuk bahasa yang dalam kehidupan sehari-hari begitu erat.

Paradigma yang ia bangun adalah mempertegas matematika dapat menjawab setiap pertanyaan demi pertanyaan dalam hidup dengan kisah-kisah. Matematika tak melulu berkaitan tentang rumus, formula, maupun persaman.

Di tengah-tengah perdebatan tentang naik-turun kemampuan matematika dengan bercermin pada lembaga yang dijadikan parameter dalam dunia pendidikan, seperti Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM), SCImago Journal & Country Rank, maupun Program for International Student Assesment (PISA), diperlukan keugaharian dalam mempertegas bahwa matematika sangat luas dalam hakikat maupun makna di pelbagai ruang pengetahuan maupun kehidupan.

Formula hingga Aksioma

Dalam dinamika perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin cepat dan dinamis, matematika tidak akan pernah lekang dalam andil di setiap subcabang keilmuan. Peranan matematika dalam konteks ilmu sains adalah sebagi wujud bahasa berupa formula matematis hingga aksioma, yang melalui hal tersebut para ilmuwan berpijak pada kajian empiris.

Mereka kemudian melakukan interpretasi atas apa yang didapatkan dan berlanjut pada penyusunan prediksi maupun hipotesis. Di kalangan para ilmuwan dikenal istilah postulat. Meskipun berdasar pada metode deduksi—dalam menjamin keabsahan fakta maupun kebenaran baru, melalui konsep penalaran matematika juga memerhatikan beberapa cara menarik kesimpulan, seperti pengamatan, pengukuran, intuisi, imajinasi, induksi, bahkan metode coba-coba.

Peranan matematika dalam ranah ilmu sosial pernah diketengahkan oleh John G. Kemeny melalui esai panjang yang berjudul Matematika Tanpa Bilangan, Matematika untuk Ilmu-ilmu Sosial. Dalam tulisan tersebut, ia memperkenalkan empat model konsep penerapan teorema matematika dalam memaknai yang berkaitan fenomena sosial.

Metode ini tak terlepas dari kenyataan ilmu-ilmu sosial terkadang tidak mempunyai pengukuran dengan menggunakan bilangan dan pengertian terkait ruang lingkup yang terkadang tidak relevan. Konsep yang ia tawarkan antara lain adalah teori grafik, cabang dari geometri yang dapat digunakan dalam mengetahui keseimbangan struktural di suatu kelompok sosial, teori gugus.

Teori gugus adalah cabang dari aljabar yang melalui konsep gugus transformasi dapat memaknai ihwal tipe perkawinan yang terjadi di dalam masyarakat serta mempermudah menyusun kebutuhan urutan prioritas maupun peringkat hingga teori numerik sederhana sebagai penyusunan jaringan komunikasi yang terjadi dari interaksi antara satu individu dengan individu lain.

Matematika menjadi salah satu bahasa yang tidak akan terlepas perannya di banyak lapisan ilmu yang bersifat murni maupun terapan. Kendati demikian, sebagai bagian dari konsep ilmu yang juga memiliki hierarki, apa yang dikatakan oleh matematika tidak semata-mata merupakan kebenaran mutlak.

Dalam proses penggunaannya, matematika tidak akan terlepas dari kekeliruan yang bisa saja memerlukan koreksi. Dengan kata lain, ketika ada sebuah teori dengan data yang lengkap ketimbang teori sebelumnya, perlu peninjauan ulang maupun koreksi atas apa yang tersaji di teori sebelumnya itu.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten