Masjid Tiban Tempurkali, Bukti Sejarah Penyebaran Islam di Wonogiri Selatan
Tokoh agama Kecamatan Baturetno, Wonogiri, Deddy Al-Jawi (kiri) dan tokoh agama atau sesepuh di Tempurkali, Desa Bulurejo, Kecamatan Giriwoyo, Mulyono, saat membuka peninggalan Alquran dari Kiai Nur Muhammad di Masjid Tiban Tempurkali, Minggu (10/5/2020). (Istimewa)

Solopos.com, WONOGIRI - Jejak Islam di wilayah Wonogiri bagian selatan ditandai dengan adanya sebuah masjid yang terletak di Dusun Tempurkali, Desa Bulurejo, Kecamatan Giriwoyo, Wonogiri. Lokasinya sekitar 50 kilometer dari pusat Kota Wonogiri.

Masyarakat sekitar menyebutnya dengan Masjid Ar-Rahman, atau lebih sering dikenal dengan sebutan Masjid Tiban Tempurkali. Masjid tersebut menyimpan bukti sejarah perjuangan ulama dalam menyebarkan Islam.

Pada Minggu (10/5/2020), tepatnya saat Ramadan, salah seorang tokoh agama di Kecamatan Baturetno, Wonogiri, Deddy Al-Jawi dan tokoh agama atau sesepuh di Tempurkali, Mulyono, mengkaji asal-muasal masjid tiban tersebut.

Kenormalan Baru Diharapkan Bisa Menggeliatkan Bisnis Properti

Berdasarkan cerita masyarakat dan keterangan dari sejumlah tokoh agama setempat, keberadaan masjid tersebut tidak lepas dari peran tokoh penyebar Islam di Wonogiri bagian selatan, yakni Kiai Nur Muhammad Balepanjang. Balepanjang sendiri merupakan nama desa di Baturetno yang terdapat makam Kiai Nur Muhammad.

Ia mengatakan, Masjid Tiban Tempurkali didirikan oleh salah satu santri dari Kiai Nur Muhammad, yakni Kiai Zein. "Kiai Zein merupakan santri yang disenangi atau dikasihi Kiai Nur Muhammad. Ia diperintahkan untuk berdakwah ke wilayah Giriwoyo bagian timur. Karena Kiai Zein dianggap sudah mempunyai ilmu agama yang mumpuni," kata Deddy saat dihubungi Solopos.com, Jumat (29/5/2020).

Susur Sungai

Saat melakukan perjalanan ke Giriwoyo bagian timur, Kiai Zein menyusuri aliran Sungai Pakem, pembatas wilayah Kecamatan Giriwoyo dengan Kecamatan Baturetno. Kiai Zein juga dibekali Al-Quran dan kayu oleh Kiai Nur Muhammad. Kayu tersebut dimaksudkan untuk digunakan membangun masjid.

Selama beberapa hari menelusuri sungai, Kiai Zein tiba di suatu wilayah. Tempat tersebut merupakan pertemuan antar dua aliran sungai. Kemudian wilayah tersebut dinamakan Tempurkali, yang saat ini menjadi nama dusun. Di tempat tersebut, Kiai Zein mendirikan masjid dengan kayu yang dibekali Kiai Nur Muhammad. Masjid tersebut lantas digunakan untuk berdakwah Islam.

Susi Pudjiastuti Jualan Kaus, Malah Dihujat karena Kemahalan

Dalam pendirian masjid, tidak ada warga sekitar yang mengetahui proses pembangunannya. Pada malam hari warga hanya mendengar suara orang yang sedang menatah kayu. Pada paginya, warga menyaksikan telah berdiri sebuah masjid di tempat tersebut. Maka warga menyebutnya dengan masjid tiban, karena tiba-tiba ada masjid.

Diperkirakan masjid tersebut dibangun pada 1728. Tetapi, sebagain bangunan masjid sudah direnovasi dan penambahan fasilitas seperti tempat untuk Taman Pendidikan Alquran (TPA) pada 1980. Tetapi bagian kerangka atas dan tiang penyangga masjid masih utuh atau asli.

Peninggalan

Sejarah penyebaran Islam di Tempurkali diperkuat dengan adanya peninggalan Alquran. Kitab suci tersebut terbuat dari kulit sapi dan ditulis dengan tangan oleh Kiai Nur Muhammad. Dibagian sampulnya tertera tulisan tahun 1700 Masehi.

"Saat ini Alquran tersebut masih tersimpan dan dibungkus menggunakan dua lapis kain, yaitu kain kafan putih dan kain berwana merah. Kitab tersebut berukuran sebesar stopmap. Setiap ayat yang ditulis tangan menggunkan arab pegon [arab jawa]" ujar dia.

Ditahan di Nusakambangan, Habib Bahar bin Smith Cukur Rambut

Sementara itu, warga juga meyakini bahwa bedug peinggalan Kiai Zein mempunyai kesakralan. Jika ada warga yang mengalami sakit gigi, dengan hanya mencuil sebagian kayu bedug kwmudian digigit pada gigi yang sakit akan sembuh.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho