MASJID SEWULAN : Inilah Rahasia di Balik Bangunan Kuno Masjid Agung Sewulan Madiun (bagian I)
Masjid Sewulan, salah satu masjid bersejarah tinggi peninggalan ulama besar Kiai Ageng Basyariah. (JIBI/Solopos/Aries Susanto)

Masjid Sewulan di Kecamatan Dagangan, Madiun menyimpan sejumlah rahasia ajaran Islam.
Solopos.com, MADIUN – Jika kaki menginjakkan pelataran Masjid Agung Sewulan, niscaya sepasang mata akan menemukan sudut-sudut bangunan yang unik. Selain itu, juga akan menemukan sejumlah pohon dan tanaman yang barangkali sudah jarang ditemukan saat ini. Di balik itu semua, sesungguhnya ada kandungan makna mendalam tentang ajaran Islam.
Madiun Pos bersama Komunitas Pecinta Sejarah Madiun Raya (Kompas Madya) menyempatkan diri berziarah ke masjid kuno peninggalan Kiai Ageng Basyariah di Kecamatan Dagangan, Madiun tersebut, Minggu (28/9/2015). Ditemani Muhammad Baidhowi, penerus sekaligus pemerhati sejarah dan situs sewulan, tim ziarah sejarah mencoba mencari titik terang kondisi terkini situs yang dibangun pada rentang 1740-an tersebut.
Pertama ialah sebuah pintu gapura yang berdiri tegak di pelataran Masjid Sewulan. Gapura ini dibangun bukan sekadar untuk penambah estetika, melainkan menyimpan rahasia ajaran Islam. Gapura yang berasal dari bahasa arab ghofura atau ampunan memiliki filosofi ajaran bahwa manusia diharapkan tak henti memohon ampunan Gusti Allah setiap hari.
Hal ini juga bermakna bahwa sebelum manusia bersujud di masjid, ia melewati pintu ampunan gapura dengan menyucikan batin terlebih dahulu kepada Sang Pencipta.
Di depan masjid, pandangan mata akan tertuju pada sejumlah pohon Sawo Kecik. Sawo Kecik yang berasal dari kata sarwo becik—penuh kebaikan—adalah tamsilan bagi laku hidup manusia yang selalu dihiasi kebaikan. Hal ini menyiratkan pesan bahwa perhiasan manusia yang sesungguhnya ialah perilaku kebaikan.
Tepat di depan serambi masjid, ada kolam pesucian. Kolam pesucian ini menarik sebab secara tak langsung seseorang yang ingin masuk ke dalam masjid sudah membasuh kedua kakinya terlebih dahulu tanpa ia sadari.
Selain mengandung rahasia ajaran kesucian hati, bangunan ini juga menunjukkan betapa Kiai Ageng Basyariah memiliki strategi dan kebijaksanaan yang luas dalam mengajarkan Islam. Ia menunjukkan dan mengajak orang kepada jalan Tuhan, namun yang diajak tak merasa digurui. Hal itu diibaratkan seperti mengajak orang bersuci tanpa harus menyinggung atau merasa diperintah untuk bersuci. (bersambung )



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya









Kolom