Masjid Besar Kauman Sragen. (Moh. Khodiq Duhri)

Solopos.com, SRAGEN — Masjid Besar Kauman di Kampung Kauman, RT 026/RW 008, Kelurahan Sragen Wetan, Sragen, dibangun pada 1826 silam. Namun, bangunan masjid itu tak termasuk bangunan cagar budaya. Renovasi yang menghilangkan bangunan asli menjadi penyebab.

Dibangun tak jauh dari Sungai Garuda yang dipenuhi pepohonan rindang membuat udara di sekitar masjid terasa lebih sejuk. Di salah satu masjid tertua di Sragen inilah sejumlah pegawai kantor atau perusahaan biasa beristirahat sejenak sambil menunggu azan Salat Zuhur dikumandangkan.

Sejak didirikan K.H. Hasan Zainal Mustofa pada 1826, bangunan fisik dari Masjid Besar Kauman sudah mengalami banyak perombakan. Hasan Zainal Mustofa merupakan salah satu tokoh penyebar agama Islam di Bumi Sukowati asal Jawa Timur. “Waktu saya kecil, masjid ini masih memiliki kubah besar yang dilengkapi dua menara kecil di kanan dan kirinya. Pada 2014, bangunan masjid dirombak total. Dulunya satu lantai, sekarang diubah menjadi dua lantai,” ucap Ahmad Nuryanto, 50, yang memiliki garis keturunan kelima dari K.H. Hasan Zainal Mustofa saat ditemui Solopos.com di kompleks Masjid Besar Kauman Sragen, Senin (6/5/2019).

Pada saat Yanto masih kecil, jemaah Masjid Besar Kauman belum banyak seperti sekarang ini. Saat itu jemaah Masjid Besar Kauman hanya warga sekitar. “Dulu kalau ada panggilan salat lima waktu, jemaahnya paling hanya 7-10 orang. Sekarang, jemaah salat lima waktu bisa sampai ratusan. Sekarang saat Salat Jumat, ada sekitar 500 anggota jemaah. Masjid penuh sampai kami kesulitan mengatur lahan parkir,” ucap Yanto.

Masjid Besar Kauman Sragen masih kental dengan tradisi budaya Nahdliyin. Masjid ini rutin dipakai untuk kegiatan zikir, tahlil dengan pengajian umum setiap malam Jumat dan Minggu pagi. Bagi yang ingin menjalankan Salat Tarawih dan Salat Witir di Bulan Ramadan dengan 23 rakaat, bisa datang ke Masjid Kauman Sragen.

Tradisi Nahdliyin juga tampak dalam kegiatan Salat Jumat yang memakai dua kali panggilan azan. “Oleh K.H. Hasan Zainal Mustofa, tradisi ke-NU-an memang diminta tetap dilestarikan di masjid ini,” terang Yanto.

Masjid Besar Kauman Sragen bukanlah masjid tertua di Kabupaten Sragen. Masih ada Masjid Ki Ageng Butuh di Kecamatan Plupuh yang didirikan sekitar 1765. Namun, Masjid Besar Kauman menjadi tempat bersejarah yang menjadi saksi masukya agama Islam ke Bumi Sukowati.

“Disebut Masjid Kauman karena dulu masjid ini menjadi tempat tinggal kaum santri yang belajar agama Islam. Ini sama persis dengan Masjid Kauman Masaran. Dulu, dua masjid itu memang digunakan untuk kepentingan menyebarkan agama Islam di Bumi Sukowati,” terang Kasi Cagar Budaya dan Permuseuman, Disdikbud Sragen, Anjarwati Sri Sayekti.

Meski menjadi salah satu masjid tertua di Sragen, Masjid Besar Kauman tidak ditetapkan sebagai benda cagar budaya (BCB). Penyebabnya bangunan arsitektur masjid sudah berubah total sejak direnovasi pada 2014 silam.

“Sentuhan arsitektur bangunan lama yang masih tersisa itu hanya lengkungan pada pintu masuk bagian depan. Jendela kanan dan kiri dan bagian mihrab sudah berubah. Soko atau pilar utama memang masih dipakai, tetapi sudah ditinggikan dengan tambahan beton untuk menyesuaikan desain bangunan berlantai dua. Jadi, bangunan masjid itu sudah mendapat sentuhan arsitektur bergaya modern,” jelas Anjarwati.

Tim ahli yang berhak melakukan kajian cagar budaya baru dibentuk pada 2017. Oleh karena itu, tidak ada pihak yang mengarahkan supaya renovasi Masjid Besar Kauman pada 2014 tidak merusak sentuhan arsitektur dari bangunan lama.

“Masjid Besar Kauman direnovasi sebelum tim ahli cagar budaya dibentuk di Sragen. Karena sudah berubah total, Masjid Besar Kauman tidak ditetapkan sebagai BCB,” kata Anjar.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten